Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gempa Guncang Bayah, Belajar dari Gempa Banten BMKG Dorong Ahli Kontruksi Aktif Mitigasi Ancaman Dampak

Kompas.com - 04/02/2022, 18:25 WIB
Ellyvon Pranita,
Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

Tim Redaksi

KOMPAS.com- Gempa Bayah mengguncang Laut Banten, berkekuatan M 5,5. Gempa bumi tektonik mengguncang Laut Banten pada kedalaman 10 kilometer, pukul 17.10 WIB, Jumat (4/2/2022). 

Gempa kali ini kembali menghebohkan masyarakat, sekitar Banten sampai Jakarta. Kejadian gempa di sekitar wilayah Banten ini, bukan kali pertama yang terjadi.

Sebelumnya, pada 14 Januari 2022 lalu, gempa bumi tektonik bermagnitudo 6,6 pernah mengguncang wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dalam gempa bumi tersebut, terjadi kepanikan masyarakat dan kerusakan bangunan yang cukup parah.

Belajar dari kejadian gempa Banten, 14 Januari 2022 lalu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menegaskan, belajar dari kejadian-kejadian gempa merusak di Banten dan banyak daerah lainnya, para ahli konstruksi harus berperan aktif dalam upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami.

Baca juga: Gempa Terkini: Gempa Bayah M 5,5 Guncang Banten, Terasa Sampai Jakarta dan Pelabuhan Ratu

 

Menurut Dwikorita, peran aktif ahli konstruksi ini perlu ditingkatkan karena banyaknya korban berjatuhan saat gempa bumi terjadi bukanlah dari getaran atau guncangan gempa yang terjadi.

Melainkan, sumber utama atau penyebab korban berjatuhan saat gempa bumi atau tsunami terjadi adalah akibat struktur bangunan yang tidak tahan gempa.

"Bukan gempa bumi yang mengakibatkan korban jiwa maupun luka-luka dalam setiap kejadian, tapi akibat tertimpa bangunan," kata Dwikorita dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (29/1/2022).

Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan bahwa dinamika kegempaan yang tidak menentu, ditambah dengan tata ruang, penataan kawasan lingkungan permukiman yang tidak dirancang dengan baik dan adaptif terhadap bencana dapat semakin memperburuk akibat yang ditimbulkan oleh gempabumi. 

Hal ini akan berdampak lebih buruk lagi jika masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengatisipasi dan menghadapi bencana.

Baca juga: Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Ilustrasi gempa terkini, gempa bumi, gempa tektonik, gempa tidak berpotensi tsunami.SHUTTERSTOCK/Andrey VP Ilustrasi gempa terkini, gempa bumi, gempa tektonik, gempa tidak berpotensi tsunami.

Gempa Banten jadi alarm mitigasi konstruksi

Dwikorita menyebut, gempa Banten sebagai "alarm", sehingga usaha kewaspadaan, kesiapsiagaan dan mitigasi secara struktural maupun kultural terhadap bencana gempabumi dan tsunami perlu terus ditingkatkan.

Partisipasi aktif dari kelima unsur Pentahelix (pemerintah, akademisi, pihak swasta atau industri, komunitas, dan media), menjadi kunci dalam manajemen bencana di Indonesia.

Melihat dari situasi gempa bumi di Banten 14 Januari 2022 lalu, kata dia, kepanikan masyarakat dan kerusakan bangunan yang cukup parah telah mengajarkan kita banyak hal.

Terutama mengenai realitas bahwa Indonesia memang belum siap manakala gempa besar sewaktu-waktu mengguncang.

Gambaran sikap masyarakat yang panik, lanjut Dwikorita, membawa pesan tersendiri khsususnya bagi para stakeholder, para asosiasi profesi bangunan dan kementerian atau lembaga terkait, terkait perlunya pemahaman kewilayahan terutama yang berpotensi menjadi wilayah terdampak, yang perlu diikuti dengan perencanaan dan konsep pembangunan yang sudah memperhitungkan risiko potensi dampak akibat bahaya gempabumi di wilayahnya. 

Baca juga: Skenario Terburuk Gempa Banten yang Mengancam Wilayah Jakarta

 

“Hasil kajian BMKG, selain karena lokasi yang berada di atas lapisan tanah dengan klasifikasi jenis tanah lunak (SE) juga karena konstruksi bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa,” jelasnya.

Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) sebagai organisasi yang menaungi para ahli konstruksi Indonesia diharapkan mampu turut menyelesaikan berbagai persoalan tersebut. 

Dwikorita berkata, perlu dibangun pemahaman kembali bagaimana perlunya memperketat penerapan peraturan pembangunan bangunan tahan gempa di wilayah atau zona yang berpotensi terdampak akibat aktivitas suatu sumber kegempaan.

“Saya berharap HAKI bisa turut bersinergi dan berkolaborasi memberikan rekomendasi-rekomendasi positif kepada pemerintah daerah sehingga bisa dapat segera diintegrasikan dalam kebijakan-kebijakan konkrit. Mengingat, langkah dan sistem mitigasi kebencanaan menjadi wewenang dan tanggung jawab penerintah daerah atau kota sesuai Permendagri No 101 Tahun 2018,” tegasnya.

Hari ini, gempa bumi kembali mengguncang wilayah Banten. Gempa Bayah yang terjadi ini dirasakan warga Jakarta hingga Pelabuhan Ratu.'

Baca juga: Gempa Sukabumi Hari Ini dan Gempa Banten, Apakah Berkaitan? Ini Penjelasan Ahli

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com