Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Angkat Bicara, Presiden China Sebut Situasi di Ukraina Mengkhawatirkan, Beijing Akan Kirim Bantuan

Kompas.com - 08/03/2022, 20:15 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber AFP,Reuters

BEIJING, KOMPAS.com - Presiden China Xi Jinping pada Selasa (8/3/2022), mendesak "sikap menahan diri secara maksimum" atas Ukraina dan menyebut krisis di Ukraina sangat mengkhawatirkan.

Xi berbicara demikian dalam pertemuan yang diadakan secara virtual bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Olaf Scholz.

Komentar Xi diketahui datang lebih dari seminggu setelah Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, dengan PBB mengatakan jumlah orang yang melarikan diri dari perang telah melampaui 2 juta. Fenomena ini dilihat sebagai krisis pengungsi yang tumbuh paling cepat sejak Perang Dunia II.

Baca juga: Ukraina Klaim Bunuh 12.000 Tentara dan Hancurkan 303 Tank Rusia

Beijing telah menolak untuk mengecam invasi Rusia oleh mitra dekatnya Rusia.

Menurut laporan televisi nasional China, CCTV, Xi ingin kedua belah pihak, yakni Rusia dan Ukraina bisa mempertahankan momentum negosiasi, mengatasi kesulitan, dan melanjutkan pembicaraan untuk mencapai hasil.

"Kami ingin menyerukan pengekangan (sikap menahan diri) maksimum untuk mencegah krisis kemanusiaan skala besar," ucap Presiden China, dikutip dari AFP.

China akan kirim bantuan kemanusiaan ke Ukraina

Xi menambahkan bahwa situasi saat ini di Ukraina sangat mengkhawatirkan dan China berduka karena ada perang baru di benua Eropa.

China juga mengatakan akan mengirim bantuan kemanusiaan ke Ukraina.

Dikutip dari Reuters, dalam pertemuan virtual, Presiden China menyampaikan Perancis dan Jerman harus melakukan upaya untuk mengurangi dampak negatif dari krisis.

Baca juga: Trump Sebut AS Harus Pasang Bendera China di Jet F-22 dan “Mengebom” Rusia

Xi juga menyatakan keprihatinan tentang dampak sanksi terhadap stabilitas keuangan global, pasokan energi, transportasi dan rantai pasokan.

China, yang telah menolak untuk mengecam tindakan Rusia di Ukraina atau menyebutnya sebagai invasi, telah berulang kali menyatakan penentangannya terhadap apa yang digambarkannya sebagai sanksi ilegal terhadap Rusia.

Persahabatan China dengan Rusia, yang diperkuat bulan lalu ketika Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Beijing pada hari yang sama ketika negara-negara tersebut mendeklarasikan kemitraan strategis "tanpa batas", telah menjadi canggung bagi China ketika perang di Ukraina meningkat.

Rusia menggambarkan tindakannya di Ukraina sebagai "operasi khusus" untuk melucuti senjata tetangganya dan menggulingkan para pemimpin yang disebut neo-Nazi.

Sementara, Ukraina dan sekutu Baratnya menyebut ini sebagai dalih tak berdasar untuk invasi menaklukkan negara berpenduduk 44 juta orang itu.

Baca juga: Ukraina dan Rusia Perang, China Ikut Diuji

Pada Senin (7/3/2022), Menteri Luar Negeri China Wang Yi, sendiri mengatakan kepada wartawan bahwa Beijing terbuka untuk membantu menengahi perdamaian.

Tetapi, Wang Yi juga menekankan bahwa persahabatan antara Beijing dan Moskwa masih "kokoh" meskipun ada kecaman internasional atas invasi Rusia yang sedang berlangsung.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Banjir Bandang Kembali Terjang Afghanistan, 66 Orang Tewas

Banjir Bandang Kembali Terjang Afghanistan, 66 Orang Tewas

Global
Kini, Nyawa PM Slovakia Tak Lagi dalam Bahaya

Kini, Nyawa PM Slovakia Tak Lagi dalam Bahaya

Global
Saat Utusan AS Kunjungi Israel, Pesawat dan Tank Tetap Gempur Gaza

Saat Utusan AS Kunjungi Israel, Pesawat dan Tank Tetap Gempur Gaza

Global
Pria China Tewas Saat Coba Olahraga Kontroversial Seperti Ini

Pria China Tewas Saat Coba Olahraga Kontroversial Seperti Ini

Global
Berakhirnya Era Keluarga PM Lee di Singapura

Berakhirnya Era Keluarga PM Lee di Singapura

Global
Filipina Ganti Komandan Militer di Laut China Selatan

Filipina Ganti Komandan Militer di Laut China Selatan

Global
Serangan Israel di Kamp Pengungsi Gaza Tengah Tewaskan 20 Orang

Serangan Israel di Kamp Pengungsi Gaza Tengah Tewaskan 20 Orang

Global
Raja Salman Nyeri Sendi dan Suhu Tinggi, Akan Jalani Tes Medis

Raja Salman Nyeri Sendi dan Suhu Tinggi, Akan Jalani Tes Medis

Global
Demi Palestina, Mahasiswa Internasional di AS Rela Pertaruhkan Status Imigrasi...

Demi Palestina, Mahasiswa Internasional di AS Rela Pertaruhkan Status Imigrasi...

Global
Rangkuman Hari Ke-815 Serangan Rusia ke Ukraina: Polandia Bangun Benteng di Perbatasan | 9.907 Warga Kharkiv Dievakuasi 

Rangkuman Hari Ke-815 Serangan Rusia ke Ukraina: Polandia Bangun Benteng di Perbatasan | 9.907 Warga Kharkiv Dievakuasi 

Global
Saat Kopi dari Berbagai Daerah Indonesia Tarik Minat Pengunjung Pameran Kopi Akbar di Australia...

Saat Kopi dari Berbagai Daerah Indonesia Tarik Minat Pengunjung Pameran Kopi Akbar di Australia...

Global
Hilang 26 Tahun, Omar Ternyata Diculik Tetangga Hanya 200 Meter dari Rumah

Hilang 26 Tahun, Omar Ternyata Diculik Tetangga Hanya 200 Meter dari Rumah

Global
Saat 800.000 Warga Terpaksa Tinggalkan Rafah Gaza, Pergi ke Daerah-daerah yang Tak Tersedia Air...

Saat 800.000 Warga Terpaksa Tinggalkan Rafah Gaza, Pergi ke Daerah-daerah yang Tak Tersedia Air...

Global
Kabinet Perang Israel Terpecah, Benny Gantz Ancam Mundur

Kabinet Perang Israel Terpecah, Benny Gantz Ancam Mundur

Global
[UNIK GLOBAL] Anggota Parlemen Taiwan Adu Jotos | Pilu Kera Tergemuk di Thailand

[UNIK GLOBAL] Anggota Parlemen Taiwan Adu Jotos | Pilu Kera Tergemuk di Thailand

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com