Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

2 Dinasti Politik Terbesar Filipina Berselisih, Akankah Hubungan Marcos-Duterte Retak?

Kompas.com - 09/05/2024, 19:42 WIB
BBC News Indonesia,
Aditya Jaya Iswara

Tim Redaksi

MANILA, KOMPAS.com - Dua dinasti politik yang paling berpengaruh di Filipina, yaitu keluarga Duterte dan Marcos, saling melontarkan kritik dan diprediksi akan mengalami perpecahaan. Namun, apakah mungkin hal itu terjadi dan apa risiko yang muncul jika mereka akhirnya "bercerai"?

Dengan gaya yang bombastis, mantan Presiden Filipina yang terkenal dengan kebijakan perang melawan narkoba, Rodrigo Duterte, mengatakan kepada para pendukungnya Januari silam bahwa penggantinya, Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr adalah pencandu narkoba.

Tidak berdiam diri, Marcos yang saat ini menjadi Presiden Filipina membalas dengan mengatakan bahwa Duterte melontarkan hinaan itu pasti di bawah pengaruh opioid atau obat pereda nyeri kategori narkotika.

Baca juga: Cerita Wartawan BBC Menumpang Kapal Filipina, Dikejar Kapal Patroli China

Saling balas ini disebut sebagai salah satu sinyal terkuat yang menunjukkan adanya keretakan dalam aliansi yang mengantarkan Marcos meraih kemenangan bersejarah pada pemilu 2022 lalu.

Sekutu Marcos dalam pesta demokrasi itu adalah putri Rodrigo, Sara Duterte, yang kini menjabat sebagai wakil presiden.

Sedari awal, para analis telah memprediksi terjadinya "perceraian" di antara dua dinasti politik paling berkuasa di Filipina, Duterte dan Marcos.

Tanda-tanda perpecahan semakin menguat di tengah perselisihan publik dan meningkatnya perbedaan pendapat antara dua dinasti ini mengenai agenda politik.

Namun, memutuskan untuk berpisah mungkin bukan pilihan bagi Marcos maupun Duterte, yang menjual diri kepada pemilih mereka sebagai “UniTeam”.

Keretakan dalam aliansi

Sara Duterte nyatanya telah memimpin beragam jajak pendapat sebagai calon presiden terkuat pada 2021. Namun, dalam perkembangannya, dia mengumumkan pencalonan dirinya sebagai wakil presiden mendampingi Marcos.

Ayahnya, Rodrigo Duterte, menunjukkan ketidaksenangan dengan jelas atas keputusan Sara itu.

Sara dipandang sebagai pewaris politik Duterte. Sebelum menjabat sebagai wakil presiden, Sara adalah Wali Kota Davao City, jabatan yang dipegang Duterte selama bertahun-tahun sebelum melangkah menjadi presiden pada 2016.

Aliansi Sara dengan Marcos, putra mantan diktator Filipina Ferdinand Marcos, tidak mengejutkan para analis.

Kedua kandidat ini berisiko kalah jika saling bertarung satu sama lain karena dukungan akan terpecah. Pendukung Sara mayoritas berada di wilayah selatan Filipina, sedangan dukungan Marcos terpusat di utara.

Dengan berkoalisi, mereka telah menyatukan kubu masing-masing dan memenangi suara mayoritas Filipina pada pemilu 2022.

Banyak pengamat memprediksi Sara Duterte akan mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028 mendatang. Konstitusi Filipina melarang Marcos untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan enam tahun yang kedua—sebuah pembatasan yang coba dia hapus, tuduh Duterte.

Marcos mengatakan, dia mendukung reformasi hukum yang akan memudahkan peraturan bagi bisnis asing, menarik lebih banyak investasi dan lapangan kerja ke negara di Asia Tenggara yang berpenduduk 100 juta orang itu.

Namun, para pengkritiknya menuding upaya Marcos itu sebagai taktik "jahat" untuk melakukan perubahan politik yang memungkinkan dirinya mencalonkan diri lagi menjadi presiden.

Batasan masa jabatan presiden yang diberlakukan sejak 1986, setelah ayahnya Marcos digulingkan dari kekuasaan oleh protes rakyat, semakin menambah seruan protes.

Baca juga: Bendungan di Filipina Mengering, Reruntuhan Kota Berusia 300 Tahun Menampakkan Diri

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com