Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilanda Kerusuhan, Kaledonia Baru di Ambang Perang Saudara

Kompas.com - 09/06/2024, 14:29 WIB
BBC News Indonesia,
Aditya Jaya Iswara

Tim Redaksi

NOUMEA, KOMPAS.com - Barisan barikade penghalang tetap berdiri tegak di jalan-jalan Noumea, ibu kota Kaledonia Baru, negara yang baru-baru ini dilanda kekerasan terburuk dalam 40 tahun terakhir.

Bagi generasi muda di wilayah otonomi Perancis itu, ketegangan yang membara selama beberapa dekade mencapai titik puncaknya dua pekan lalu.

Tanda yang tersisa dari kekerasan itu adalah rangka mobil yang hangus terbakar dan jendela-jendela pecah yang ditutupi papan kayu.

Baca juga: Kerusuhan dan Kekerasan Terjadi di Kaledonia Baru, Apa yang Terjadi?

Setidaknya tujuh orang—dua di antaranya polisi—tewas dan ratusan orang lain terluka dalam aksi demonstrasi yang berujung pada kericuhan, dipicu oleh rencana reformasi pemilu yang kontroversial.

Perancis menjajah Kaledonia Baru—dengan jumlah penduduk 300.000 orang—pada 1853. Pada 1946, Kaledonia Baru menjadi wilayah luar negeri Perancis.

Kaledonia Baru memiliki sumber daya nikel dalam jumlah besar, komponen penting dalam industri manufaktur elektronik.

Selain itu, wilayah ini juga dipandang oleh Perancis sebagai aset politik dan ekonomi yang strategis di kawasan Pasifik.

Kaledonia Baru memiliki kekuasaan otonomi yang besar, namun di beberapa bidang dia masih sangat bergantung pada Perancis, seperti pertahanan, pendidikan, dan subsidi besar dari Paris.

Kaledonia Baru berjarak sekitar 17.000 km dari daratan Perancis.BBC INDONESIA Kaledonia Baru berjarak sekitar 17.000 km dari daratan Perancis.
Perubahan hukum terkait pemilu yang diusulkan parlemen Perancis akan memberikan hak memilih ke warga Perancis yang telah tinggal di Kaledonia Baru lebih dari 10 tahun.

Reformasi itu bertujuan untuk mengubah sistem pemungutan suara saat ini yang hanya memberikan hak memilih kepada masyarakat adat Kanak dan para pendatang yang datang dari Perancis sebelum 1998.

Banyak warga Kanak khawatir pengaruh politik mereka akan melemah dan kebijakan baru ini akan mengancam referendum kemerdekaan Kaledonia Baru di masa depan.

Presiden Perancis Emmanuel Macron telah menunda rancangan aturan yang memicu rangkaian aksi kekerasan selama berminggu-minggu di Kaledonia Baru.

Keputusan itu disampaikan Macron usai mengunjungi Kaledonia Baru yang terletak di antara Australia dan Fiji di Samudra Pasifik dan berjarak sekitar 17.000 km dari Perancis di benua Eropa.

Sekitar 3.500 polisi telah dikerahkan dari Perancis untuk menjaga keamanan di sana. Bandara internasional Noumea ditutup selama kerusuhan, namun beberapa penerbangan komersil dari sana tetap berjalan.

Selain itu, jam malam juga diberlakukan di seluruh wilayah hingga 10 Juni. Keadaan darurat yang bertujuan untuk menciptakan ketenangan di jalanan dicabut setelah 12 hari.

Baca juga: Duduk Perkara Kerusuhan di Kaledonia Baru

"Kami berada di ambang perang saudara"

Demonstran membawa bendera Kaledonia Baru di Paris. DOK MEGAN WADRIAKO via BBC INDONESIA Demonstran membawa bendera Kaledonia Baru di Paris.
Walaupun ketegangan tampaknya sudah mereda, Marie—bukan nama sebenarnya—mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi baru-baru ini hanyalah "puncak gunung es".

“Krisis yang terjadi di Noumea bukan suatu kebetulan. Di ibu kota terdapat kesenjangan sosial terbesar dan generasi muda paling terpinggirkan,” kata pengacara berusia 27 tahun ini.

Kesenjangan ekonomi yang mendalam sangat mencolok di wilayah otonomi Perancis ini.

Tingkat kemiskinan masyarakat adat Kanak yang mendominasi populasi mencapai 32,5 persen, jauh lebih besar dibandingkan tingkat kemiskinan warga non-Kanak sebesar 9 persen, menurut sensus pada 2019.

Berdasar sensus penduduk pada 2019, sekitar 271.407 orang bermukim di kepulauan tersebut, dengan mayoritas populasi keturunan Melanesia sebesar 41,21 persen.

Adapun 1,4% populasisebanyak 3.789 orangadalah keturunan dari Indonesia, terutama suku Jawa.

Halaman:

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com