Pembantaian terhadap 51 Jemaah Muslim di Christchurch, Penyelidikan Ungkap Beberapa Kegagalan

Kompas.com - 09/12/2020, 23:21 WIB
Brenton Tarrant, teroris yang menyerang jemaah di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019 ketika menghadiri sidang vonis pada 24 Agustus 2020. REUTERS PHOTO/POOL/JOHN KIRK-ANDERSONBrenton Tarrant, teroris yang menyerang jemaah di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019 ketika menghadiri sidang vonis pada 24 Agustus 2020.


CHRISTCHURCH, KOMPAS.com - Sebuah penyelidikan terhadap pembantaian massal di Christchurch menunjukkan adanya beberapa kegagalan jelang serangan 2019 namun meski kegagalan dapat dikemukakan, tragedi tetap saja tidak dapat dihindari.

Penyelidikan langsung dilakukan setelah pembantaian Christchurch yang menewaskan 51 jemaah dari 2 masjid pada Maret 2019 dilakukan oleh seorang teroris yang berideologi supremasi kulit putih, Brenton Tarrant.

Melansir BBC, hasil penyelidikan yang baru-baru ini diungkap menyatakan bahwa otoritas mengidentifikasi banyak hikmah yang dapat dipelajari dan beberapa hal yang signifikan untuk diubah.

Baca juga: Warga Bersorak dan Tabur Bunga Saat Penembak Masjid Christchurch Dipenjara Seumur Hidup

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menggarisbawahi tentang kegagalan otoritas dalam memeriksa lisensi penggunaan atau perizinan senjata api di saat Tarrant berhasil mengumpulkan banyak senjata sebelum melakukan aksinya.

Otoritas juga gagal mencegah serangan Tarrant karena mereka terlalu berfokus pada sesuatu yang mereka duga dan tidak tepat, yakni mengira ancaman berasal dari kalangan ekstremis Islam.

Meskipun temuan itu tidak mungkin pula dapat mencegah serangan, "namun ini adalah kegagalan dan untuk itu, atas nama pemerintah, saya minta maaf," ungkap Ardern dikutip BBC.

Baca juga: Usai Tragedi Christchurch, Ini Deretan Penembakan Masjid Lainnya di Dunia

Beberapa hal yang diubah di antaranya pembentukan badan intelijen dan keamanan nasional baru serta proposal kepada polisi untuk mengidentifikasi dan merespons kejahatan rasial lebih cermat.

Pemerintah Selandia Baru juga berencana menciptakan kementerian khusus yang menangani masyarakat etnis dan program studi kuliah tingkat lanjut di bidang masyarakat etnis.

Sebagai tanggapan, imam Masjid Al Noor, salah satu dari 2 masjid yang menjadi sasaran mengatakan bahwa laporan penyelidikan itu menegaskan adanya kecurigaan pihak berwenang terhadap komunitas Muslim, dan bukan melindungi.

Baca juga: Sidang Terdakwa Penembakan Masjid Christchurch Brenton Tarrant Tak Boleh Disiarkan Langsung

"Kami sudah lama mengetahui bahwa komunitas Muslim telah menjadi sasaran ujaran kebencian dan kejahatan rasial, laporan ini menunjukkan bahwa kami benar," kata Gamal Fouda.

"Laporan tersebut menunjukkan bahwa prasangka kelembagaan dan prasangka bawah sadar ada di lembaga pemerintah dan itu perlu diubah."

Dia menekankan bahwa perubahan yang direkomendasikan dalam laporan tersebut sekarang harus digunakan untuk membangun kembali kepercayaan antara komunitas Muslim dan polisi.

Baca juga: Virus Corona, Selandia Baru Batalkan Setahun Peringatan Penembakan Christchurch


Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Remaja 18 Tahun Ditangkap dengan AK-47 di Stasiun Kereta Bawah Times Square

Remaja 18 Tahun Ditangkap dengan AK-47 di Stasiun Kereta Bawah Times Square

Global
“Senang Dilihat,” Reuni William dan Harry Jadi Obat bagi Pendukung Monarki Inggris

“Senang Dilihat,” Reuni William dan Harry Jadi Obat bagi Pendukung Monarki Inggris

Global
[UNIK GLOBAL] Jam Berusia 1 Abad Berdetak Lagi Setelah Gempa | Budidaya Melon Jepang dengan Pinjat dan Musik

[UNIK GLOBAL] Jam Berusia 1 Abad Berdetak Lagi Setelah Gempa | Budidaya Melon Jepang dengan Pinjat dan Musik

Global
Para Junior Pangeran Philip di Sekolah Gordonstoun Beri Penghormatan di Tengah Laut

Para Junior Pangeran Philip di Sekolah Gordonstoun Beri Penghormatan di Tengah Laut

Global
Wanita Telanjang Dada Muncul di Pemakaman Pangeran Philip

Wanita Telanjang Dada Muncul di Pemakaman Pangeran Philip

Global
Ratu Elizabeth II Duduk Sendiri Selama Upacara Pemakaman Pangeran Philip, Kenapa?

Ratu Elizabeth II Duduk Sendiri Selama Upacara Pemakaman Pangeran Philip, Kenapa?

Global
Narsisis, Apa Buruknya?

Narsisis, Apa Buruknya?

Internasional
Akhir Sebuah Era: Kematian Pangeran Philip Membuat Peran Monarki Modern Jadi Sorotan

Akhir Sebuah Era: Kematian Pangeran Philip Membuat Peran Monarki Modern Jadi Sorotan

Global
Begini Cara Menonton Pemakaman Pangeran Philip di AS, Inggris, dan di Seluruh Dunia

Begini Cara Menonton Pemakaman Pangeran Philip di AS, Inggris, dan di Seluruh Dunia

Global
Musik dan Pijat, Rahasia Petani Malaysia Berhasil Budidayakan Melon Jepang

Musik dan Pijat, Rahasia Petani Malaysia Berhasil Budidayakan Melon Jepang

Global
Pemimpin Junta Militer Myanmar Akan ke Jakarta, Hadiri Pertemuan ASEAN

Pemimpin Junta Militer Myanmar Akan ke Jakarta, Hadiri Pertemuan ASEAN

Global
Terobsesi Kebugaran Tubuh, Ayah ini Paksa Anaknya Tanda Tangan Kontrak Tidak Boleh Gemuk

Terobsesi Kebugaran Tubuh, Ayah ini Paksa Anaknya Tanda Tangan Kontrak Tidak Boleh Gemuk

Global
Kisah Diskriminasi Rasial yang Dilupakan dari Tragedi Titanic, 6 Orang China Selamat Diusir

Kisah Diskriminasi Rasial yang Dilupakan dari Tragedi Titanic, 6 Orang China Selamat Diusir

Internasional
Konflik Makin Memuncak, Rusia Tangkap Diplomat Ukraina

Konflik Makin Memuncak, Rusia Tangkap Diplomat Ukraina

Global
Sebar Video TikTok Menari dengan Sisa Operasi Pasiennya, Ahli Bedah Plastik Brasil Diskors

Sebar Video TikTok Menari dengan Sisa Operasi Pasiennya, Ahli Bedah Plastik Brasil Diskors

Global
komentar
Close Ads X