Presiden Macron Galang Dukungan Kabinet untuk RUU "Anti-Separatime" Perancis

Kompas.com - 10/12/2020, 07:41 WIB
Presiden Perancis Emmanuel Macron. AFP / LUDOVIC MARINPresiden Perancis Emmanuel Macron.

PARIS, KOMPAS.com - Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Rabu (9/12/2020), meminta dukungan kabinetnya untuk rancangan undang-undang " anti-separatisme", yang dikhawatirkan para kritikus akan berisiko menargetkan semua Muslim.

Macron berpendapat undang-undang itu diperlukan untuk menopang dengan kuat sistem sekuler Perancis, tetapi rencana itu semakin memicu ketegangan sosial atas konsekuensi bagi komunitas Muslim terbesar di Eropa.

"Musuh Republik adalah ideologi politik yang disebut separatis radikal, yang bertujuan untuk memecah belah Perancis di antara mereka sendiri," kata Perdana Menteri Perancis, Jean Castex kepada Le Monde edisi Rabu.

Melansir AFP pada Rabu (9/12/2020), ia berargumen bahwa daripada menargetkan Muslim, hal itu bertujuan untuk "membebaskan Muslim dari cengkeraman ekstremisme yang tumbuh".

Baca juga: Terlepas dari Isu HAM, Perancis Akan Tetap Jual Senjata ke Mesir

Undang-undang tersebut akan dibahas pada pertemuan kabinet di Istana Elysee dengan Castex mengumumkan hasilnya pada sore hari.

Namun, pertahanan kukuh pemerintah atas dasar-dasar negara Perancis sejak Revolusi Perancis telah menyebabkan kegelisahan bahkan di antara sekutu, dengan utusan AS dalam kebebasan beragama internasional mengatakan dia prihatin dengan undang-undang tersebut.

"Mungkin ada keterlibatan konstruktif yang menurut saya bisa membantu dan tidak berbahaya," kata Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama, Sam Brownback kepada wartawan.

"Ketika Anda ceroboh, situasinya bisa menjadi lebih buruk," tambahnya.

Baca juga: Remaja 18 Tahun yang Jadi Pemenggal Guru Perancis Dikubur di Kampung Halamannya

Memperkuat nilai-nilai republik

Teks tersebut awalnya berjudul RUU "anti-separatisme", menggunakan istilah yang digunakan Macron untuk menggambarkan Muslim ultra-konservatif yang menarik diri dari masyarakat arus utama.

Menyusul kritik terhadap istilah itu, sekarang disebut "RUU untuk memperkuat nilai-nilai republik", kebanyakan tentang sekularisme dan kebebasan berekspresi.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Misteri: Empat Bangkai Kapal Legendaris Terbesar yang Belum Ditemukan

Kisah Misteri: Empat Bangkai Kapal Legendaris Terbesar yang Belum Ditemukan

Internasional
20 Migran Tewas Dilempar ke Laut oleh Kelompok Penyelundup Manusia

20 Migran Tewas Dilempar ke Laut oleh Kelompok Penyelundup Manusia

Global
7 Orang Etnis Minoritas Hazara Diikat Lalu Ditembak Brutal di Afghanistan

7 Orang Etnis Minoritas Hazara Diikat Lalu Ditembak Brutal di Afghanistan

Global
Korban Tewas Demo Myanmar 54 Orang, Begini Respons PBB

Korban Tewas Demo Myanmar 54 Orang, Begini Respons PBB

Global
Pengadilan Turki Menolak Menambahkan Laporan AS dalam Persidangan Khashoggi

Pengadilan Turki Menolak Menambahkan Laporan AS dalam Persidangan Khashoggi

Global
Puluhan Garda Nasional AS di Gedung Capitol Jatuh Sakit Gara-gara Daging Mentah yang Disajikan

Puluhan Garda Nasional AS di Gedung Capitol Jatuh Sakit Gara-gara Daging Mentah yang Disajikan

Global
Ambergris Bisa Menguntungkan dan Legal? Ini Kumpulan Faktanya

Ambergris Bisa Menguntungkan dan Legal? Ini Kumpulan Faktanya

Internasional
Peringatan NATO: Uni Eropa Tak Bisa Bertahan jika Sendirian

Peringatan NATO: Uni Eropa Tak Bisa Bertahan jika Sendirian

Global
Bagaimana jika Tak Ada Perbedaan Waktu di Dunia? 2 Ilmuwan Ini Beberkan Penjelasannya

Bagaimana jika Tak Ada Perbedaan Waktu di Dunia? 2 Ilmuwan Ini Beberkan Penjelasannya

Internasional
China Wajibkan Pelancong Asing Tes Covid-19 dengan Swab Anal

China Wajibkan Pelancong Asing Tes Covid-19 dengan Swab Anal

Global
Sejarah Penetapan Zona Waktu di Dunia hingga Usulan Penghapusannya

Sejarah Penetapan Zona Waktu di Dunia hingga Usulan Penghapusannya

Internasional
Dinyatakan Mati, Seorang Pengendara Motor Hidup Sebelum Dibedah

Dinyatakan Mati, Seorang Pengendara Motor Hidup Sebelum Dibedah

Internasional
Sebelum Ditembak Mati dalam Demo Myanmar, Angel Ingin Sumbangkan Organ Tubuh

Sebelum Ditembak Mati dalam Demo Myanmar, Angel Ingin Sumbangkan Organ Tubuh

Global
Kematian Tentara Transgender Pertama Korea Selatan Picu Amarah Publik

Kematian Tentara Transgender Pertama Korea Selatan Picu Amarah Publik

Internasional
Selamatkan 4 Kucing dari Kapal Tenggelam, Pelaut Thailand Banjir Pujian

Selamatkan 4 Kucing dari Kapal Tenggelam, Pelaut Thailand Banjir Pujian

Internasional
komentar
Close Ads X