Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tidur Bersama Pasangan Disebut Lebih Menyehatkan, Studi Ini Jelaskan

Kompas.com - 14/06/2022, 19:30 WIB
Zintan Prihatini,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

Sumber WebMD

KOMPAS.com - Studi baru menemukan, bahwa orang dewasa yang tidur bersama dengan pasangannya, cenderung tidak memiliki insomnia parah, kelelahannya lebih sedikit, dan waktu tidurnya lebih lama.

Peserta penelitian juga melaporkan lebih puas dengan kehidupan dan hubungannya, serta memiliki tingkat stres, depresi, dan kecemasan yang lebih rendah.

Sedangkan, tidur sendirian dikaitkan dengan tingkat depresi yang lebih tinggi, dukungan sosial yang lebih rendah, serta kepuasan hidup dan hubungan yang lebih buruk.

"Meskipun Anda tidur di sebelah seseorang yang mungkin mendengkur dan berguling-guling, itu (tidur bersama pasangan) memiliki manfaat," ujar direktur Program Penelitian Tidur dan Kesehatan di University of Arizona, Tucson sekaligus peneliti studi, Michael Grandner.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Jam Tidur Terganggu, Kok Bisa?

Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Sleep, para peneliti menggunakan data dari 1.007 orang dewasa usia produktif di Pennsylvania.

Hasilnya menunjukkan, peserta yang tidur dengan pasangannya bisa tertidur lebih cepat, durasi tidur yang lebih lama, dan jarang mengalami sleep apnea.

Seperti dilansir dari WebMD, Jumat (10/6/2022), temuan ini bertentangan dengan penelitian di laboratorium sebelumnya. Peneliti menyatakan bahwa tidur bersama menyebabkan waktu tidur lebih singkat, serta gerakan pasangan cenderung menyebabkan aktivitas di otak.

Kendati begitu, Grandner berkata, peserta dalam studinya mengaku merasa lebih positif ketika tidur di ranjang yang sama bersama pasangannya.

Dia menduga, munculnya rasa aman dan sosialisasi kemungkinan berkaitan dengan hal tersebut. Mungkin pada tingkat tertentu, lanjutnya, orang merasa lebih aman ketika ada orang dewasa lain di sampingnya.

Para peneliti menggarisbawahi kondisi ini bisa berbeda-beda pada setiap orang. Jika pasangan menyebabkan orang tersebut merasakan stres, maka mereka akan mengalami dampak yang sebaliknya.

"Sulit untuk diuraikan dalam penelitian seperti ini, tetapi setidaknya apa yang dilakukan penelitian ini, menunjukkan bahwa ada hubungan, kita bisa mulai menebak ke arah mana arahnya, dan kemudian kita bisa mulai mendalaminya," kata Grandner.

Baca juga: 8 Dampak Kurang Tidur yang Bisa Terjadi pada Tubuh

Sementara itu, profesor di Stanford University di California Dr Rafael Pelayo menyampaikan temuan terbaru itu sejalan dengan analisis yang telah dilakukannya.

Pelayo, yang tidak terlibat dalam penelitian, mencatat pada zaman dahulu, tidur secara berkelompok adalah cara untuk tetap aman dari pemangsa.

"Tidur adalah perilaku yang dipelajari. Itulah sebabnya, pasangan cenderung memilih satu sisi tempat tidur dan tidak mengubahnya. Satu orang cenderung tidur lebih ke tepi dan satu lebih ke dalam," ungkapnya.

Ketika Anda telah memiliki pasangan suami atau istri, seiring berjalannya waktu tidur bersama akan membangun kepercayaan satu sama lain.

Berdasarkan pengalamannya, banyak pasien yang melaporkan tidak bisa tidur dengan nyenyak saat pasangan mereka pergi.

Baca juga: Kualitas Tidur yang Buruk Bisa Gagalkan Program Diet, Kok Bisa?

Grander menemukan fakta lain terkait peserta penelitian yang tidur dengan anak-anak. Mereka melaporkan lebih sering mengalami insomnia, stres, dan kesehatan mental yang lebih buruk keesokan harinya.

Peserta yang tidur di ranjang yang sama dengan anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami sleep apnea, maupun insomnia.

Sejauh ini, masih belum diketahui mengapa anak-anak bisa menyebabkan gangguan tidur pada orangtuanya.

Dia pun menyarankan agar penelitian di masa depan dapat menyelidiki, apakah tidur jika berbagi kamar tetapi tidak satu tempat tidur lebih baik, daripada tidur di satu kasur berukuran besar.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber WebMD
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com