Kompas.com - 24/10/2020, 21:07 WIB

ISTANBUL, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (24/10/2020) mengecam Presiden Perancis Emmanuel Macron, atas kebijakannya terhadap Muslim dan mengatakan bahwa dia perlu "periksa mental."

"Apa yang bisa dikatakan tentang seorang kepala negara yang memperlakukan jutaan anggota dari kelompok agama yang berbeda seperti ini. Pertama-tama, lakukan pemeriksaan mental," kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi seperti yang dilansir dari AFP pada Sabtu (24/10/2020).

Baca juga: Erdogan Beberkan Alasan Turki Dukung Azerbaijan di Perang Nagorno-Karabakh

Macron mencanangkan untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler negaranya dari Islam radikal, yang membuat marah pemerintah Turki.

Hal itu, menambah daftar perselisihan antara pemimpin Perancis dan Erdogan.

Macron mengumumkan akan menerapkan pengawasan sekolah yang lebih ketat dan kontrol yang lebih baik atas pendanaan masjid dari luar negeri.

Baca juga: Turki Temukan Cadangan Gas Alam Baru di Laut Hitam

Pada awal Oktober, Macron menggambarkan Islam sebagai agama "dalam krisis" di seluruh dunia dan mengatakan pemerintah akan mengajukan rancangan undang-undang pada Desember, untuk memperkuat undang-undang 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Perancis.

“Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kami tidak hanya melihat ini di negara kami,” katanya, seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Jumat (2/10/2020).

Baca juga: Turki Diancam Keras AS, Jika Terkonfirmasi Uji Coba Rudal S-400 Buatan Rusia

Macron mengatakan langkah pembentukan undang-undang ditujukan untuk mengatasi masalah tumbuhnya "radikalisasi" di Perancis dan meningkatkan "kemampuan kami untuk hidup bersama".

“Sekularisme adalah dasar dari persatuan Perancis,” dia menegaskan, tetapi menambahkan bahwa tidak ada gunanya menstigmatisasi semua Muslim yang beriman.

Baca juga: Turki Bantah Kerahkan Pasukan Suriah untuk Azerbaijan Perang di Nagorno-Karabakh

Undang-undang mengizinkan orang untuk menganut agama apa pun yang mereka pilih, kata Macron, tetapi tampilan luar dari afiliasi keagamaan akan dilarang di sekolah dan layanan publik.

Mengenakan jilbab sudah dilarang di sekolah-sekolah Perancis dan pegawai negeri juga dilarang memakainya di tempat kerja mereka.

Baca juga: AS dan Jerman Desak Turki untuk Akhiri Provokasi terhadap Yunani di Laut Mediterania Timur

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu

Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kecewa Hanya 1 Rekan Kerja yang Hadiri Pernikahannya, Wanita Ini Resign dari Pekerjaan

Kecewa Hanya 1 Rekan Kerja yang Hadiri Pernikahannya, Wanita Ini Resign dari Pekerjaan

Global
Wanita India Potong Penis Pacarnya karena Berbuat Mesum ke Putrinya

Wanita India Potong Penis Pacarnya karena Berbuat Mesum ke Putrinya

Global
Rusia Tawarkan Medali Penghargaan Bintang Lima Bagi Wanita yang Besarkan 10 Anak

Rusia Tawarkan Medali Penghargaan Bintang Lima Bagi Wanita yang Besarkan 10 Anak

Global
Panas Terik Hingga 40 Derajat Celcius, China Umumkan Darurat Nasional

Panas Terik Hingga 40 Derajat Celcius, China Umumkan Darurat Nasional

Global
Salma al-Shehab Dipenjara 34 Tahun karena Twit, PBB Marah

Salma al-Shehab Dipenjara 34 Tahun karena Twit, PBB Marah

Global
Ada Potensi Bahaya Serius, Rusia Diminta Segera Tinggalkan PLTN Zaporizhzhia

Ada Potensi Bahaya Serius, Rusia Diminta Segera Tinggalkan PLTN Zaporizhzhia

Global
PM Finlandia Sanna Marin Dituduh Berbuat Hal Tak Senonoh dengan Pria di Pesta

PM Finlandia Sanna Marin Dituduh Berbuat Hal Tak Senonoh dengan Pria di Pesta

Global
Dipenjara Berbulan-bulan, Aung San Suu Kyi Dikembalikan ke Tahanan Rumah, Asalkan…

Dipenjara Berbulan-bulan, Aung San Suu Kyi Dikembalikan ke Tahanan Rumah, Asalkan…

Global
Thailand Keluarkan Visa Emas untuk Pekerja Teknologi, Bisa Tinggal 10 Tahun

Thailand Keluarkan Visa Emas untuk Pekerja Teknologi, Bisa Tinggal 10 Tahun

Global
Putin ke Macron: Serangan ke PLTN Zaporizhzhia Dapat Sebabkan Bencana Besar

Putin ke Macron: Serangan ke PLTN Zaporizhzhia Dapat Sebabkan Bencana Besar

Global
Kemlu China Belum Mau Konfirmasi Kehadiran Xi Jinping dalam KTT G20 di Bali

Kemlu China Belum Mau Konfirmasi Kehadiran Xi Jinping dalam KTT G20 di Bali

Global
Buntut Video Pesta, PM Finlandia Jalani Tes Narkoba

Buntut Video Pesta, PM Finlandia Jalani Tes Narkoba

Global
Inggris Sebut Rusia Tak Punya Hak Moral Hadiri KTT G20 di Indonesia

Inggris Sebut Rusia Tak Punya Hak Moral Hadiri KTT G20 di Indonesia

Global
Sungai Danube di Eropa Mengering, Puluhan Kapal Perang Dunia II Bermunculan

Sungai Danube di Eropa Mengering, Puluhan Kapal Perang Dunia II Bermunculan

Global
Rangkuman Hari ke-176 Serangan Rusia ke Ukraina: Ledakan Dekat Bandara Militer di Crimea, Moskwa Serang Kharkiv

Rangkuman Hari ke-176 Serangan Rusia ke Ukraina: Ledakan Dekat Bandara Militer di Crimea, Moskwa Serang Kharkiv

Global
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.