Dana Bantuan Semakin Turun, Pejabat Palestina Khawatir Itu Akibat Perjanjian Damai Negara Arab-Israel

Kompas.com - 25/09/2020, 21:39 WIB
Warga Palestina berkumpul saat aksi protes memperingati 71 tahun Nakba, atau malapetaka, ketika ratusan ribu mereka dipaksa meninggalkan rumah di tengah perang yang mengelilingi kemerdekaan Israel pada 1948, dekat perbatasan Israel-Gaza, bagian timur Kota Gaza, Rabu (15/5/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammed SalemWarga Palestina berkumpul saat aksi protes memperingati 71 tahun Nakba, atau malapetaka, ketika ratusan ribu mereka dipaksa meninggalkan rumah di tengah perang yang mengelilingi kemerdekaan Israel pada 1948, dekat perbatasan Israel-Gaza, bagian timur Kota Gaza, Rabu (15/5/2019).

RAMALLAH, KOMPAS.com - Para pejabat Palestina khawatir perjanjian baru-baru ini antara Israel dan negara- negara Arab akan mengakibatkan kurangnya dana bantuan.

Laporan Jerusalem Post yang mengutip data dari Layanan Kementerian Keuangan Palestina dan The New Arab, menyebutkan bahwa pemerintah Palestina belum menerima sedikit pun bantuan keuangan dari negara-negara Teluk Arab sejak Maret, serta terdapat penurunan 50 persen dalam bantuan luar negeri.

Baca juga: Faksi Terbesar Palestina, Fatah dan Hamas Sepakat Adakan Pemilihan Umum Setelah 15 Tahun

Secara keseluruhan, dikatakan total pendapatan Ramallah turun sekitar 70 persen tahun ini, seperti yang dilansir dari New York Post pada Kamis (24/9/2020).

Bantuan luar negeri kepada pemerintah Palestina turun drastis menjadi 255 juta dollar AS (Rp 3,8 triliun) dalam 7 bulan pertama tahun ini dari 500 juta dollar AS (Rp 7,4 triliun) tahun lalu.

Pada saat yang sama, bantuan dari negara-negara Arab turun menjadi 38 juta dollar AS (Rp 565,5 miliar) dari 267 juta dollar AS (Rp 3,9 triliun) pada 2019.

Baca juga: Perusahaan Milik Bos Chelsea Roman Abramovich Diduga Danai Upaya Pengusiran Palestina

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad Al-Maliki menjelaskan kepada wartawan bahwa "sebagian besar negara Arab tidak mematuhi keputusan KTT Arab untuk memberikan pengamanan finansial sebesar 100 juta dollar AS (Rp 1,5 triliun) untuk Palestina dalam menghadapi sanksi AS dan Israel."

Laporan itu menunjukkan bahwa pemotongan dana bantuan terjadi selama pandemi virus corona. Namun, kondisi tersebut juga didorong karena pemerintahan Trump menengahi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab.

Baca juga: Kecewa dengan Liga Arab, Palestina Pilih Mundur dari Kursi Kepresidenan Dewan

Presiden Trump berhenti mengirim jutaan dollar bantuan AS ke Palestina, dan telah mendesak negara-negara Arab untuk menghentikan pemotongan cek dana transfer.

Setelah Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel dalam sebuah upacara di Gedung Putih, Trump memperkirakan bahwa Palestina akan diisolasi ketika negara lain mencoba membuat kesepakatan serupa dengan negara Yahudi tersebut.

"Kami tidak tahu apakah ini akibat dampak finansial dari pandemi virus corona, atau atas permintaan Amerika Serikat, seperti yang dikatakan Presiden Trump," kata Al-Maliki.

Baca juga: Pidato Jokowi di Sidang Umum PBB tentang Palestina: No Country Left Behind

“Tapi, hasilnya sama,” tambahnya.

Hilangnya bantuan telah memaksa pemerintah Palestina untuk meningkatkan pinjaman domestik dan mencari sumber pendapatan baru.

Uni Eropa juga telah memerintahkan penyelidikan tentang kemungkinan bantuan dari negara-negara di blok perdagangan itu berakhir di tangan teroris Palestina dan bersikeras bahwa celah yang memungkinkan transfer dana ditutup.

Baca juga: PM Israel Benjamin Netanyahu Disebut Tak Berniat Bahas Perdamaian dengan Palestina


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gali Lubang untuk Kabur, Napi Gemuk Malah 'Nyangkut' di Tembok

Gali Lubang untuk Kabur, Napi Gemuk Malah "Nyangkut" di Tembok

Global
Media China Sebut Jet Tempur Beijing Wajib Terbang di Atas Taiwan

Media China Sebut Jet Tempur Beijing Wajib Terbang di Atas Taiwan

Global
[POPULER GLOBAL] Joe Biden Favorit Kuat Kalahkan Trump | Penumpang Wanita Disuruh Telanjang saat Diperiksa, Australia Komplain ke Qatar

[POPULER GLOBAL] Joe Biden Favorit Kuat Kalahkan Trump | Penumpang Wanita Disuruh Telanjang saat Diperiksa, Australia Komplain ke Qatar

Global
Perang Lawan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh, Istri PM Armenia Ikut Latihan Militer

Perang Lawan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh, Istri PM Armenia Ikut Latihan Militer

Global
Satu Bulan Perang Nagorno-Karabakah, Apa Saja yang Sudah Terjadi?

Satu Bulan Perang Nagorno-Karabakah, Apa Saja yang Sudah Terjadi?

Global
Penumpang Wanita Disuruh Telanjang saat Diperiksa, Australia Komplain ke Qatar

Penumpang Wanita Disuruh Telanjang saat Diperiksa, Australia Komplain ke Qatar

Global
Melbourne Rayakan 'Double Donuts', 2 Hari Beruntun Nol Kasus Baru Covid-19

Melbourne Rayakan "Double Donuts", 2 Hari Beruntun Nol Kasus Baru Covid-19

Global
Dapat Visa Kategori E, Ratusan Pencari Suaka Harus Tinggalkan Australia

Dapat Visa Kategori E, Ratusan Pencari Suaka Harus Tinggalkan Australia

Global
Presiden Perancis dan Kontroversi Kartun Nabi Muhammad

Presiden Perancis dan Kontroversi Kartun Nabi Muhammad

Global
AS Jual Paket Rudal ke Taiwan Seharga Rp 35 Triliun, Begini Kecanggihannya

AS Jual Paket Rudal ke Taiwan Seharga Rp 35 Triliun, Begini Kecanggihannya

Global
Demonstran Thailand Minta Jerman Selidiki Raja Maha Vajiralongkorn

Demonstran Thailand Minta Jerman Selidiki Raja Maha Vajiralongkorn

Global
Ingin Seperti Penjahat di Marvel, Pria Ini Potong Hidung dan Tambahkan Tanduk

Ingin Seperti Penjahat di Marvel, Pria Ini Potong Hidung dan Tambahkan Tanduk

Global
Pekerja Medis Rusia Perlihatkan Jenazah Korban Covid-19 Bertumpuk

Pekerja Medis Rusia Perlihatkan Jenazah Korban Covid-19 Bertumpuk

Global
Tinggal Menghitung Hari, Berikut 5 Masalah Utama dalam Pemilu AS

Tinggal Menghitung Hari, Berikut 5 Masalah Utama dalam Pemilu AS

Global
Trump Ejek Joe Biden karena Memanggilnya 'George'

Trump Ejek Joe Biden karena Memanggilnya "George"

Global
komentar
Close Ads X