Dikepung Pasukan Etiopia, Pemimpin Tigray: Kami Siap Mati

Kompas.com - 23/11/2020, 22:59 WIB
Sebuah tank rusak teronggok di tepi jalan saat truk Pasukan Khusus Amhara melintas di Humera, Etiopia, pada 22 November 2020. Perdana Menteri Etiopia Abiy Ahmed mengumumkan operasi militer pada 4 November untuk menyerang Tigray, yang dituding dalang penyerangan dua kamp militer. Ratusan orang tewas dalam perang selama hampir tiga pekan. Meski Abiy Ahmed menjanjikan detil, jaringan telepon hingga internet diputus di Tigray, dengan jurnalis juga dilarang untuk memberitakan serangan itu. AFP PHOTO/EDUARDO SOTERASSebuah tank rusak teronggok di tepi jalan saat truk Pasukan Khusus Amhara melintas di Humera, Etiopia, pada 22 November 2020. Perdana Menteri Etiopia Abiy Ahmed mengumumkan operasi militer pada 4 November untuk menyerang Tigray, yang dituding dalang penyerangan dua kamp militer. Ratusan orang tewas dalam perang selama hampir tiga pekan. Meski Abiy Ahmed menjanjikan detil, jaringan telepon hingga internet diputus di Tigray, dengan jurnalis juga dilarang untuk memberitakan serangan itu.

ADDIS ABABA, KOMPAS.com - Pemimpin regional Tigray menegaskan, mereka siap mati setelah dikepung oleh pasukan Etiopia, di mana mereka diminta menyerah dalam 72 jam.

Perdana Menteri Abiy Ahmed melancarkan kampanye militer menggempur Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) pada 4 November.

Serangan itu dilakuakan setelah TPLF dituding menggempur dua kamp militer di sebelah utara, dan berusaha mengganggu stabilitas pemerintahan Ahmed.

Baca juga: Konflik Etiopia: PM Abiy Ultimatum Pasukan Tigray Menyerah dalam 72 Jam

Pasukan pemerintah kini menerangkan bahwa mereka mengepung ibu kota region itu, Mekele, dan mengambil posisi dalam radius 60 kilometer.

Pengepungan itu dilanjutkan dengan ancaman bahwa militer bakal menggelar bombardir terhadap kota yang mempunyai populasi setengah juta jiwa itu.

PM Abiy Ahmed, penerima Nobel Perdamaian tahun lalu, meminta pimpinan Tigray untuk menyerah tiga hari ke depan, mengancam tak ada jalan bagi mereka untuk kabur.

Namun Pemimpin TPLF, Debretsion Gebremichael, menyindir bahwa justru yang menderita kekalahan adalah Ahmed, di mana ancaman itu muncul untuk mengulur waktu.

"Dia tidak mengerti siapa kami. Kami adalah orang dengan prinsip teguh dan siap mati membela hak kami di sini," tegas Gebremichael.

Dilansir AFP Senin (23/11/2020), pemutusan internet di kawasan itu membuat klaim dari pihak pemerintah maupun TPLF tak bisa diverifikasi.

Baca juga: Konflik Etiopia-Tigray: Apa Pemicunya dan Apa yang Sedang Terjadi?

Ancaman "tanpa ampun"

Brigadir Jenderal Tesfaye Ayalew dikutip Fana menyatakan, mereka siap bergerak menuju Mekele setelah merebut kota di utara dan selatan.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X