Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Olimpiade Paris 2024, Aturan Berpakaian Atlet Perancis Berbeda dengan Negara Lain

Kompas.com - 24/04/2024, 19:59 WIB
BBC News Indonesia,
Aditya Jaya Iswara

Tim Redaksi

PARIS, KOMPAS.com - Terletak di tepi Sungai Seine, kawasan Cite du Cinema di Paris yang dikenal sebagai tempat produksi film akan menjelma menjadi perkampungan atlet selama perhelatan Olimpiade Paris 2024 pada Juli mendatang.

Para atlet dari berbagai negara dengan budaya yang berbeda akan bertemu di ruang makan, duduk berhadapan satu sama lain, berbagi makanan dan bertukar cerita.

Ajang olahraga ini adalah tempat bagi meleburnya beragam budaya, tempat bagi orang-orang dari berbagai keyakinan dan beragam warna kulit berjumpa setiap empat tahun.

Baca juga: Perancis Minta Bantuan 45 Negara untuk Amankan Olimpiade Paris

Namun, ketentuan berpakaian bagi atlet tuan rumah ternyata berbeda dengan tamu-tamunya.

Pada September 2023 lalu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menegaskan bahwa para atlet dapat merepresentasikan keyakinan serta negara mereka.

“Untuk di Kampung Atlet, peraturan IOC berlaku. Tidak ada batasan dalam mengenakan jilbab atau pakaian keagamaan dan budaya lainnya,” kata juru bicara IOC kepada Reuters.

Namun, atlet dari kontingen Perancis menerima aturan yang berbeda.

“Larangan menggunakan jilbab adalah wujud dari dua diskriminasi: Islamofobia dan diskriminasi gender,” kata Veronika Noseda, pemain sepak bola untuk Les Degommeuses, klub sepak bola di Paris yang dibentuk untuk melawan diskriminasi.

Assile Toufaily setuju dengan hal itu. Dia pindah ke Lyon pada 2021 setelah bermain untuk tim sepak bola Lebanon pada tingkat internasional.

“Sebenarnya ini bukan soal masyarakat Perancis, ini soal pemerintahnya,” kata dia.

“Ada kebencian terhadap umat Islam selama beberapa tahun terakhir di Perancis dan itu terlihat di dalam olahraga.”

Kedatangan para atlet dari seluruh dunia ke Paris pada musim panas nanti akan memperlihatkan gambaran paling jelas bagi prinsip kenegaraan Perancis yang khas namun berulang kali memicu kontroversi.

Liberte, egalite, fraternite kali pertama digaungkan pada masa Revolusi Perancis. Ini adalah semboyan paling terkenal dari apa yang dicita-citakan oleh Perancis.

Semboyan itu tercantum di bagian depan konstitusi, pada uang logam, perangko, hingga bangunan-bangunan publik.

Salah satu prinsip penting Perancis yang kurang dikenal dan sulit ditafsirkan adalah: laicite.

Dalam bahasa Inggris, kata itu sering diterjemahkan sebagai “secularism (sekularisme)”.

Laicite tidak mengharuskan masyarakat melepas adat istiadat atau simbol agama apa pun. Sebaliknya, lembaga-lembaga negara dan publik harus bebas dari simbol-simbol itu.

Gagasan ini berulang kali diuji di Perancis, terutama setelah serangkaian serangan teroris selama satu dekade terakhir dan kebangkitan politik sayap kanan.

Presiden Perancis Emmanuel Macron berulang kali mendefinisikan istilah tersebut.

“Masalahnya bukan pada laicite,” ujar Macron dalam pidatonya pada Oktober 2020.

Laicite di Republik Perancis berarti kebebasan untuk percaya atau tidak percaya, kemungkinan menjalankan agamanya selama hukum dipatuhi.”

"Laicite berarti netralitas negara. Ini sama sekali tidak berarti penghapusan agama dari masyarakat dan arena publik. Persatuan Perancis diperkuat oleh laicite."

Baca juga: Berbagai Tantangan Jelang Olimpiade Paris 2024

Presiden Perancis Emmanuel Macron berulang kali mendefinisikan prinsip laicite.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Presiden Perancis Emmanuel Macron berulang kali mendefinisikan prinsip laicite.
Undang-undang yang disahkan pada 2004 berupaya memperjelas konsep tersebut dengan melarang simbol-simbol agama yang “menonjol” di sekolah negeri tanpa menyebutkan contohnya secara spesifik.

Halaman:

Terkini Lainnya

Rusia Duduki Lagi Desa yang Direbut Balik Ukraina pada 2023

Rusia Duduki Lagi Desa yang Direbut Balik Ukraina pada 2023

Global
AS-Indonesia Gelar Lokakarya Energi Bersih untuk Perkuat Rantai Pasokan Baterai-ke-Kendaraan Listrik

AS-Indonesia Gelar Lokakarya Energi Bersih untuk Perkuat Rantai Pasokan Baterai-ke-Kendaraan Listrik

Global
Inggris Juga Klaim China Kirim Senjata ke Rusia untuk Perang di Ukraina

Inggris Juga Klaim China Kirim Senjata ke Rusia untuk Perang di Ukraina

Global
3 Negara Eropa Akan Akui Negara Palestina, Israel Marah

3 Negara Eropa Akan Akui Negara Palestina, Israel Marah

Global
Ekuador Perang Lawan Geng Narkoba, 7 Provinsi Keadaan Darurat

Ekuador Perang Lawan Geng Narkoba, 7 Provinsi Keadaan Darurat

Global
[POPULER GLOBAL] Identitas Penumpang Tewas Singapore Airlines | Fisikawan Rusia Dipenjara

[POPULER GLOBAL] Identitas Penumpang Tewas Singapore Airlines | Fisikawan Rusia Dipenjara

Global
Ukraina Kembali Serang Perbatasan dan Wilayahnya yang Diduduki Rusia

Ukraina Kembali Serang Perbatasan dan Wilayahnya yang Diduduki Rusia

Global
Singapore Airlines Turbulensi, Ini Nomor Hotline bagi Keluarga Penumpang

Singapore Airlines Turbulensi, Ini Nomor Hotline bagi Keluarga Penumpang

Global
Rusia Pulangkan 6 Anak Pengungsi ke Ukraina Usai Dimediasi Qatar

Rusia Pulangkan 6 Anak Pengungsi ke Ukraina Usai Dimediasi Qatar

Global
Fisikawan Rusia yang Kembangkan Rudal Hipersonik Dihukum 14 Tahun

Fisikawan Rusia yang Kembangkan Rudal Hipersonik Dihukum 14 Tahun

Global
Misteri Area 51: Konspirasi dan Fakta di Balik Pangkalan Militer Tersembunyi AS

Misteri Area 51: Konspirasi dan Fakta di Balik Pangkalan Militer Tersembunyi AS

Global
Kepala Politik Hamas Ucap Duka Mendalam pada Pemimpin Tertinggi Iran

Kepala Politik Hamas Ucap Duka Mendalam pada Pemimpin Tertinggi Iran

Global
Panas Ekstrem 47,4 Derajat Celcius, India Liburkan Sekolah Lebih Awal

Panas Ekstrem 47,4 Derajat Celcius, India Liburkan Sekolah Lebih Awal

Global
Israel Batal Sita Kamera Associated Press Setelah Panen Kecaman

Israel Batal Sita Kamera Associated Press Setelah Panen Kecaman

Global
Hari Ini, Irlandia dan Norwegia Akan Mengakui Negara Palestina Secara Resmi

Hari Ini, Irlandia dan Norwegia Akan Mengakui Negara Palestina Secara Resmi

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com