Etnik Bersenjata Myanmar Sukses Rebut Pangkalan Militer di Perbatasan Timur

Kompas.com - 27/04/2021, 12:49 WIB
Gambar yang diambil pada tanggal 31 Januari 2015 ini menunjukkan tentara dari Brigade Ketujuh Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) yang berparade sebagai bagian dari perayaan Hari Revolusi Karen ke-66 di markas mereka di negara bagian Kachin, Myanmar. KNLA adalah sayap bersenjata dari Serikat Nasional Karen (KNU) dan diyakini memiliki antara 3.000 hingga 5.000 milisi aktif di barisannya. AFP PHOTO/KC ORTIZGambar yang diambil pada tanggal 31 Januari 2015 ini menunjukkan tentara dari Brigade Ketujuh Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) yang berparade sebagai bagian dari perayaan Hari Revolusi Karen ke-66 di markas mereka di negara bagian Kachin, Myanmar. KNLA adalah sayap bersenjata dari Serikat Nasional Karen (KNU) dan diyakini memiliki antara 3.000 hingga 5.000 milisi aktif di barisannya.

MAE SAM LAEP, KOMPAS.com - Sebuah kelompok pemberontak etnik terkemuka berhasil merebut pangkalan militer di Myanmar timur dekat perbatasan Thailand, pada Selasa pagi (27/4/2021).

Serangan itu dilakukan oleh lawan militer Myanmar yang paling vokal, yaitu Karen National Union (KNU).

Mereka berperang melawan militer Myanmar di sepanjang perbatasan timur selama berminggu-minggu.

Baca juga: Media Asing Sorot Hasil KTT ASEAN untuk Konflik Myanmar di Jakarta

Pada Selasa pertempuran berlangsung di negara bagian Karen dekat sungai Salween yang membatasi sebagian perbatasan.

Para warga di wilayah Thailand mendengar suara tembakan dan ledakan yang datang dari Myanmar.

"Tentara kami merebut kamp militer Burma," kata kepala urusan luar negeri KNU, Padoh Saw Taw Nee, kepada AFP.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia menambahkan bahwa pertempuran itu berlangsung sekitar pukul 5 pagi.

"Kami dapat mendengar dari sisi lain, kami dapat mendengar suara tembakan," kata Hkara penduduk lama Mae Sam Laep di perbatasan Thailand yang merupakan etnik Karen dan hanya memiliki satu nama.

"Kami melihat lima atau enam tentara Burma lari ke sungai dan kemudian kami melihat KNU menembak mereka, tetapi saat itu sangat gelap."

Baca juga: Setelah KTT ASEAN, Muhyiddin Yassin Sebut Myanmar Mau Hentikan Kekerasan

Bulan lalu setelah KNU menyerbu pangkalan militer, junta Myanmar membalasnya dengan beberapa serangan udara di malam hari. Itu adalah serangan udara pertama di Karen dalam lebih dari 20 tahun.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X