Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fakta-fakta di Balik Demo Mahasiswa AS Tolak Perang di Gaza

Kompas.com - 06/05/2024, 15:28 WIB
BBC News Indonesia,
Aditya Jaya Iswara

Tim Redaksi

NEW YORK CITY, KOMPAS.com - Gedung-gedung milik puluhan perguruan tinggi di seluruh Amerika Serikat telah diambil alih oleh mahasiswa yang memprotes serangan Israel ke Gaza.

Ratusan mahasiswa pengunjuk rasa ditangkap aparat kepolisian ketika pihak universitas berupaya menyingkirkan tenda-tenda pedemo di halaman Gedung kampus, beberapa hari sebelum seremoni wisuda.

Baca juga: Protes Pro-Palestina Menyebar di Kampus-kampus Australia, Negara Sekutu Israel Lainnya

Apa alasan unjuk rasa para mahasiswa meluas?

Mahasiswa melancarkan aksi unjuk rasa, aksi duduk, mogok makan, dan yang terbaru, menggelar perkemahan menentang perang serangan Israel ke Gaza.

Mereka menuntut agar pimpinan universitas mereka, yang sebagian besar memiliki dana abadi dalam jumlah besar, melakukan divestasi finansial dari Israel.

Divestasi adalah tindakan menjual saham perusahaan-perusahaan Israel atau memutuskan hubungan keuangan.

Para mahasiswa tersebut mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang melakukan bisnis di Israel atau dengan organisasi-organisasi Israel turut terlibat dalam serangan Israel ke Gaza.

Perguruan tinggi yang berinvestasi di perusahaan tersebut, menurut mereka, tak terlepas dari tanggung jawab atas serangan itu.

Dana abadi universitas membiayai segala urusan kampus, mulai dari penelitian berbasis laboratorium hingga beasiswa. Sebagian besar dana abadi itu berasal dari pengembalian investasi jutaan bahkan miliaran dolar AS.

Baca juga: Lebih dari 2.000 Pengunjuk Rasa Pro-Palestina Ditangkap di Kampus-kampus AS

Apa yang terjadi di University of Columbia?

Pengunjuk rasa menduduki gedung tempat mereka mendirikan perkemahan di kampus Fordham University Lincoln Center, New York City, 1 Mei 2024.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Pengunjuk rasa menduduki gedung tempat mereka mendirikan perkemahan di kampus Fordham University Lincoln Center, New York City, 1 Mei 2024.
Awal April lalu, ketika Presiden University of Columbia, Minouche Shafik, memberikan kesaksian di depan Kongres tentang dugaan antisemitisme di kampus, ratusan mahasiswa mendirikan tenda di kampus mereka yang berada di New York.

Para mahasiswa menuntut gencatan senjata di Gaza dan meminta para pemimpin universitas untuk melakukan divestasi dari Israel.

Pihak universitas menuding protes mahasiswa tersebut melanggar kebijakan kampus. Mereka memanggil aparat kepolisian untuk membubarkan protes tersebut. Lebih dari 100 siswa kemudian ditangkap atas tuduhan memasuki area kampus tanpa izin.

Para aktivis mahasiswa belakangan berkumpul kembali. Unjuk rasa mereka telah memasuki minggu ketiga. Kelas tatap muka telah dihentikan.

Negosiasi dengan organisasi mahasiswa gagal dan beberapa penahanan terhadap demonstran ditangguhkan.

Selasa lalu eskalasi unjuk rasa meningkat ketika mahasiswa mengambil alih gedung universitas, Hamilton Hall.

Selain New York, di mana lagi mahasiswa melakukan unjuk rasa?

Eskalasi demonstrasi yang meningkat di University of Columbia menginspirasi unjuk rasa serupa di universitas swasta dan negeri di setidaknya 22 negara bagian dan Washington DC.

Halaman:
Baca tentang

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com