Kompas.com - 25/02/2021, 16:03 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19, uji vaksin Covid-19 pada varian virus corona Afrika Selatan. Novovax dan Johnson and Johnson ujikan vaksin virus corona pada varian baru virus corona Afrika Selatan, hasilnya efikasi vaksin kurang efektif. SHUTTERSTOCK/PalSandIlustrasi vaksin Covid-19, uji vaksin Covid-19 pada varian virus corona Afrika Selatan. Novovax dan Johnson and Johnson ujikan vaksin virus corona pada varian baru virus corona Afrika Selatan, hasilnya efikasi vaksin kurang efektif.


KOMPAS.com - Hasil kajian yang dilakukan oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) menemukan bahwa dosis tunggal vaksin Johnson & Johnson aman dan efektif melawan virus corona penyebab Covid-19.

Dengan temuan tersebut, vaksin Johnson and Johnson kemungkinan akan menjadi vaksin Covid-19 ketiga yang akan disahkan penggunaannya di Amerika Serikat, mungkin dalam beberapa hari.

Kemanjuran vaksin Johnson and Johnson

Dalam dokumen briefing terhadap data yang diserahkan oleh Janssen, FDA menyimpulkan bahwa vaksin Johnson and Johnson yang Janssen Ad26.COV2.S ini hanya memerlukan satu dosis injeksi intramuskular (0,5 mililiter) saja untuk membangun imunitas tubuh.

Meski demikian, bukan berarti perlindungan terbentuk secara instan.

Baca juga: Vaksinasi Tahap Kedua Indonesia, Apa Saja Efek Samping Vaksin Covid-19 pada Lansia?

Perlindungan terhadap infeksi Covid-19 gejala sedang dan ringan dimulai sekitar dua minggu setelah divaksin, dan meningkat hingga 72 persen dalam waktu satu bulan.

Ilustrasi vaksin Pfizer 90 persen efektif berdasarkan pengamatan dari sekitar 43.000 relawan di Amerika Serikat (AS), hanya 94 orang yang terkonfirmasi Covid-19, sejak pemberian dosis kedua vaksin Covid-19 atau plasebo.SHUTTERSTOCK/Blue Planet Studio Ilustrasi vaksin Pfizer 90 persen efektif berdasarkan pengamatan dari sekitar 43.000 relawan di Amerika Serikat (AS), hanya 94 orang yang terkonfirmasi Covid-19, sejak pemberian dosis kedua vaksin Covid-19 atau plasebo.

Setidaknya 14 hari sejak divaksin, vaksin ini ditemukan memiliki "manfaat yang diketahui" dalam mengurangi risiko infeksi penyakit Covid-19 yang bergejala dan risiko infeksi Covid-19 dengan gejala berat.

Uji coba vaksin corona Johnson and Johnson yang dilakukan di Amerika Serikat, Afrika Selatan dan Brasil bahkan menemukan bahwa vaksin ini 85 persen efektif melawan infeksi Covid-19 bergejala berat, meskipun turun menjadi 66 persen efektif jika infeksi Covid-19 bergejala sedang juga diperhitungkan.

Akan tetapi, perlindungan keseluruhan lebih rendah di Afrika Selatan dan Brasil, di mana di kedua negara ini varian baru virus corona menjadi semakin dominan.

Kabar baiknya adalah setelah 28 hari vaksinasi, data menunjukkan tidak ada kematian di antara peserta yang telah menerima vaksin Johnson and Johnson dan tidak ada yang dilaporkan masuk rumah sakit karena infeksi virus corona pascavaksinasi.

Baca juga: Indonesia Masuki Tahap Kedua Vaksinasi Covid-19, Ini Syarat Penerima Vaksin

Sayangnya, FDA belum bisa menilai ketahanan efektivitas vaksin ini lewat dari dua minggu setelah divaksin.

Efek samping cenderung ringan

Menurut analisis FDA, vaksin Covid-19 buatan Johnson & Johnson ini dinilai aman.

Efek samping yang dialami oleh para partisipan uji klinis cenderung ringan, yakni nyeri di lokasi suntikan, sakit kepala, kelelahan dan sakit otot.

Ada juga partisipan yang mengalami ruam usai disuntik vaksin, meski mayoritas efek samping yang disebutkan menghilang dalam dua hari.

Kemudian, tidak ada partisipan yang dilaporkan mengalami reaksi alergi serius usai mendapatkan vaksin ini.

FDA memang mencatat bahwa jumlah kasus pengentalan darah dan dengung di telinga pada kelompok partisipan yang mendapat vaksin, lebih tinggi dibanding kelompok yang mendapat plasebo.

Namun menurut FDA, data yang ada saat ini belum cukup untuk menentukan hubungan sebab-akibat antara kasus-kasus tersebut dengan vaksin Johnson & Johnson.

Baca juga: Studi Inggris pada Vaksin Pfizer, 1 Dosis Kurangi Risiko Infeksi Corona 75 Persen

Dipertimbangkan untuk EUA

Komite ahli eksternal akan melakukan pertemuan pada Jumat (26/2/2021), untuk merekomendasikan apakah FDA perlu segera mengesahkan vaksin tersebut, yang mungkin akan menambah ketersediaan vaksin corona di Amerika Serikat.

Pejabat Gedung Putih juga menyebut bahwa pemerintah AS mengantisipasi pendistribusian vaksin setidaknya dengan menyiapkan 3 juta dosis vaksin Johnson & Johnson pada minggu depan, jika FDA telah mengeluarkan izin otorisasi darurat (EUA).

Perusahaan pembuat vaksin ini, Janssen, pun berencana untuk memproduksi 20 juta dosis pada akhir Maret 2021, sejalan dengan kesepakatan untuk memasok 100 juta dosis vaksin Covid-19 di AS pada akhir Juni 2021.

Para ahli menilai bahwa vaksin Johnson and Johnson akan menjadi alternatif dari vaksin yang sudah mulai digunakan di Amerika Serikat saat ini, yakni vaksin Pfizer dan Moderna. Bahkan vaksin Janssen ini disebut hemat biaya karena dapat disimpan di lemari es alih-alih freezer seperti vaksin Pfizer dan Moderna.



Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X