Fasilitas Nuklir Iran Natanz Terbakar, Israel Diduga Pasang Bom

Kompas.com - 06/07/2020, 19:30 WIB
Foto ini dirilis Kamis, 2 Juli 2020, oleh Organisasi Energi Atom Iran, menunjukkan sebuah bangunan setelah dirusak oleh api, di fasilitas pengayaan uranium Natanz sekitar 200 mil (322 kilometer) selatan ibukota Teheran, Iran. Sebuah kebakaran membakar gedung di atas fasilitas pengayaan nuklir Natanz bawah tanah Iran, meskipun para pejabat mengatakan itu tidak mempengaruhi operasi centrifuge atau menyebabkan pelepasan radiasi. AP Photo via Atomic Energy Organization of IranFoto ini dirilis Kamis, 2 Juli 2020, oleh Organisasi Energi Atom Iran, menunjukkan sebuah bangunan setelah dirusak oleh api, di fasilitas pengayaan uranium Natanz sekitar 200 mil (322 kilometer) selatan ibukota Teheran, Iran. Sebuah kebakaran membakar gedung di atas fasilitas pengayaan nuklir Natanz bawah tanah Iran, meskipun para pejabat mengatakan itu tidak mempengaruhi operasi centrifuge atau menyebabkan pelepasan radiasi.

TEHERAN, KOMPAS.com - Kebakaran di fasilitas pengayaan nuklir Iran Natanz rupanya menyebabkan kerusakan serius setelah sebelumnya Iran mengklaim kerusakannya minor.

Pejabat intelijen Timur Tengah mengatakan Israel bertanggung jawab terhadap serangan terhadap kompleks fasilitas nuklir Natanz. 

Israel menggunakan bom berdaya ledak tinggi untuk menyerang fasilitas pengayaan nuklir Iran pada Kamis (2/7/2020).

Seorang anggota Korps Garda Revolusi Islam juga mengatakan sebuah bom digunakan untuk menyerang fasilitas tersebut.

Dilansir New York Times Minggu (5/7/2020), kedua sumber ini memilih untuk tidak mengungkapkan identitasnya karena terkait dengan operasi intelijen.

Baca juga: Iran Klaim Bangun Kota Rudal di Bawah Tanah

Sebelumnya, Iran telah mencurigai Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai dalang di balik serangan di situs nuklir Natanz ini.

Pasalnya, kedua negara ini telah menyabotase program nuklir Iran di masa lalu dan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Jika kerusakan di Natanz adalah serangan pihak asing, maka hal ini mempertegas bahwa Iran sedang rentan.

Itu karena perekonomian Iran kena embargo yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump. Populasinya juga sedang rentan karena diserang wabah Covid-19.

Iran semakin terisolasi dari dunia internasional.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Setelah Dilantik, Biden Akan Kembalikan AS ke WHO dan Akhiri 'Muslim Travel Ban'

Setelah Dilantik, Biden Akan Kembalikan AS ke WHO dan Akhiri "Muslim Travel Ban"

Global
Perempuan Berdaya: Pertama dan Satu-satunya Wanita yang Muncul di Uang Kertas AS, Tahukah Siapa?

Perempuan Berdaya: Pertama dan Satu-satunya Wanita yang Muncul di Uang Kertas AS, Tahukah Siapa?

Global
Peserta Ujian Masuk Universitas Langsung Didiskualifikasi karena Menolak Menggunakan Masker dengan Benar

Peserta Ujian Masuk Universitas Langsung Didiskualifikasi karena Menolak Menggunakan Masker dengan Benar

Global
Di Korea Utara, Menonton Drakor Bisa Dipenjara 15 Tahun

Di Korea Utara, Menonton Drakor Bisa Dipenjara 15 Tahun

Global
Film Dokumenter Ungkap Dokter di Wuhan Diminta Bohong soal Covid-19

Film Dokumenter Ungkap Dokter di Wuhan Diminta Bohong soal Covid-19

Global
Ikuti Gaya NATO, Iran Bakal Buat Pakta Pertahanan Bersama Sekutunya

Ikuti Gaya NATO, Iran Bakal Buat Pakta Pertahanan Bersama Sekutunya

Global
Ada Kasus Virus Corona, Ibu Kota China Lockdown Parsial

Ada Kasus Virus Corona, Ibu Kota China Lockdown Parsial

Global
Kenapa Grasi Donald Trump “Berbeda” dari Pemimpin Dunia Lainnya?

Kenapa Grasi Donald Trump “Berbeda” dari Pemimpin Dunia Lainnya?

Global
Salinan Lukisan Salvator Mundi Dicuri dan Ditemukan di Lemari Kamar

Salinan Lukisan Salvator Mundi Dicuri dan Ditemukan di Lemari Kamar

Global
Buktikan Dirinya Sehat, Putin Ceburkan Diri ke Air Bersuhu Minus 17 Derajat Celsius

Buktikan Dirinya Sehat, Putin Ceburkan Diri ke Air Bersuhu Minus 17 Derajat Celsius

Global
Fakta Donald Trump Presiden AS Pertama 'Tidak Memulai Perang Baru' dalam Dekade Terakhir

Fakta Donald Trump Presiden AS Pertama "Tidak Memulai Perang Baru" dalam Dekade Terakhir

Global
Pendiri WikiLeaks Julian Assange Tidak Termasuk dalam Daftar Nama yang Diampuni Trump

Pendiri WikiLeaks Julian Assange Tidak Termasuk dalam Daftar Nama yang Diampuni Trump

Global
Menlu AS: China Lakukan Genosida terhadap Etnik Uighur di Xinjiang

Menlu AS: China Lakukan Genosida terhadap Etnik Uighur di Xinjiang

Global
Warga Desa di India Bergembira Jelang Pelantikan Wapres AS Terpilih Kamala Harris

Warga Desa di India Bergembira Jelang Pelantikan Wapres AS Terpilih Kamala Harris

Global
Thailand Ancam Hukum Penyebar Berita Vaksin Palsu, Setelah Dikritik Soal Vaksin Covid-19

Thailand Ancam Hukum Penyebar Berita Vaksin Palsu, Setelah Dikritik Soal Vaksin Covid-19

Global
komentar
Close Ads X