Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Thailand Bersiap Hadapi Masuknya Pengungsi Myanmar akibat Perintah Wajib Militer

Kompas.com - 19/02/2024, 14:45 WIB
Irawan Sapto Adhi

Editor

Penulis: Tommy Walker/VOA Indonesia

BANGKOK, KOMPAS.com - Thailand bersiap menghadapi masuknya pengungsi setelah militer Myanmar baru-baru ini mengumumkan undang-undang wajib militer.

Para analis berpendapat Pemerintah Thailand seharusnya menempatkan mereka yang melarikan diri dari Myanmar ke zona aman.

Pekan lalu, militer Myanmar mengaktifkan Undang-undang Wajib Militer Rakyat.

Baca juga: Usai Diumumkan Wajib Militer, Ribuan Pemuda Antre Visa untuk Tinggalkan Myanmar

Berdasarkan undang-undang itu, laki-laki berusia 18-45 tahun dan perempuan berusia 18-35 tahun dapat didaftarkan untuk menjalani wajib militer selama dua tahun.

Personel tertentu dalam profesi spesialis, seperti dokter dan insinyur, harus mengabdi selama tiga tahun. Dalam keadaan darurat nasional, wajib militer dapat diperpanjang hingga lima tahun.

Pihak militer mengatakan perintah wajib militer tersebut penting mengingat konflik yang berlangsung dengan kelompok pemberontak di negara itu.

Para analis berpendapat perintah tersebut terjadi karena junta kesulitan merekrut anggota baru dan menghadapi tantangan terbesarnya di medan perang.

Deklarasi wajib militer mulai berlaku pada 13 Februari. Junta berencana memasukkan 5.000 orang per bulan mulai April mendatang, dan menerima 60.000 pendaftaran militer baru setiap tahun.

Video yang beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir menunjukkan antrean panjang orang yang mengajukan visa di Kedutaan Besar Thailand di Yangon.

Baca juga: Myanmar Berlakukan Wajib Militer, Ribuan Pemuda Berusaha Tinggalkan Negara

Media lokal melaporkan bahwa kedutaan mengeluarkan 400 tiket per hari.

Khin Ohmar, pendiri kelompok hak asasi manusia Progressive Voice Myanmar, mengatakan banyak anak muda yang pergi untuk menghindari wajib militer.

Setidaknya 27 warga Myanmar telah ditangkap di Tak, Thailand utara, oleh satuan tugas perbatasan Thailand.

Eleven Media Myanmar melaporkan, ke-27 orang itu diduga melintasi perbatasan secara ilegal.

Myanmar telah dilanda kekacauan sejak kudeta militer pada Februari 2021, yang ditentang keras oleh penduduk Myanmar.

Politisi yang digulingkan dan pemimpin daerah telah membentuk Pemerintahan Persatuan Nasional atau NUG, sementara tindakan keras militer telah memicu perlawanan bersenjata dari kelompok oposisi dan etnis.

Thailand dan Myanmar berbagi perbatasan sepanjang 2.414 kilometer. Ini memudahkan para pengungsi Myanmar menyeberang ke tempat yang aman.

Baca juga: Junta Myanmar Berlakukan Wajib Militer bagi Anak Muda

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Serangan Iran Berkelanjutan, Tembakkan 200 Drone, Rudal Balistik, dan Rudal Jelajah ke Israel

Serangan Iran Berkelanjutan, Tembakkan 200 Drone, Rudal Balistik, dan Rudal Jelajah ke Israel

Global
Dampak Terkini Serangan Iran ke Israel, Rusak Pangkalan Militer

Dampak Terkini Serangan Iran ke Israel, Rusak Pangkalan Militer

Global
Usai Luncurkan Serangan, Iran: Ini Konflik dengan Israel, AS Harus Menjauh

Usai Luncurkan Serangan, Iran: Ini Konflik dengan Israel, AS Harus Menjauh

Global
Serangan Iran ke Israel: Sirene Meraung, Hujan Ledakan, Anak 10 Tahun Terluka Parah

Serangan Iran ke Israel: Sirene Meraung, Hujan Ledakan, Anak 10 Tahun Terluka Parah

Global
Rangkuman Hari ke-779 Serangan Rusia ke Ukraina: Situasi Timur Ukraina Memburuk | Dasar Baru Perdamaian Rusia-Ukraina?

Rangkuman Hari ke-779 Serangan Rusia ke Ukraina: Situasi Timur Ukraina Memburuk | Dasar Baru Perdamaian Rusia-Ukraina?

Global
Lebih dari 100 Drone Iran Hujani Israel, Pertahanan Udara Israel Berpotensi Kesulitan Menghalau

Lebih dari 100 Drone Iran Hujani Israel, Pertahanan Udara Israel Berpotensi Kesulitan Menghalau

Global
Iran Luncurkan Drone dan Rudal Balistik ke Israel, Tandai Awal Serangan Militer

Iran Luncurkan Drone dan Rudal Balistik ke Israel, Tandai Awal Serangan Militer

Global
[UNIK GLOBAL] Pasien Pertama Cangkok Ginjal Babi | Pria Tertua di Dunia Berusia 111 Tahun

[UNIK GLOBAL] Pasien Pertama Cangkok Ginjal Babi | Pria Tertua di Dunia Berusia 111 Tahun

Global
Putri CEO Berusia 6 Tahun Beri Nilai Satu Bintang Ke Etihad Airways, Ini Respons Hangat Maskapai

Putri CEO Berusia 6 Tahun Beri Nilai Satu Bintang Ke Etihad Airways, Ini Respons Hangat Maskapai

Global
Penikaman Massal Mal Sydney: Belum Ada Indikasi Terorisme, Motif Masih Diselidiki

Penikaman Massal Mal Sydney: Belum Ada Indikasi Terorisme, Motif Masih Diselidiki

Global
UPDATE Penikaman Massal di Mal Sydney: Korban Tewas Jadi 7 Orang, WNI Diimbau Hindari Keramaian 

UPDATE Penikaman Massal di Mal Sydney: Korban Tewas Jadi 7 Orang, WNI Diimbau Hindari Keramaian 

Global
Google Blokir Tautan Outlet Berita California dari Hasil Pencarian

Google Blokir Tautan Outlet Berita California dari Hasil Pencarian

Global
Kronologi dan Cerita Saksi Mata Penikaman Massal di Mal Sydney yang Tewaskan 5 Orang

Kronologi dan Cerita Saksi Mata Penikaman Massal di Mal Sydney yang Tewaskan 5 Orang

Global
Penikaman Massal di Mal Sydney, 5 Orang Tewas, Pelaku Ditembak Mati

Penikaman Massal di Mal Sydney, 5 Orang Tewas, Pelaku Ditembak Mati

Global
Meksiko Beri Peringatan Pascatemuan 'Obat Zombie' di Kota Perbatasan

Meksiko Beri Peringatan Pascatemuan "Obat Zombie" di Kota Perbatasan

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com