Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 18/09/2020, 06:53 WIB
Miranti Kencana Wirawan

Editor

KOMPAS.com - Kasus Ahmed Bassam Zaki, yang dituduh melakukan pemerasan, pelecehan seksual, dan pemerkosaan oleh lebih dari 100 perempuan menyita perhatian publik di Mesir. Diskusi soal kekerasan seksual kembali hangat.

“Dia menjambak rambut saya dan melemparkan saya ke lantai. Dia membuka kancing celana. Saya mencoba berteriak, tapi tidak ada (suara) yang keluar. Setelah dia melakukan apa yang dia inginkan, saya melihat darah di pakaian, saya panik dan yang dia katakan hanyalah 'Temui pamanmu sekarang, pelacur!' Kamu tidak berbeda dari gadis-gadis lain. Saya pergi, menelepon ibu dan menceritakan semuanya tapi ibu tidak melakukan apa pun."

Ini adalah kesaksian salah satu korban Ahmed Bassam Zaki. Sang korban berumur 19 tahun saat kejadian terjadi.

Setelah pemerkosaan tersebut, Zaki mencoba memerasnya dan mengancam akan memberi tahu keluarganya segalanya jika dia tidak tidur dengannya.

Baca juga: Pria Ini Perkosa Lebih dari 50 Wanita, #MeToo Banjiri Media Sosial Mesir

 

Ibu korban kemudian mengambil ponsel dan laptop korban, memaksanya untuk menghapus semua akun media sosialnya dan menyuruh anaknya pergi ke luar negeri.

Tetapi terhadap Zaki sendiri --pemerkosa dan pemeras--, keluarganya tidak melakukan tindakan apa pun.

Fakta bahwa seluruh beban ditimpakan pada korban dan bahwa korban dihukum dua kali sebagai akibatnya sering terjadi dalam kasus kejahatan seksual di Mesir. Sementara di sisi lain, beberapa pelakunya, bebas berkeliaran.

Tidak seperti kasus yang menimpa perempuan muda tadi, kebanyakan korban kekerasan seksual bahkan tidak berbicara kepada keluarganya tentang apa yang terjadi karena takut disalahkan dan dipermalukan.

Seperti yang ditunjukkan oleh banyak pernyataan perempuan Mesir di media sosial, di mana mereka yang berbicara tentang kejahatan seksual, tidak dipercaya atau bahkan dipersalahkan.

Mengapa bisa begitu? Dan apa artinya para pelakunya bisa terus ‘berlenggang kangkung‘ tanpa hukuman?

Baca juga: Ada Pemerkosaan karena Cara Berpakaian Wanita, Al Azhar dan Mufti Mesir: Itu Alasan yang Dibuat-buat

Peran keluarga

Di Mesir, peran keluarga sangat penting dalam kehidupan sosial setiap individu dan berpengaruh besar dalam perkembangan kehidupan individu.

Di Mesir, keluarga masih menjadi elemen inti dan terpenting, serta dalam banyak kasus juga dapat dilihat sebagai cerminan masyarakat.

Studi-studi yang dilakukan seperti Laporan Kesenjangan Gender Global, Indeks Ketimpangan Gender dan survei internasional tentang kesetaraan antara pria dan perempuan di Afrika Utara dan Timur Tengah (IMAGES) menunjukkan bahwa ketidaksetaraan gender yang besar masih terjadi di Mesir.

Dalam Laporan Kesenjangan Gender Global 2020 dari World Economic Forum, Mesir berada di peringkat 134 dari 153.

Di Mesir, sebagian besar anak perempuan dan anak laki-laki masih dibesarkan dengan cara yang spesifikasi gender berbeda; anak perempuan harus mengurus rumah tangga dan pendiam, anak laki-laki harus kuat dan tangguh.

Tindakan dan karakteristik dinilai secara berbeda tergantung pada jenis kelamin. Laki-laki diharapkan untuk menjaga keluarga dan perempuan menjaga rumah.

Hanya dengan mematuhi peran-peran ini, mereka mendapat penerimaan dan pengakuan sosial.

