Kompas.com - 04/06/2020, 13:31 WIB
Sejumlah warga beraktifitas di tengah banjir rob yang merendam permukiman mereka di Desa Sriwulan, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Senin (1/6/2020). Berbagai upaya dilakukan warga setempat untuk dapat beraktivitas di tengah ancaman pasang air laut yang merendam permukiman mereka ketika musim air pasang laut tinggi (rob) tiba. Warga berharap pemerintah segera menangani permasalahan rob yang kini telah mencapai jalur utama Pantura Demak. ANTARA FOTO/AJI STYAWANSejumlah warga beraktifitas di tengah banjir rob yang merendam permukiman mereka di Desa Sriwulan, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Senin (1/6/2020). Berbagai upaya dilakukan warga setempat untuk dapat beraktivitas di tengah ancaman pasang air laut yang merendam permukiman mereka ketika musim air pasang laut tinggi (rob) tiba. Warga berharap pemerintah segera menangani permasalahan rob yang kini telah mencapai jalur utama Pantura Demak.


KOMPAS.com- Adanya potensi gelombang tinggi di Perairan Utara Jawa, masyarakat diminta untuk waspada bencana lanjutan dari dampak tersebut, yaitu banjir pesisir atau rob.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terhadap potensi gelombang tinggi dan banjir rob ini berdasarkan evaluasi limpasan air laut pada pekan akhir bulan Mei 2020.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Drs Herizal Msi mengungkapkan pada pekan terakhir bulan Mei, wilayah pesisir barat Sumatera bagian selatan dan pesisir selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur terdampak limpasan air laut yang masuk ke daratan (banjir pesisir atau rob).

Apa penyebab banjir rob di awal Juni ini?

Baca juga: BMKG: Waspada Potensi Banjir Rob di Sejumlah Wilayah Indonesia, Ini Daftarnya...

Herizal mengatakan rob ini secara signifikan dapat dipicu oleh berbagai faktor kondisi atmosfer, dan membuat kondisi pasang air laut menjadi lebih tinggi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pada awal Juni ini, potensi rob diperkirakan akan kembali terjadi khususnya untuk Perairan Utara Jawa," kata Herizal dalam keterangan tertulisnya.

Berikut penjelasan Herizal terkait faktor-faktor pemicu potensi banjir pesisir atau rob.

Suasana masjid yang terendam air laut akibat banjir rob di Muara Baru, Jakarta, Senin (6/1/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan daerah pesisir Jakarta Utara akan mengalami air pasang laut (rob) maksimum pada 9 Januari hingga 11 Januari 2020 dan diprakirakan akan memperparah banjir di Jakarta.ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA Suasana masjid yang terendam air laut akibat banjir rob di Muara Baru, Jakarta, Senin (6/1/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan daerah pesisir Jakarta Utara akan mengalami air pasang laut (rob) maksimum pada 9 Januari hingga 11 Januari 2020 dan diprakirakan akan memperparah banjir di Jakarta.

Baca juga: Waspada Banjir, Ini Wilayah Berpotensi Hujan Lebat hingga Sabtu

1. Kombinasi pasang air laut

Limpasan air laut yang masuk ke daratan ini bisa dipicu oleh kombinasi antara periode pasang air laut akibat pengaruh fase bulan mati bersamaan dengan adanya rambatan gelombang tinggi dari Samudera Hindia.

2. Fase bulan purnama

Akibat dari fenomena langit berupa fase bulan purnama atau full moon (spring tide), juga dapat membuat kondisi pasang air laut yang cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia.

Pengaruh dari fase bulan purnama ini merupakan faktor astronomis penyebab pasang laut tinggi.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.