Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Ada yang Bicara Perubahan Iklim di Pemilu India, Apa Sebabnya?

Kompas.com - 11/05/2024, 21:36 WIB
Aditya Jaya Iswara

Editor

Penulis: Midhat Fatimah/DW Indonesia

NEW DELHI, KOMPAS.com - Ketika Sungai Yamuna di India yang mengalir melalui wilayah ibu kota negara meluap tahun lalu, New Delhi berada dalam keadaan darurat banjir.

Pada puncak krisis, Bhagwati Devi, seorang warga India yang menjalankan pertanian sayuran kecil di dataran rendah Yamuna di pinggiran New Delhi, harus dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

"Kami menghabiskan sepanjang malam terdampar di pohon sebelum kami dievakuasi,” kata Bhagwati.

Baca juga: India Tangkap 4 Orang yang Dituduh Selundupkan Orang untuk Jadi Tentara Rusia di Ukraina

Perempuan berusia 37 tahun itu mengatakan, dia menghabiskan minggu-minggu berikutnya dalam kondisi yang buruk di jalan raya ibu kota karena gubuknya hanyut, serta banyak barang miliknya.

Mata pencaharian Devi hilang selama berbulan-bulan karena tanamannya hancur akibat banjir.

Pakar lingkungan menyalahkan curah hujan tinggi di negara bagian India utara dan perencanaan kota yang buruk sebagai penyebab banjir di New Delhi.

Tahun ini, Devi akan memberikan suaranya pada pemilu nasional yang sedang berlangsung. Namun, karena tidak menyadari fenomena ilmiah perubahan iklim yang mendatangkan malapetaka dalam kehidupan sehari-harinya, hal tersebut tidak akan memengaruhi pilihannya.

Kasus Devi bukanlah kasus yang aneh, karena bukti berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa isu perubahan iklim jarang terlihat dalam politik pemilu di India.

Mengapa lingkungan hidup tidak menjadi isu hangat dalam pemilu?

Para ahli mengatakan bahwa wacana mengenai perubahan iklim sebenarnya tidak hilang di India, hanya saja berbeda.

"Politik perubahan iklim di India tidak diberi label yang tepat sebagai 'perubahan iklim', tetapi bukan berarti perubahan iklim tidak membentuk politik India,” kata Aditya Valiathan Pillai, peneliti di Sustainable Futures Collaborative yang berbasis di New Delhi, sebuah organisasi penelitian perubahan iklim independen.

"Dalam manifesto partai, banyak janji sektoral yang terkait dengan iklim, tetapi tidak termasuk dalam bab iklim,” katanya.

Menghubungkan setiap titik

Aarti Khosla, pendiri Climate Trends, sebuah inisiatif konsultasi berbasis penelitian di India, menjelaskan bahwa bagi banyak orang, perubahan iklim tidak pernah menjadi masalah, tetapi perubahan iklim menjadi masalah jika hal tersebut membuat masalah lain menjadi lebih parah.

"Kami terus berpikir bahwa politik iklim hanya ada ketika ada semacam Partai Hijau di Barat atau ketika terminologi ‘perubahan iklim' digunakan dalam manifesto,” katanya.

"Saya rasa perubahan iklim tidak akan ditangani seperti itu di India dalam waktu dekat.”

Halaman:

Terkini Lainnya

[POPULER GLOBAL] 20 Penumpang Singapore Airlines di ICU | Israel Kian Dikucilkan

[POPULER GLOBAL] 20 Penumpang Singapore Airlines di ICU | Israel Kian Dikucilkan

Global
 Pertama Kali, Korea Utara Tampilkan Foto Kim Jong Un Beserta Ayah dan Kakeknya

Pertama Kali, Korea Utara Tampilkan Foto Kim Jong Un Beserta Ayah dan Kakeknya

Global
Penumpang Singapore Airlines Dirawat Intensif, 22 Cedera Tulang Belakang, 6 Cedera Tengkorak

Penumpang Singapore Airlines Dirawat Intensif, 22 Cedera Tulang Belakang, 6 Cedera Tengkorak

Global
Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk, Operasi Kemanusiaan Hampir Gagal

Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk, Operasi Kemanusiaan Hampir Gagal

Global
Nikki Haley, Saingan Paling Keras Trump Berbalik Arah Dukung Trump

Nikki Haley, Saingan Paling Keras Trump Berbalik Arah Dukung Trump

Global
Rusia Serang Kharkiv, Ukraina Evakuasi 10.980 Orang

Rusia Serang Kharkiv, Ukraina Evakuasi 10.980 Orang

Global
Menerka Masa Depan Politik Iran Setelah Kematian Presiden Raisi

Menerka Masa Depan Politik Iran Setelah Kematian Presiden Raisi

Global
Ongkos Perang Ukraina Mulai Bebani Negara Barat

Ongkos Perang Ukraina Mulai Bebani Negara Barat

Global
Israel Mulai Dikucilkan Negara-negara Eropa, Bisakah Perang Segera Berakhir?

Israel Mulai Dikucilkan Negara-negara Eropa, Bisakah Perang Segera Berakhir?

Global
Rangkuman Hari Ke-819 Serangan Rusia ke Ukraina: Pemulangan 6 Anak | Perebutan Desa Klischiivka

Rangkuman Hari Ke-819 Serangan Rusia ke Ukraina: Pemulangan 6 Anak | Perebutan Desa Klischiivka

Global
China 'Hukum' Taiwan yang Lantik Presiden Baru dengan Latihan Militer

China "Hukum" Taiwan yang Lantik Presiden Baru dengan Latihan Militer

Global
UPDATE Singapore Airlines Alami Turbulensi, 20 Orang Masuk ICU di RS Thailand

UPDATE Singapore Airlines Alami Turbulensi, 20 Orang Masuk ICU di RS Thailand

Global
Rusia Duduki Lagi Desa yang Direbut Balik Ukraina pada 2023

Rusia Duduki Lagi Desa yang Direbut Balik Ukraina pada 2023

Global
AS-Indonesia Gelar Lokakarya Energi Bersih untuk Perkuat Rantai Pasokan Baterai-ke-Kendaraan Listrik

AS-Indonesia Gelar Lokakarya Energi Bersih untuk Perkuat Rantai Pasokan Baterai-ke-Kendaraan Listrik

Global
Inggris Juga Klaim China Kirim Senjata ke Rusia untuk Perang di Ukraina

Inggris Juga Klaim China Kirim Senjata ke Rusia untuk Perang di Ukraina

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com