Kompas.com - 17/05/2021, 15:15 WIB
Ilustrasi cuaca panas shutterstockIlustrasi cuaca panas


KOMPAS.com- Masyarakat di sejumlah wilayah banyak mengeluhkan cuaca yang terasa panas akhir-akhir ini, baik siang maupun di malam hari.

Tidak sedikit akibat cuaca panas tersebut membuat masyarakat merasakan gerah dan berkeringat berlebihan.

Apa yang menyebabkan cuaca panas ini terjadi dan apakah ini pertanda awal musim kemarau?

Menjawab keresahan tersebut, Koordinat Bidan Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Miming Saepudin mengatakan kondisi yang terjadi di wilayah Indonesia saat ini adalah kondisi suhu panas harian.

Kondisi suhu panas harian umumnya disebabkan oleh kondisi cuaca cerah pada siang hari dan relatif lebih signifikan pada saat posisi semu Matahari berada di sekitar ekuatorial.

Pada pertengahan Mei ini, posisi semu matahari sudah berada di Belahan Bumi Utara (BBU) di sekitar 19 derajat LU.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Aspal Bisa Jadi Penyebab Polusi Udara Saat Cuaca Panas, Kok Bisa?

 

Kondisi tersebut secara tidak langsung mengindikasikan bahwa di wilayah Indonesia selatan ekuator akan menjelang periode angin timuran yang identik dengan periode musim kemarau.

"Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki awal musim kemarau dimana tingkat perawanan akan cukup rendah pada siang hari," kata Miming kepada Kompas.com, Senin (17/5/2021).

Oleh karena itu, kata dia, masyarakat dihimbau dan diharapkan tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas atau kondisi terik pada siang hari dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan diri, keluarga serta lingkungan.

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum tanggal 16 Mei 2021 tercatat berkisar antara 33-35,2 derajat Celsius dengan suhu maksimun 35,2 derajat Celsius terjadi di Surabaya

Kondisi suhu maksimum dengan kisaran tersebut masih berada kondisi normal, di mana perubahan suhu maksimum harian, yakni cuaca panas, masih dapat terjadi dalam skala waktu harian bergantung pada kondisi cuaca atau tingkat perawanan di suatu wilayah.

Baca juga: Cuaca Panas Melanda Indonesia, Kok Bikin Lelah dan Ngantuk?



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X