Kompas.com - 24/01/2022, 17:05 WIB

KOMPAS.com - Para ilmuwan mengidentifikasikan adanya subvarian dari virus corona varian Omicron yang dijuluki BA.2. Setidaknya, lebih dari 400 orang di Inggris dilaporkan telah terinfeksi subvarian Omicron ini.

Melansir Aljazeera, Sabtu (22/1/2022) varian Omicron sudah menjadi strain virus yang mendominasi dalam beberapa bulan terakhir di Inggris.

Di tengah lonjakan kasus Covid-19 akibat varian B.1.1.529, saat ini otoritas kesehatan Inggris mengidentifikasi ratusan kasus dari subvarian Omicron BA.2 dalam 10 hari terakhir di bulan Januari 2022.

Data yang ada menunjukkan bahwa keturunan Omicron ini diduga lebih mudah menyebar. Kini, Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mulai meneliti subvarian BA.2 tersebut untuk mengetahui karakteristiknya.

Baca juga: Israel Laporkan Kasus Infeksi Subvarian Delta, Apa Itu?

Pada Jumat, (21/1/2022) UKHSA telah menetapkan sub-garis keturunan BA.2 sebagai variant under investigation atau varian yang sedang diselidiki (VUI) karena kasus-kasusnya terus meningkat di tengah melonjaknya garis keturunan BA.1 saat ini masih mendominasi di Inggris.

Untuk diketahui, BA.1 adalah subvarian Omicron yang lebih dahulu ditemukan.

Kendati demikian, pejabat kesehatan setempat menggarisbawahi hingga saat ini masih belum ada kepastian terkait signifikansi perubahan pada genom virus.

Oleh sebab itu, diperlukan yang memerlukan pengawasan karena dalam beberapa waktu terakhir terjadi peningkatan kasus yang tajam akibat subvarian BA.2 terutama di India dan Denmark.

"Hal yang mengejutkan kami adalah kecepatan subvarian ini, yang telah beredar luas di Asia, telah mendominasi Denmark," jelas Ahli Epidemiologi Perancis, Antoine Flahault.

Dia menambahkan, para ilmuwan harus mengevaluasi terlebih dahulu bagaimana virus terus berevolusi dan bermutasi. Sub-garis keturunan varian Omicron disebut tidak memiliki mutasi spesifik yang dapat digunakan untuk melacak dan membandingkan BA.1 dengan varian Delta.

Meski subvarian BA.2 belum ditetapkan sebagai variant of concern (VoI) Flahault berkata bahwa semua negara di dunia perlu waspada terhadap perkembangan terbaru selagi para ilmuwan menyelidiki virus tersebut.

Dia memprediksi bahwa negara seperti Perancis akan melaporkan peningkatan kasus Covid-19 akibat subvarian yang tampaknya sangat menular namun ditengarai tidak lebih ganas dari subvarian BA.1.

“Yang menarik bagi kami adalah jika (subvarian) ini memiliki karakteristik yang berbeda dari BA.1 dalam hal penularan dan tingkat keparahan," papar pejabat di Badan Kesehatan Masyarakat Perancis yang tidak disebutkan namanya.

Sejauh ini hanya ada sedikit kasus dari BA.2 yang muncul di Perancis, tetapi mereka terus memantau perkembangannya di seluruh wilayah.

Di sisi lain, Flahault yang juga direktur di Institute of Global Health di University of Geneva mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi harus selalu waspada setelah subvarian BA.2 ini teridentifikasi.

“Pengamatan awal dari India dan Denmark menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan terkait tingkat keparahan dibandingkan dengan BA.1,” kata ahli virologi di Imperial College, London, Tom Peacock.

Baca juga: Mungkinkah Infeksi Omicron dan Delta Terjadi Bersamaan? Ini Kata Pakar

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Aljazeera
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.