Setelah November Parlemen Eropa Tidak Akui Alexander Lukashenko Sebagai Presiden Belarusia

Kompas.com - 17/09/2020, 22:46 WIB
Presiden Belarus Alexander Lukashenko ketika berbicara kepada Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin di Minsk, Belarus, pada 3 September 2020. Alexander Astafyev/Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)Presiden Belarus Alexander Lukashenko ketika berbicara kepada Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin di Minsk, Belarus, pada 3 September 2020.

BRUSSEL, KOMPAS.com - Parlemen Eropa pada Kamis (17/9/2020), mengatakan bahwa pemimpin Alexander Lukashenko seharusnya tidak lagi diakui sebagai presiden per November, ketika masa jabatannya berakhir.

Bersama dengan pernyataan itu, Parlemen Eropa juga mengatakan bahwa Uni Eropa akan memberikan sanksi ekonomi kepada Balarus, menurut laporan yang dilansir dari Reuters pada Kamis (17/9/2020).

Dalam sebuah dukungan yang luar biasa untuk pengunjuk rasa pro-demokrasi di Belarus, majelis Uni Eropa memberikan suara 574 banding 37, dengan 82 abstain, untuk menolak hasil resmi dari pemilihan presiden Belarus pada 9 Agustus, yang menurut Barat telah dicurangi.

Baca juga: Presiden Putin Suntikan Dana Dukungan Rp 22,3 triliun untuk Presiden Lukashenko

"UE membutuhkan pendekatan baru terhadap Belarusia, yang mencakup penghentian kerja sama apa pun dengan rezim Lukashenko," kata Petras Austrevicius, anggota parlemen Uni Eropa sentris Lithuania yang mengepalai upaya parlemen untuk menekan pejabat tinggi Belarusia.

Meski pun pemungutan suara Parlemen Eropa tidak mengikat secara hukum, hal itu memiliki bobot politik dan dapat memengaruhi cara UE berinvestasi di Belarus atau memberikan dukungan keuangan.

Baca juga: Presiden Lukashenko: Jika Belarus Tumbang, Rusia Selanjutnya

"Setelah masa jabatan pemimpin otoriter petahana Alexander Lukashenko berakhir pada 5 November, parlemen tidak akan lagi mengakui dia sebagai presiden negara," kata parlemen dalam sebuah pernyataan.

Protes massal sejak pemilihan Agustus telah menjadi ancaman terbesar bagi Lukashenko dan upayanya untuk memperpanjang pemerintahannya selama 26 tahun, meski pun pemerintah Uni Eropa belum menanggapi dengan sanksi yang akan diberikan.

Baca juga: Minggu Kelima Demo Anti-rezim Lukashenko, Massa Bawa Bendera Lama Belarus

Desakan kuat kepada Lukashenko, sehingga membuat dukungan Moskwa menjadi penting untuk kelangsungan hidup Lukashenko sebagai presiden dan Kremlin menuduh Barat mencari revolusi di negara itu.

Alexander Lukashenko sering dipandang sebagai diktator terakhir Eropa. Sebab, dia sudah menjadi Presiden Belarus sejak 1994 silam.

Baca juga: Aksi Gigih Nenek 73 Tahun Viral Saat Ikut dalam Barisan Anti Presiden Lukashenko

Dalam pemilihan presiden 2015, dia menang dengan 83,5 persen. Namun seperti dikutip BBC, dia melenggang tanpa perlu menguras keringat.

Sebabnya adalah tidak ada calon yang menantangnya, serta para peninjau melaporkan adanya masalah pada proses penghitungan dan tabulasi.

Baca juga: Demo Belarus Makin Besar, Puluhan Ribu Orang Desak Presiden Lukashenko Mundur

Pada tahun ini, tantangan mulai didapatkan Lukashenko melalui sosok Tikhanovskaya, yang suaminya Sergei dipenjara saat masa kampanye.

Tikhanovskaya yang merupakan pemimpin oposisi saat ini menyatakan, dia tidak percaya dengan keputusan yang memenangkan petahana.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebijakan Israel jadikan 741 Warga Palestina Tunawisma di Tengah Pandemi Covid-19

Kebijakan Israel jadikan 741 Warga Palestina Tunawisma di Tengah Pandemi Covid-19

Global
Sebelum Beraksi, Pelaku Teror Gereja Perancis Sempat Telepon Keluarga

Sebelum Beraksi, Pelaku Teror Gereja Perancis Sempat Telepon Keluarga

Global
Tak Mau Gencatan Senjata, Ini yang Dijanjikan Azerbaijan-Armenia

Tak Mau Gencatan Senjata, Ini yang Dijanjikan Azerbaijan-Armenia

Global
Sedikitnya 22 Orang Tewas dalam Gempa Bumi di Turki dan Yunani

Sedikitnya 22 Orang Tewas dalam Gempa Bumi di Turki dan Yunani

Global
Keluarga Pelaku Teror di Perancis: Kami Ingin Bukti, jika Benar, Hukum Dia

Keluarga Pelaku Teror di Perancis: Kami Ingin Bukti, jika Benar, Hukum Dia

Global
Warga Perancis Marah menjadi Target Serangan Terorisme

Warga Perancis Marah menjadi Target Serangan Terorisme

Global
Pasca-serangan Teror, Warga Letakkan Bunga dan Lilin di Depan Gereja Notre-Dame

Pasca-serangan Teror, Warga Letakkan Bunga dan Lilin di Depan Gereja Notre-Dame

Global
[POPULER GLOBAL] Detik-detik Teror Brutal di Gereja Notre-Dame Perancis | Militer Taiwan Gelar Ikatan Sipil Sesama Jenis Pertama

[POPULER GLOBAL] Detik-detik Teror Brutal di Gereja Notre-Dame Perancis | Militer Taiwan Gelar Ikatan Sipil Sesama Jenis Pertama

Global
Azerbaijan Klaim Bebaskan 9 Desa di Nagorno-Karabakh dari Pendudukan Armenia

Azerbaijan Klaim Bebaskan 9 Desa di Nagorno-Karabakh dari Pendudukan Armenia

Global
Qatar Akan Tuntut Pegawai yang Periksa Wanita Telanjang di Bandara

Qatar Akan Tuntut Pegawai yang Periksa Wanita Telanjang di Bandara

Global
Ibu Pelaku Teror Penyerangan Pisau di Perancis Menangis dan Terkejut atas Perbuatan Anaknya

Ibu Pelaku Teror Penyerangan Pisau di Perancis Menangis dan Terkejut atas Perbuatan Anaknya

Global
Demo Anti-Perancis Menjalar ke Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan

Demo Anti-Perancis Menjalar ke Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan

Global
Gempa M 7 Guncang Turki, 4 Tewas dan 120 Luka-luka

Gempa M 7 Guncang Turki, 4 Tewas dan 120 Luka-luka

Global
Warga Iran Menanti Hasil Pilpres AS dengan Cemas

Warga Iran Menanti Hasil Pilpres AS dengan Cemas

Global
Turki-Yunani Diguncang Gempa M 7, Air Laut Masuki Kota Pesisir Izmir

Turki-Yunani Diguncang Gempa M 7, Air Laut Masuki Kota Pesisir Izmir

Global
komentar
Close Ads X