Presiden Tunisia Perpanjang Kondisi Darurat Tanpa Batas, Oposisi Serukan Kekhawatiran

Kompas.com - 26/08/2021, 10:17 WIB
Presiden Tunisia Kais Saied (tengah) saat memimpin rapat keamanan bersama anggota militer dan polisi di Tunis, ibu kota Tunisia, Minggu (25/7/2021). Tentara memblokade gedung parlemen Tunisia dan melarang masuk Ketua DPR Rached Ghannouchi masuk pada Senin (26/7/2021), setelah Saied membekukan parlemen dan memecat perdana menteri yang oleh kubu oposisi disebut sebagai kudeta Tunisia. AP PHOTO/SLIM ABIDPresiden Tunisia Kais Saied (tengah) saat memimpin rapat keamanan bersama anggota militer dan polisi di Tunis, ibu kota Tunisia, Minggu (25/7/2021). Tentara memblokade gedung parlemen Tunisia dan melarang masuk Ketua DPR Rached Ghannouchi masuk pada Senin (26/7/2021), setelah Saied membekukan parlemen dan memecat perdana menteri yang oleh kubu oposisi disebut sebagai kudeta Tunisia.

TUNIS, KOMPAS.com - Partai terbesar di parlemen Tunisia menyuarakan keprihatinan atas apa yang disebutnya ambiguitas seputar masa depan negara itu, setelah presiden memperpanjang tindakan darurat tanpa batas yang pertama kali diumumkan sebulan lalu.

Partai moderat Ennahda Islamis, awalnya menyebut perebutan kekuasaan pemerintahan dan pembekuan parlemen oleh Presiden Tunisia Kais Saied sebagai kudeta, namun baru-baru ini hanya menggambarkan tindakan itu sebagai pelanggaran konstitusional.

Baca juga: Militer Tunisia Nyatakan Dukungan atas Pengambilalihan Kekuasaan oleh Presiden Kais Saied

Sebulan setelah intervensi Saied, dia belum menunjuk perdana menteri atau pemerintah baru atau mengumumkan apa yang dia rencanakan selanjutnya.

Sementara itu, berkembang spekulasi luas bahwa dia berencana menggambar ulang konstitusi demokratis 2014.

Senin malam (23/8/2021), kantor kepresidenan Tunisia mengatakan Saied memperpanjang tindakan tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Kemudian menambahkan, dia akan memberikan pidato dalam beberapa hari mendatang.

Krisis konstitusional Tunisia meletus ketika negara Afrika Utara itu berjuang menghadapi kondisi ekonomi yang mengerikan. Ancaman yang menjulang terhadap keuangan publik, satu dekade setelah revolusi 2011 yang memperkenalkan demokrasi di negara itu.

Amerika Serikat (AS) dan Perancis, serta partai politik Tunisia dan serikat buruh yang kuat, telah mendesak Saied untuk segera menunjuk pemerintah dan membuat sketsa rencana untuk masa depan negaranya.

Namun intervensinya tampaknya mendapat dukungan rakyat Tunisia secara luas.

Baca juga: Presiden Tunisia Janji Dirinya Takkan Jadi Diktator setelah Tangkap Anggota Parlemen

Selama sebulan terakhir, Saied menggantikan pejabat senior di pemerintah pusat dan daerah, badan keamanan dan badan lainnya.

Pada Selasa (24/82021), selama pertemuan dengan menteri perdagangan yang diunggah sebagai video oleh kantor kepresidenan, dia membenarkan memperluas tindakannya dengan menyerang parlemen.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peluncuran 5G Berdampak Pembatalan Penerbangan Menuju AS

Peluncuran 5G Berdampak Pembatalan Penerbangan Menuju AS

Global
Israel Gusur Satu Keluarga Palestina di Sheikh Jarrah dan Hancurkan Rumahnya

Israel Gusur Satu Keluarga Palestina di Sheikh Jarrah dan Hancurkan Rumahnya

Global
8 Kerajaan Terbesar dalam Sejarah Dunia, Wilayah Kekuasaannya Membentang Lintas Benua

8 Kerajaan Terbesar dalam Sejarah Dunia, Wilayah Kekuasaannya Membentang Lintas Benua

Internasional
Potong Kurban Sambil Mabuk, Seorang Imam Salah Sasar Kepala Orang Bukan Kambing

Potong Kurban Sambil Mabuk, Seorang Imam Salah Sasar Kepala Orang Bukan Kambing

Global
Jam Kerja Sudah Habis, Pilot Ini Menolak Terbang Lagi Setelah Pesawat Mendarat Darurat

Jam Kerja Sudah Habis, Pilot Ini Menolak Terbang Lagi Setelah Pesawat Mendarat Darurat

Global
Ini Strategi Taiwan Jika China Benar-benar Menyerang

Ini Strategi Taiwan Jika China Benar-benar Menyerang

Global
Austria Iming-imingi Warganya Lotre Agar Mau Divaksin Covid-19

Austria Iming-imingi Warganya Lotre Agar Mau Divaksin Covid-19

Global
10 Negara yang Pendapatan Warganya Tertinggi di Dunia

10 Negara yang Pendapatan Warganya Tertinggi di Dunia

Global
AS Bagikan 400 Juta Masker Berkualitas Tinggi Gratis untuk Rakyatnya

AS Bagikan 400 Juta Masker Berkualitas Tinggi Gratis untuk Rakyatnya

Global
Israel Borong 3 Kapal Selam dari Jerman, Harganya Rp 48 Triliun

Israel Borong 3 Kapal Selam dari Jerman, Harganya Rp 48 Triliun

Global
Paha Mengalihkan Perhatian Sopir, Perempuan Uganda Dilarang Naik Truk di Kursi Depan

Paha Mengalihkan Perhatian Sopir, Perempuan Uganda Dilarang Naik Truk di Kursi Depan

Global
Temukan Surat Cinta Misterius di Mobil, Istri Campakkan Suami Saat Ulang Tahun Pernikahan

Temukan Surat Cinta Misterius di Mobil, Istri Campakkan Suami Saat Ulang Tahun Pernikahan

Global
Joe Biden Belum Berencana Cabut Tarif Barang-barang dari China

Joe Biden Belum Berencana Cabut Tarif Barang-barang dari China

Global
Madame Tussauds Pajang Patung Lilin Joe Biden dan Kamala Harris

Madame Tussauds Pajang Patung Lilin Joe Biden dan Kamala Harris

Global
Beijing Peringatkan Kapal Perang AS Pergi dari Laut China Selatan

Beijing Peringatkan Kapal Perang AS Pergi dari Laut China Selatan

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.