Kompas.com - 23/11/2020, 11:00 WIB
Foto tak bertanggal yang dirilis Ethiopian News Agency pada 16 November 2020, menunjukkan militer Etiopia duduk di atas kendaraan lapis baja dengan bendera nasional mereka, dekat perbatasan dengan Tigray dan Amhara. ETHIOPIAN NEWS AGENCY via APFoto tak bertanggal yang dirilis Ethiopian News Agency pada 16 November 2020, menunjukkan militer Etiopia duduk di atas kendaraan lapis baja dengan bendera nasional mereka, dekat perbatasan dengan Tigray dan Amhara.

ADDIS ABABA, KOMPAS.com - Etiopia menghadapi perang sipil antara pasukan militer pemerintah dan pasukan sipil di bagian utara Tigray yang mengakibatkan 10.000 nyawa melayang.

Konflik meletus pada November awal, setahun setelah Perdana Menteri Ethiopia Aiby Ahmed menerima Hadiah Nobel Perdamaian yang mengakhiri konflik perbatasan 20 tahun Ethiopia dengan Eritrea.

Berikut ini serangkaian penjelasan singkat tentang bagaimana konflik yang menewaskan puluhan ribu orang itu terjadi serta bagaimana dampaknya bagi masyarakat sipil dan kawasan di sekitarnya.

Baca juga: Jet Tempur Etiopia Bombardir Wilayah Tigray, Perang Saudara Dikhawatirkan Meletus

Apa yang sebenarnya terjadi di Etiopia?

Pada 4 November 2020, Perdana Menteri Etiopia Aiby Ahmed mengirim pasukan ke markas militer di bagian utara wilayah Tigray yang berbatasan dengan Eritrea dan Sudan.

Dia menuduh partai yang berkuasa di wilayah itu, Tigray People Liberation Front (TPLF) telah menyerang markas tersebut dan mengumumkan melalui siaran televisi beberapa hari kemudian bahwa militer Etiopia telah membom markas tersebut sebagai bentuk pembalasan.

Beberapa hari setelahnya, Amnesty International melaporkan bahwa ratusan orang telah terbunuh dalam serangan pisau dan parang di kota Mai Kadra, wilayah Tigray.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pihak TPLF disalahkan atas serangan tersebut meski pemimpinnya menolak bertanggungjawab.

"Kami telah mengonfirmasi adanya pembantaian rakyat sipil dalam jumlah besar, yang tampaknya merupakan buruh harian dan sama sekali tak terlibat dalam serangan militer yang tengah berlangsung," ujar Deprose Muchena, Direktur Afrika Timur dan Selatan, Amnesty International.

Sejak awal November, komunikasi di wilayah itu telah terputus sehingga laporan sering tertunda dan orang-orang tidak bisa menghubungi keluarga mereka.

Sementara itu, diketahui pada 13 November, Tigray meluncurkan roket di 2 bandara di Provinsi Amhara. Keesokan harinya, mereka juga menembakkan roket ke negara tetangga, Eritrea.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X