Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inggris Cabut Visa Mahasiswa Pro-Palestina yang Protes Perang Gaza

Kompas.com - 11/05/2024, 14:57 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber Al Jazeera

LONDON, KOMPAS.com - Inggris telah mencabut visa seorang mahasiswi Palestina setelah ia berpartisipasi dalam demonstrasi pro-Palestina di kampusnya.

Dana Abuqamar mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Kementerian Dalam Negeri Inggris mencabut visanya dengan alasan bahwa ia dianggap sebagai ancaman keamanan nasional, setelah pernyataan yang ia buat pada protes tahun lalu.

"Selama genosida ini, Kementerian Dalam Negeri Inggris memutuskan untuk mencabut visa pelajar saya menyusul pernyataan publik yang mendukung hak Palestina untuk beraktivitas di bawah hukum internasional untuk melawan penindasan dan menerobos pengepungan yang dilakukan secara ilegal di Gaza selama lebih dari 16 tahun," ujar Abuqamar, yang memimpin komunitas Friends of Palestine di University of Manchester.

Baca juga: 9 Negara yang Tolak Dukung Palestina Jadi Anggota PBB di Sidang Majelis Umum PBB

"Kebebasan berekspresi adalah hak asasi manusia yang mendasar, namun tampaknya tidak berlaku bagi etnis minoritas, khususnya Muslim dan Palestina seperti saya," tambahnya.

Tahun lalu, mahasiswi hukum berusia 19 tahun ini mengungkapkan bahwa ia telah kehilangan 15 anggota keluarganya selama perang Israel di Gaza.

Abuqamar, yang berada di tahun terakhir studinya, berbicara tentang rasa bangga pada sebuah acara pro-Palestina tahun lalu, setelah serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel.

"Kami sangat gembira dengan apa yang terjadi," katanya.

Namun, ia kemudian mengatakan kepada BBC bahwa komentarnya disalahartikan dan bahwa kematian warga sipil yang tidak bersalah tidak boleh dimaafkan.

Hamas, kelompok yang berkuasa di Gaza, melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Israel selatan pada tanggal 7 Oktober.

Dalam serangan tersebut, 1.390 orang terbunuh dan ratusan lainnya ditawan.

Baca juga: 143 Negara Dukung Palestina Jadi Anggota PBB, AS dan Israel Menolak

Hal ini secara tajam meningkatkan konflik bersejarah Israel-Palestina, memicu perang terbaru dan paling mematikan di Gaza.

Hingga saat ini, sekitar 35.000 warga Palestina telah terbunuh di jalur tersebut, sebagian besar menjadi puing-puing.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri mengatakan kepada Al Jazeera dalam sebuah pernyataan bahwa mereka tidak mengomentari kasus-kasus individual.

Baca juga: Terkait Status Negara, Palestina Kini Bergantung Majelis Umum PBB

Namun, mereka menambahkan bahwa izin tinggal dapat dicabut dalam kasus-kasus di mana seseorang terlibat dalam perilaku yang tidak dapat diterima atau ekstremis, seperti kegiatan yang menumbuhkan kebencian, yang dapat menyebabkan kekerasan atau keterkaitan dalam terorisme.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com