Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Balon Mata-mata China Ternyata Beberapa Kali Lintasi Langit AS di Era Trump

Kompas.com - 08/02/2023, 17:45 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber Guardian

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Sebuah balon mata-mata China melayang melewati Hawaii dan melintasi Florida dalam tugasnya mengelilingi dunia pada tahun 2019.

Ini terjadi empat tahun sebelum militer Amerika menembak jatuh balon lainnya akhir pekan lalu, menurut laporan intelijen angkatan udara AS yang ditinjau oleh CNN.

China meluncurkan dan mengendalikan balon ketinggian tinggi, yang mampu beroperasi pada 65.000 kaki hingga 328.000 kaki selama berbulan-bulan pada tahun 2019.

Baca juga: Pentagon: Beijing Tolak Telepon untuk Bahas Balon Mata-mata China

Laporan itu tidak menjelaskan kapan AS mengetahui balon 2019.

Dilansir dari Guardian, berita tentang laporan intelijen itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China dan percekcokan partisan di antara politisi AS atas balon China yang melintasi AS, sebelum ditembak jatuh di atas Samudra Atlantik.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menunda perjalanan yang direncanakan ke Beijing setelah balon itu terlihat.

China, yang mengeklaim bahwa balon itu terlibat dalam pengamatan cuaca dan telah diterbangkan, menyebut tanggapan AS tidak dapat diterima dan tidak bertanggung jawab.

Pada hari Selasa (7/2/2023), Kementerian Pertahanan AS mengatakan bahwa Beijing menolak permintaan panggilan aman antara kepala Pentagon, Lloyd Austin, dan timpalannya dari China pada pekan lalu, ketika sebuah pesawat perang Amerika menembak jatuh balon tersebut.

“Pada hari Sabtu, 4 Februari, segera setelah mengambil tindakan untuk menjatuhkan balon China, kami mengajukan permintaan panggilan aman antara Sekretaris Austin dan Menteri Pertahanan Nasional RRC Wei Fenghe,” kata Brigjen Pat Ryder.

“Sayangnya, China telah menolak permintaan kami. Komitmen kami untuk membuka jalur komunikasi akan terus berlanjut,” tambah Ryder.

Baca juga: Imbas Balon Terbang, Perselisihan Diplomatik China-AS Kembali Keruh

Sementara itu, pertikaian politik dalam negeri AS telah memanas, dengan fokus pada saat AS menyadari penggunaan balon udara oleh China.

Setelah politisi Partai Republik mengkritik Gedung Putih Biden karena tidak segera menembak jatuh balon tersebut, pejabat Pentagon mengatakan bahwa China telah mengirim tiga balon ke wilayah AS selama Donald Trump berada di Oval Office.

Trump dan mantan menteri pertahanannya Mark Esper membantah mengetahui kasus-kasus seperti itu.

Seorang pejabat administrasi Biden mengatakan insiden tersebut baru diketahui setelah Biden menjabat.

Baca juga: Balon Korea Utara Sempat Terlihat Terbang di Atas Korea Selatan

Penasihat keamanan nasional, Jake Sullivan, mengatakan bahwa peningkatan kemampuan pengawasan AS yang dilakukan di bawah Biden telah meningkatkan kapasitas untuk dapat mendeteksi hal-hal yang tidak dapat dideteksi oleh pemerintahan Trump.

“Kami dapat kembali dan melihat pola sejarah,” kata Sullivan, yang mengungkapkan beberapa contoh balon China memasuki wilayah udara AS selama pemerintahan Trump.

Angkatan Laut AS menggunakan kendaraan bawah air tak berawak untuk menemukan puing-puing yang tenggelam dari balon, yang menurut VanHerck tersebar di area berukuran sekitar 1500m kali 1500m, dengan kedalaman air sekitar 50 kaki.

Baca juga: Serba-serbi Balon Mata-mata China yang Diketahui Sejauh Ini

FBI dan Dinas Investigasi Kriminal Angkatan Laut berpartisipasi dalam upaya mengumpulkan puing-puing.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Sumber Guardian

Terkini Lainnya

Pertama Kali, Ukraina Tembak Jatuh Pesawat Pengebom Rusia

Pertama Kali, Ukraina Tembak Jatuh Pesawat Pengebom Rusia

Global
Rangkuman Hari Ke-785 Serangan Rusia ke Ukraina: Penembakan Rusia di Donetsk Timur | DPR AS Jadwalkan Voting Bantuan Ukraina

Rangkuman Hari Ke-785 Serangan Rusia ke Ukraina: Penembakan Rusia di Donetsk Timur | DPR AS Jadwalkan Voting Bantuan Ukraina

Global
Badan Atom Internasional: Tak Ada Kerusakan di Situs Nuklir Iran

Badan Atom Internasional: Tak Ada Kerusakan di Situs Nuklir Iran

Global
Israel Serang Iran, Ledakan Terdengar di Kota Isfahan, Ada Apa di Sana?

Israel Serang Iran, Ledakan Terdengar di Kota Isfahan, Ada Apa di Sana?

Global
Australia Minta Warganya Tinggalkan Israel dan Palestina

Australia Minta Warganya Tinggalkan Israel dan Palestina

Global
Kota Isfahan Iran Dilaporkan Tenang dan Aman Pascaledakan Diduga Serangan Israel

Kota Isfahan Iran Dilaporkan Tenang dan Aman Pascaledakan Diduga Serangan Israel

Global
Jawaban Militer Israel Saat Ditanya soal Serangan dan Ledakan di Iran 

Jawaban Militer Israel Saat Ditanya soal Serangan dan Ledakan di Iran 

Global
Posisi Yordania Terjepit Setelah Ikut Tembak Jatuh Rudal Iran

Posisi Yordania Terjepit Setelah Ikut Tembak Jatuh Rudal Iran

Internasional
Iran Klaim Tembak Jatuh Drone, Sebut Tak Ada Serangan Rudal

Iran Klaim Tembak Jatuh Drone, Sebut Tak Ada Serangan Rudal

Global
3 Ledakan Terdengar Dekat Pangkalan Udara Iran, Kemungkinan Serangan Balasan Israel

3 Ledakan Terdengar Dekat Pangkalan Udara Iran, Kemungkinan Serangan Balasan Israel

Global
Alasan AS Veto Resolusi soal Keanggotaan Penuh Palestina di PBB

Alasan AS Veto Resolusi soal Keanggotaan Penuh Palestina di PBB

Global
Israel Balas Serangan, Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara, Ledakan Terdengar di Isfahan

Israel Balas Serangan, Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara, Ledakan Terdengar di Isfahan

Global
Pria Polandia Ditangkap atas Dugaan Rencana Pembunuhan Zelensky

Pria Polandia Ditangkap atas Dugaan Rencana Pembunuhan Zelensky

Global
Hal yang Dikhawatirkan Terjadi, Israel Serang Balik Wilayah Iran 

Hal yang Dikhawatirkan Terjadi, Israel Serang Balik Wilayah Iran 

Global
Pemilu India Dimulai Hari Ini, Narendra Modi Incar Masa Jabatan Ketiga

Pemilu India Dimulai Hari Ini, Narendra Modi Incar Masa Jabatan Ketiga

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com