PBB: Israel Hancurkan Lebih dari 500 Bangunan Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada 2020

Kompas.com - 29/09/2020, 13:33 WIB
Sebuah ekskavator pasukan Israel menghancurkan rumah pria Palestina Ashraf Naalwa di desa Shuwaykah, dekat kota Tulkarem, Tepi Barat, pada Senin (17/12/2018). Ashraf Naalwa telah tewas pada 12 Desember 2018. (AFP/Jaafar Ashtiyeh) Sebuah ekskavator pasukan Israel menghancurkan rumah pria Palestina Ashraf Naalwa di desa Shuwaykah, dekat kota Tulkarem, Tepi Barat, pada Senin (17/12/2018). Ashraf Naalwa telah tewas pada 12 Desember 2018. (AFP/Jaafar Ashtiyeh)

NEW YORK, KOMPAS.com - Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan bahwa Israel telah menghancurkan lebih dari 500 bangunan di Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza pada tahun ini.

Dalam sebuah pernyataan, seperti yang dilansir dari Yenisafak pada Senin (28/9/2020), kantor PBB untuk OCHA mengatakan bahwa ada 506 bangunan Palestina dihancurkan oleh pasukan Israel di Tepi Barat dengan dalih tidak memiliki izin bangunan.

Lalu, disebutkan juga oleh PBB bahwa ada total 134 bangunan Palestina yang berada di Yerusalem Timur tidak luput dihancurkan Israel.

Baca juga: Liga Arab Yakinkan Normalisasi UEA-Israel Pasti Hentikan Aneksasi Tepi Barat

OCHA mengatakan, pasukan Israel merobohkan 22 bangunan selama 2 pekan terakhir, menyebabkan 50 warga Palestina mengungsi dan menyebabkan kerugian bagi sekitar 200 orang lainnya.

Menurut kantor PBB, 8 pembongkaran dari 12 yang terjadi di Yerusalem Timur dilakukan oleh pemiliknya sendiri untuk menghindari denda dan biaya yang dikenakan oleh otoritas Israel.

Baca juga: Pencaplokan Tepi Barat oleh Israel Ditunda atau Ditangguhkan? Palestina Tuduh UEA Bermain Retorika

Sepuluh bangunan lain yang dihancurkan terletak di Area C, yang mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat.

Israel menduduki Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur, selama perang Timur Tengah 1967.

Israel membenarkan pembongkaran rumah Palestina karena tidak memiliki izin bangunan, yang pada dasarnya Israel sendiri yang tidak memberikan izin bangunan tersebut kepada orang Palestina.

Baca juga: Dana Bantuan Semakin Turun, Pejabat Palestina Khawatir Itu Akibat Perjanjian Damai Negara Arab-Israel

Tepi Barat yang diduduki Israel menjadi sengketa panjang dengan Palestina, yang mana Palestina mengharapkannya menjadi ibu kota masa depan.

Obsesi aneksasi Tepi Barat oleh Israel kemudian menjadi pertimbangan utama dalam langkah pembenaran normalisasi UEA dengan Israel, yang memberikan efek penangguhan dan mengarah pada upaya penghentian niat Israel tersebut.

Baca juga: Faksi Terbesar Palestina, Fatah dan Hamas Sepakat Adakan Pemilihan Umum Setelah 15 Tahun

Langkah nomalisasi UEA dan Israel ditengahi oleh Amerika Serikat, yang menghasilkan perjanjian damai. Kemudian, langkah UEA diiikuti oleh Bahrain.  

Namun, langkah normalisasi hubungan negara Teluk dengan Israel menuai kontroversi dari berbagai pihak berkepentingan. Di antaranya Palestina yang secara jelas melawan keputusan beberapa negara Arab tersebut. 

Baca juga: Militer Israel Hancurkan 8 Rumah Warga Palestina di Tepi Barat


Sumber Yeni Safak
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Perang: Luftwaffe, AU Nazi Spesialis Serangan Kilat Blitzkrieg

Kisah Perang: Luftwaffe, AU Nazi Spesialis Serangan Kilat Blitzkrieg

Global
Presiden China Peringatkan Konsekuensi “Perang Dingin Baru,” Singgung Biden?

Presiden China Peringatkan Konsekuensi “Perang Dingin Baru,” Singgung Biden?

Global
Ayah Terlibat Kerusuhan Gedung Capitol, Anak Sendiri Ketakutan Lapor ke FBI

Ayah Terlibat Kerusuhan Gedung Capitol, Anak Sendiri Ketakutan Lapor ke FBI

Global
Eksodus dari Hong Kong ke Inggris Diproyeksi Tidak akan Besar meski Tensi dengan China Memanas

Eksodus dari Hong Kong ke Inggris Diproyeksi Tidak akan Besar meski Tensi dengan China Memanas

Global
Berhasil Taklukkan Gunung K2 yang Mematikan, 10 Pendaki Nepal Disambut Bak Pahlawan

Berhasil Taklukkan Gunung K2 yang Mematikan, 10 Pendaki Nepal Disambut Bak Pahlawan

Global
Masalah Pandemi dan Ekonomi Melanda, Perdana Menteri Italia Pilih Mengundurkan Diri

Masalah Pandemi dan Ekonomi Melanda, Perdana Menteri Italia Pilih Mengundurkan Diri

Global
Janet Yellen, Wanita Pertama yang Jadi Menteri Keuangan AS

Janet Yellen, Wanita Pertama yang Jadi Menteri Keuangan AS

Global
Pasangan Bos Kasino Tipu Pemerintah Daerah untuk dapat Vaksin Covid-19 Lebih Cepat

Pasangan Bos Kasino Tipu Pemerintah Daerah untuk dapat Vaksin Covid-19 Lebih Cepat

Global
Pengacara Trump Digugat Rp 18,3 Triliun dari Kasus Hukum Pemilu AS 2020 yang Meluas

Pengacara Trump Digugat Rp 18,3 Triliun dari Kasus Hukum Pemilu AS 2020 yang Meluas

Global
Presiden Biden Copot Dokter Gedung Putih yang Rawat Trump

Presiden Biden Copot Dokter Gedung Putih yang Rawat Trump

Global
Kerusuhan Terjadi di Belanda karena Pembatasan Jam Malam akibat Covid-19

Kerusuhan Terjadi di Belanda karena Pembatasan Jam Malam akibat Covid-19

Global
Selangkah Menuju Sidang Pemakzulan Trump, DPR Kirimkan Artikel Pemakzulan ke Senat

Selangkah Menuju Sidang Pemakzulan Trump, DPR Kirimkan Artikel Pemakzulan ke Senat

Global
Donald Trump Buka Kantor Pribadi Upaya Terus Lancarkan 'Agenda Pemerintahannya'

Donald Trump Buka Kantor Pribadi Upaya Terus Lancarkan "Agenda Pemerintahannya"

Global
6 Hari Menjabat, Berikut Daftar Lengkap Kebijakan Eksekutif Biden

6 Hari Menjabat, Berikut Daftar Lengkap Kebijakan Eksekutif Biden

Global
Champ dan Major Akhirnya Susul Keluarga Biden Tinggal di Gedung Putih

Champ dan Major Akhirnya Susul Keluarga Biden Tinggal di Gedung Putih

Global
komentar
Close Ads X