Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kabinet Perang Israel Terpecah, Benny Gantz Ancam Mundur

Kompas.com - 19/05/2024, 06:28 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber AFP

TEL AVIV, KOMPAS.com - Menteri kabinet perang Israel, Benny Gantz, pada Sabtu (19/5/2024), menyatakan dirinya akan mengundurkan diri dari badan tersebut kecuali Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyetujui rencana pascaperang untuk Jalur Gaza.

"Kabinet perang harus merumuskan dan menyetujui pada 8 Juni sebuah rencana aksi yang akan mengarah pada realisasi enam tujuan strategis yang menjadi kepentingan nasional... (atau) kami akan dipaksa untuk mengundurkan diri dari pemerintahan," kata Gantz, merujuk pada partainya, dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi yang ditujukan kepada Netanyahu.

Gantz mengatakan, keenam tujuan tersebut termasuk menggulingkan Hamas, memastikan kontrol keamanan Israel atas wilayah Palestina, dan mengembalikan para sandera Israel.

Baca juga: Kabinet Perang Israel Putuskan Lanjutkan Operasi di Rafah Gaza meski Dikecam Internasional

"Bersamaan dengan mempertahankan kontrol keamanan Israel, bentuklah pemerintahan Amerika, Eropa, Arab, dan Palestina yang akan mengelola urusan sipil di Jalur Gaza dan letakkan dasar bagi alternatif masa depan yang bukan Hamas atau (Mahmud) Abbas," ujarnya, merujuk pada presiden Otoritas Palestina.

Gantz juga mendesak normalisasi hubungan Israel dengan Arab Saudi.

"Ini sebagai bagian dari langkah keseluruhan yang akan menciptakan aliansi dengan dunia bebas dan dunia Arab untuk melawan Iran dan afiliasinya," ungkapnya, sebagaimana dilansir dari AFP.

Tanggapan Netanyahu

Netanyahu menanggapi ancaman Gantz pada Sabtu dengan mengecam tuntutan menteri tersebut.

"(Itu adalah ) kata-kata palsu yang sudah jelas maknanya: berakhirnya perang dan kekalahan bagi Israel, meninggalkan sebagian besar sandera, membiarkan Hamas tetap utuh, dan berdirinya sebuah negara Palestina," ucapnya.

Baca juga: ICC Didesak Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Netanyahu

Militer Israel telah memerangi militan Hamas di Jalur Gaza selama lebih dari tujuh bulan.

Namun, perpecahan yang luas telah muncul dalam kabinet perang Israel dalam beberapa hari terakhir setelah para pejuang Hamas berkumpul kembali di Gaza utara.

Gaza utara merupakan wilayah di mana Israel sebelumnya mengatakan kelompok Hamas telah dinetralkan.

Sebelumnya, Netanyahu juga mendapat serangan personal dari Menteri Pertahanan Yoav Gallant pada Rabu (15/4/2024), karena gagal mengesampingkan pemerintahan Israel di Gaza setelah perang.

Perang Gaza meletus setelah serangan Hamas pada 7 Oktober ke Israel selatan yang mengakibatkan kematian lebih dari 1.170 orang, menurut penghitungan angka resmi dari Israel.

Kelompok Hamas juga dilaporkan menyandera sekitar 250 sandera, dengan 124 di antaranya diperkirakan masih berada di Gaza, termasuk 37 orang yang menurut militer Israel telah tewas.

Sementara itu, serangan Israel sebagai pembalasan telah mengakibatkan korban jiwa jauh lebih banyak.

Baca juga: Hubungan Biden-Netanyahu Kembali Tegang, Bagaimana ke Depannya?

Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas terbaru menyebut sedikitnya 35.386 orang telah tewas akibat serangan Israel, sebagian besar warga sipil.

Pengepungan Israel juga telah menyebabkan kekurangan pangan dan ancaman kelaparan.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com