Kompas.com - 07/01/2021, 12:31 WIB
Hukuman Kebiri Kimia KOMPAS.com/Akbar Bhayu TamtomoHukuman Kebiri Kimia

KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo telah melegalkan diberlakukannya hukuman berupa kebiri kimia kepada para pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Aturan itu tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak yang telah ditandatangani oleh Presiden.

Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) memberikan pernyataan soal ini.

Sebelumnya, ICJR menyebut undang-undang yang menjadi payung hukum pelaksanaan kebiri kimia memuat sejumlah permasalahan.

Persoalan itu di antaranya dari besarnya anggaran, teknis pelaksanaan, hingga bagaimana jika suatu hari pelaku terbukti tidak bersalah.

Baca juga: ICJR: PP Kebiri Kimia Memuat Banyak Permasalahan

Kali ini, ICJR menyoroti soal kebiri kimia yang dianggap tidak menempatkan korban kekerasan seksual sebagai prioritas negara.

Hal ini sebagaimana disampaikan Direktur Eksekutif ICJR, Erasmus Napitupulu dalam keterangannya, Senin (4/1/2020).

"Hukuman kabiri kimia adalah aturan yang bersifat populis, sampai saat ini komitmen Pemerintah untuk penanganan korban masih minim dan cenderung mundur," kata Erasmus, saat dihubungi Kompas.com.

Ia menyebutkan, aturan ini membuat negara harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk pelaksanaan hukuman kebiri dan juga perlakuan setelahnya.

Padahal, pendanaan yang diberikan pemerintah terhadap upaya penanganan korban kekerasan seksual setiap tahunnya mengalami penurunan, meskipun jumlah korban yang harus ditangani justru cenderung meningkat signifikan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

9.303 Peserta Gugur di Hari Pertama dan Kedua UTBK, Apa Sebabnya?

9.303 Peserta Gugur di Hari Pertama dan Kedua UTBK, Apa Sebabnya?

Tren
Viral Unggahan Gerombolan Pemuda Disebut Kebut-kebutan di Jalanan Kota Klaten, Kini Diburu Polisi

Viral Unggahan Gerombolan Pemuda Disebut Kebut-kebutan di Jalanan Kota Klaten, Kini Diburu Polisi

Tren
Vaksin Nusantara Abaikan Saran BPOM, Epidemiolog Ingatkan Bahayanya

Vaksin Nusantara Abaikan Saran BPOM, Epidemiolog Ingatkan Bahayanya

Tren
Denmark Hentikan Penggunaan Vaksin Covid-19 AstraZeneca Secara Total

Denmark Hentikan Penggunaan Vaksin Covid-19 AstraZeneca Secara Total

Tren
Jaga Selalu Kebersihan Rongga Mulut agar Tak Mual Selama Puasa

Jaga Selalu Kebersihan Rongga Mulut agar Tak Mual Selama Puasa

Tren
Apakah Ada Passing Grade untuk SKD Sekolah Kedinasan? Ini Jawaban BKN

Apakah Ada Passing Grade untuk SKD Sekolah Kedinasan? Ini Jawaban BKN

Tren
Layanan Penukaran Uang untuk Lebaran Dibuka hingga 11 Mei 2021, Tidak Melayani Perorangan

Layanan Penukaran Uang untuk Lebaran Dibuka hingga 11 Mei 2021, Tidak Melayani Perorangan

Tren
Makan Sahur Setelah Imsak, Batalkah Puasanya? Ini Penjelasan MUI

Makan Sahur Setelah Imsak, Batalkah Puasanya? Ini Penjelasan MUI

Tren
Tips Jaga Pola Makan pada Bulan Puasa

Tips Jaga Pola Makan pada Bulan Puasa

Tren
Beredar Kabar Maskapai Citilink Berhenti Terbang Mulai 6-17 Mei, Benarkah?

Beredar Kabar Maskapai Citilink Berhenti Terbang Mulai 6-17 Mei, Benarkah?

Tren
Simak, Ini Syarat Mengajukan BLT UMKM Rp 1,2 Juta dan Cara Cek Penerima di eform.bri.co.id

Simak, Ini Syarat Mengajukan BLT UMKM Rp 1,2 Juta dan Cara Cek Penerima di eform.bri.co.id

Tren
Pencegahan dan Penanganan Sakit Gigi Selama Puasa

Pencegahan dan Penanganan Sakit Gigi Selama Puasa

Tren
Berkaca dari Kasus Gay di Thailand, Mengapa Netizen Gemar Nyinyir dan Komentar Negatif di Jagat Maya?

Berkaca dari Kasus Gay di Thailand, Mengapa Netizen Gemar Nyinyir dan Komentar Negatif di Jagat Maya?

Tren
Ingin Tinggal Lebih Lama di Indonesia? Begini Cara Mengajukan Visa Onshore via Online

Ingin Tinggal Lebih Lama di Indonesia? Begini Cara Mengajukan Visa Onshore via Online

Tren
Update Sekolah Kedinasan: 5 Instansi Pelamar Terbanyak dan 7 Tahap Penerimaannya

Update Sekolah Kedinasan: 5 Instansi Pelamar Terbanyak dan 7 Tahap Penerimaannya

Tren
komentar
Close Ads X