“Masyarakat kita perlu mengubah pola pikirnya. Kita membutuhkan kesetaraan gender. Kita membutuhkan orang tua yang berhenti membesarkan anak-anak mereka secara berbeda hanya karena jenis kelamin mereka,” kata Youtuber Mesir dan aktivis Sherine Arafa.

Dia mengidentifikasi ketidaksetaraan gender sebagai salah satu penyebab utama kekerasan seksual tanpa hukuman di Mesir.

Survei IMAGES tahun 2017 menunjukkan bahwa ada rasa superioritas di antara banyak responden laki-laki, yang berkeyakinan bahwa merekalah yang berhak melindungi dan mengontrol anggota keluarga perempuan mereka.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Festival Pria Telanjang di Jepang Berakhir Setelah Lebih dari 1.000 Tahun

Festival Pria Telanjang di Jepang Berakhir Setelah Lebih dari 1.000 Tahun

Global
Rusia Larang Ekspor BBM 6 Bulan

Rusia Larang Ekspor BBM 6 Bulan

Global
Raja Norwegia Harald V Sakit Saat Liburan di Malaysia, Pesawat Evakuasi Mendarat di Langkawi

Raja Norwegia Harald V Sakit Saat Liburan di Malaysia, Pesawat Evakuasi Mendarat di Langkawi

Global
Rangkuman Hari Ke-737 Serangan Rusia ke Ukraina: Bantuan Belanda | Situasi Pemakaman Navalny

Rangkuman Hari Ke-737 Serangan Rusia ke Ukraina: Bantuan Belanda | Situasi Pemakaman Navalny

Global
Mengapa Mayoritas Wanita Korea Selatan Saat Ini Tak Ingin Punya Anak?

Mengapa Mayoritas Wanita Korea Selatan Saat Ini Tak Ingin Punya Anak?

Global
Belanda Akan Kirim Bantuan Militer Rp 34 Triliun ke Ukraina

Belanda Akan Kirim Bantuan Militer Rp 34 Triliun ke Ukraina

Global
Korban Insiden Bantuan Makanan Gaza: Israel Jelas Menembaki Kami

Korban Insiden Bantuan Makanan Gaza: Israel Jelas Menembaki Kami

Global
Para Editor Media Global Desak Israel Lindungi Jurnalis di Gaza

Para Editor Media Global Desak Israel Lindungi Jurnalis di Gaza

Global
Kali Pertama, AS Akan Kirim Bantuan Makanan ke Gaza dari Udara

Kali Pertama, AS Akan Kirim Bantuan Makanan ke Gaza dari Udara

Global
Warga Swedia Merasa Negaranya Terlalu Banyak Berkorban untuk Gabung NATO

Warga Swedia Merasa Negaranya Terlalu Banyak Berkorban untuk Gabung NATO

Global
[POPULER GLOBAL] Israel Dikecam Tembaki Warga Tunggu Bantuan | Singapura Tambah Pesawat Siluman

[POPULER GLOBAL] Israel Dikecam Tembaki Warga Tunggu Bantuan | Singapura Tambah Pesawat Siluman

Global
Musisi Ini Mainkan Gitar dengan 81 Amplifier Dinyalakan Bersamaan

Musisi Ini Mainkan Gitar dengan 81 Amplifier Dinyalakan Bersamaan

Global
Situasi Pemakaman Navalny, Ribuan Orang Dilarang Masuk, Teriakkan 'Putin Pembunuh'

Situasi Pemakaman Navalny, Ribuan Orang Dilarang Masuk, Teriakkan "Putin Pembunuh"

Global
Nenek Berusia 100 Tahun Ini Rayakan Ulang Tahun Ke-25 di Tahun Kabisat

Nenek Berusia 100 Tahun Ini Rayakan Ulang Tahun Ke-25 di Tahun Kabisat

Global
Buat Artikel yang Diskreditkan Tentara, Rusia Denda Editor Surat Kabar

Buat Artikel yang Diskreditkan Tentara, Rusia Denda Editor Surat Kabar

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com