Cerita Pegawai Pemerintah Afghanistan, Ditelpon Komandan Taliban dan Diperintah Kembali Kerja

Kompas.com - 26/08/2021, 09:47 WIB
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada wartawan di Kabul pada Selasa (24/8/2021) bahwa Taliban sedang mengerjakan prosedur bagi pekerja pemerintah wanita untuk kembali ke pekerjaan mereka, tetapi untuk saat ini mereka harus tinggal di rumah karena alasan keamanan. AP PHOTO/RAHMAT GULJuru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada wartawan di Kabul pada Selasa (24/8/2021) bahwa Taliban sedang mengerjakan prosedur bagi pekerja pemerintah wanita untuk kembali ke pekerjaan mereka, tetapi untuk saat ini mereka harus tinggal di rumah karena alasan keamanan.

KABUL, KOMPAS.com - Ashraf Haidari, seorang ekonom di Kementerian Keuangan Afghanistan, sedang menunggu dengan cemas di rumah ketika mendapat telepon, yang ternyata dari Taliban.

Telepon itu langsung dari seorang komandan Taliban yang memerintahkannya kembali bekerja. Maksudnya agar dia bisa membantu menjalankan negara begitu "orang asing gila" pergi, bunyi perintah itu merujuk sekutu barat.

Baca juga: Eks Menteri Afghanistan yang Jadi Kurir Pizza Bergelar Ganda S2 Oxford

Seperti ribuan orang lain yang bekerja untuk pemerintahan yang didukung Barat, yang tergusur penaklukan kilat milisi Taliban di Afghanistan, Haidari mengaku khawatir dia mungkin menjadi korban pembalasan.

Menurutnya, di ujung lain telepon adalah seorang komandan Taliban, yang mendesak Haidari kembali ke kementeriannya, di mana dia bekerja mengalokasikan dana ke 34 provinsi negara itu.

"Dia mengatakan jangan panik atau mencoba bersembunyi, para pejabat membutuhkan keahlian Anda untuk menjalankan negara kami setelah orang asing gila pergi," ujar Haidari (47 tahun) kepada Reuters dilansir Rabu (25/6/2021).

Untuk menyesuaikan dengan norma-norma pemerintahan Taliban sebelumnya, ketika mereka secara brutal menegakkan interpretasi hukum Islam yang ketat, Haidari menumbuhkan janggut.

Setelah panggilan telepon pada Minggu (22/8/2021), dia menukar jasnya dengan jubah tradisional Afghanistan untuk bertemu dengan bos barunya.

Baca juga: Bayi Afghanistan yang Lahir di Pesawat Evakuasi AS Dinamai Reach, Sesuai Kode Penerbangan

Reuters berbicara dengan tiga pejabat tingkat menengah lainnya di kementerian keuangan dan bank sentral Afghanistan. Mereka mengatakan diberitahu oleh Taliban untuk kembali bekerja, karena negara itu menghadapi pergolakan ekonomi dan kekurangan uang tunai.

Sohrab Sikandar, yang bekerja di departemen pendapatan kementerian keuangan Afghanistan, mengatakan dia tidak melihat rekan perempuannya sejak dia kembali ke kantor.

Selama pemerintahan Taliban 1996-2001, perempuan tidak bisa bekerja, harus menutupi wajah mereka dan ditemani oleh kerabat laki-laki jika mereka ingin keluar rumah.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Nasib Pasukan Ukraina yang Menyerah dari Mariupol Tidak Jelas, Bisa Jadi Tawanan Rusia?

Nasib Pasukan Ukraina yang Menyerah dari Mariupol Tidak Jelas, Bisa Jadi Tawanan Rusia?

Global
Putin: Embargo Minyak Rusia oleh Uni Eropa Sama Saja Bunuh Diri

Putin: Embargo Minyak Rusia oleh Uni Eropa Sama Saja Bunuh Diri

Global
Parlemen Finlandia Bilang 'Ya' untuk Gabung NATO

Parlemen Finlandia Bilang "Ya" untuk Gabung NATO

Global
Terus Dihantui Mimpi Buruk, Komplotan Pencuri Mengembalikan Patung Jarahannya ke Kuil Kuno

Terus Dihantui Mimpi Buruk, Komplotan Pencuri Mengembalikan Patung Jarahannya ke Kuil Kuno

Global
Hari-hari Pamungkas McDonald's di Rusia, Antre Panjang untuk Big Mac Terakhir, Rela Berkendara 250 Km

Hari-hari Pamungkas McDonald's di Rusia, Antre Panjang untuk Big Mac Terakhir, Rela Berkendara 250 Km

Global
Terdesak Kebutuhan dan Kebuntuan Sanksi, Uni Eropa Izinkan Pembelian Gas Rusia Diteruskan

Terdesak Kebutuhan dan Kebuntuan Sanksi, Uni Eropa Izinkan Pembelian Gas Rusia Diteruskan

Global
Wanita Ini Menyamar Jadi Pria Selama 36 Tahun demi Bisa Besarkan Anak dengan Aman

Wanita Ini Menyamar Jadi Pria Selama 36 Tahun demi Bisa Besarkan Anak dengan Aman

Global
Singapura Sebut Alasan UAS Ditolak Masuk, Tuding Ajarkan Ekstremisme

Singapura Sebut Alasan UAS Ditolak Masuk, Tuding Ajarkan Ekstremisme

Global
Anggota Parlemen Inggris Ditangkap Polisi, Diduga Lakukan Pemerkosaan

Anggota Parlemen Inggris Ditangkap Polisi, Diduga Lakukan Pemerkosaan

Global
Rusia Sebut Tak Akan Biarkan Perang Dunia 3 Pecah, tetapi dengan Syarat

Rusia Sebut Tak Akan Biarkan Perang Dunia 3 Pecah, tetapi dengan Syarat

Global
Tersangka Penembakan Massal Bermotif Rasialis Undang Orang untuk Tinjau Rencana Serangannya

Tersangka Penembakan Massal Bermotif Rasialis Undang Orang untuk Tinjau Rencana Serangannya

Global
 WHO: Wabah Covid-19 di Korea Utara Ciptakan Risiko Kemunculan Varian Baru

WHO: Wabah Covid-19 di Korea Utara Ciptakan Risiko Kemunculan Varian Baru

Global
Penyelidik Selidiki Kemungkinan Kecelakaan Pesawat China Eastern Disengaja

Penyelidik Selidiki Kemungkinan Kecelakaan Pesawat China Eastern Disengaja

Global
Rusia Tuding Negosiator Ukraina Dikendalikan oleh AS dan Inggris

Rusia Tuding Negosiator Ukraina Dikendalikan oleh AS dan Inggris

Global
AS Ajak Sekutu di Eropa Bersama-sama Hadapi Praktik Ekonomi China yang Merugikan

AS Ajak Sekutu di Eropa Bersama-sama Hadapi Praktik Ekonomi China yang Merugikan

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.