Kompas.com - 22/09/2021, 17:04 WIB
Ilustrasi madu. Keaslian madu bisa dites dengan air. SHUTTERSTOCK/Anna_PustynnikovaIlustrasi madu. Keaslian madu bisa dites dengan air.

KOMPAS.com - Pemalsuan produk pangan banyak terjadi di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Pemalsuan produk pangan adalah bentuk pemalsuan atau penipuan yang banyak digunakan pada beberapa produk pangan mentah atau olahan.

"Pemalsuan ini masih saja marak terjadi di negara kita. Baik untuk produk lokal maupun impor, peluang terjadinya pemalsuan itu memang sangat besar," tutur Executive Director of LPPOM MUI, Ir. Hj. Muti Arintawati, M.Si dalam webinar “Food Fraud Prevention, dari Izin Edar hingga Label Halal, Selasa (21/9/2021).

Baca juga:

Ilustrasi susu murni. SHUTTERSTOCK \/BEATS1 Ilustrasi susu murni.

1. Mengubah bahan baku dan memalsukan label merek

Menurut Muti, food fraud atau pemalsuan pangan bisa dilakukan dari beberapa sisi oleh oknum tertentu.

Mengubah bahan baku produk pangan hingga memalsukan label merek produk pangan ternama adalah dua contoh pemalsuan pangan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Peluang itu bisa berupa sisi bahan baku dari suatu produk, yaitu suatu produk yang diklaim menggunakan bahan baku A tetapi oleh produsen mungkin digunakan produk berkualitas B," ujar Muti.

Contoh pemalsuan produk pangan bisa terjadi pada madu yang ditambah dengan air gula atau susu segar ditambah air.

"Suatu produk tertentu yang memang sudah dikenal luas masyarakat tetapi oleh pihak lain itu diklaim atau ada produk tertentu yang diklaim sebagai produk lain sehingga tentunya produk itu dipalsukan dan labelnya juga dipalsukan," pungkasnya.

Baca juga:

ilustrasi rak produk pangan halal di supermarket. SHUTTERSTOCK/Jacky D ilustrasi rak produk pangan halal di supermarket.

2. Pemalsuan logo halal MUI

Bukan hanya pemalsuan kualitas makanan dari sisi yang sudah disebutkan, menggunakan logo halal tanpa verifikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau auditor, juga termasuk jenis pemalsuan produk pangan.

"Bisa juga dari sisi logo halal, suatu perusahaan tidak punya sertifikat halal tetapi kemudian mengklaim produknya dan mencantumkan logo halal pada label produknya," kata Muti.

Muti menilai bahwa pemalsuan produk pangan akan sangat merugikan banyak pihak, termasuk produsen yang dipalsukan dan konsumen.

"Konsumen akan membeli produk yang tidak sesuai harapannya, dengan informasi yang didapatkan pada label suatu produk," ucap Muti.

Baca juga:

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.