Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Kompas.com - 24/11/2020, 10:05 WIB
Ellyvon Pranita,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peneliti menyebutkan status dan tren keanekeragaman hayati Indonesia, menempati peringkat pertama sebagai salah satu pusat agro biodiversitas dunia.

Peringkat pertama ini, jika keanekaragaman hayati digabungkan antara biodiversitas di laut dan juga di terrestrial darat.

Peneliti Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Rosichon Ubaidillah mengatakan, Indonesia sebagai salah satu pusat agro biodiversitas dunia dengan 10 persen spesies tumbuhan dunia.

Baca juga: Rusaknya Biodiversitas karena Ulah Manusia Picu Munculnya Covid-19

Rosichon menjelaskan, flora dan fauna di tujuh pulau utama Indonesia yaitu terutama Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Lesser Sunda, Mollucas, dan Papua sangat mendominasi.

"Jawa masih menjadi pulau tertinggi diversitas floranya. Hal ini karena eksplorasi banyak dilakukan di pulau Jawa," kata Rosichon dalam International Webinar on Indonesian Biodiversity "Mainstreaming biodiversity conservation, bioprospection, and bioeconomy for sustainable livelihood seperti dikutip dari laman resmi LIPI, Rabu (16/9/2020).

Tren dan status biodiversitas Indonesia

1. Keanekaragam Flora

Berdasarkan data Retnowati er.al tahun 2019 keanekaragaman jenis fungi yaitu bryophytes dan eudicots terbanyak di Pulau Jawa, berturut-turut sekitar 1728, 2088, dan 6456 jenis.

Sementara, untuk di wilayah Sumatera, flora yang paling banyak ditemukan adalah dari grup taxa pteridophyta sebanyak 724 jenis dan gymnosperms sebanyak 66 jenis.

Sedangkan, di Pulau Kalimantan paling banyak ditemukan grup taxa basal angiosperms sebanyak 656 jenis dan monocots sebanyak 3123 jenis.

2. Keanekaragaman Fauna

Untuk keanekaragaman fauna, tercatat sekitar 12 persen mamalia dunia atau 773 spesies mamalia ada di Indonesia.

Spesies terbanyak terdapat di Kalimantan dan jenis spesies endemik tertinggi terdapat di Papua dan Sulawesi.

Di wilayah Papua, ternyata keanekaragaman fauna terbanyak adalah jenis burung dan amphibi yaitu sekitar 671 jenis burung dan 151 jenis amphibi.

Di Pulau Kalimantan, keanekaragaman fauna terbanyak adalah jenis reptil 227 jenis, ikan 738 jenis dan mollusca 558 jenis.

Sedangkan, jenis crustacea terbanyak terdapat di Sulawesi sebanyak 98 jenis dan jenis kupu-kupu terbanyak terdapat di Sumatera.

Baca juga: Indonesia Negara ke-6 dengan Kepunahan Biodiversitas Tertinggi

 

Tantangan tren dan status biodiversitas Indonesia 

Rosichon menuturkan, status dan tren keberagaman flora dan fauna saat ini terus berpacu dengan laju kepunahan, serta kondisi biodiversitas yang semakin terbatas dan rapuh tentunya sangat beralasan. 

Berikut jumlah fauna yang masuk kategori terancam punah.

- Mamalia sekitar 191 spesies

- Burung,33 spesies

- Amphibi, 33 spesies

- Reptil , 30 spesies

- Ikan, 231 spesies

- Mollusca, 63 spesies

- Kupu-kupu, 26 spesies

- Lebah madu, 7 spesies

Bahkan, dua jenis di antara lebah madu tersebut yaitu Affi, koschevnikovi dan Affis nogrocinta merupakan jenis endemik yang saat ini berstatus akan terancam punah.

"Tindakan harus segera diambil dalam rangka menyelamatkan biodiversitas tersebut," ujar Rosichon.

Baca juga: Laporan PBB: Biodiversitas Hutan Terancam Banyak Faktor, Apa Saja?

Peran penting keanekaragaman hayati Indonesia

Rosichon mengungkapkan kekhawatirannya, terhadap kondisi biodiversitas yang semakin terbatas dan rapuh.

"Keanekaragaman hayati memegang peranan penting dalam menyediakan makanan, air, tempat berteduh, udara bersih, dan obat-obatan untuk kita. Bayangkan jika sedikit demi sedikit keragaman tersebut hilang tentu keberlanjutan akan semakin terancam," jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan komitmen penuh unyuk melindungi dan memastikan keberlanjutan biodiversitas Indonesia ini.

Menjaga biodiversitas Indonesia

"Tindakan harus segera diambil dalam rangka mewujudkan target keanekaragaman hayati Aichi 2020 dan target nasional," tegas Rosichon.

Komunitas ilmiah dan peneliti juga diharapkan harus mengambil peran, seperti melakukan penelitian-penelitian lanjutan guna menghasilkan produk yang dapat digunakan untuk kesejahteraan manusia dan menjaga kesehatan alam.

"Penelitian tentang pengembangan dan penerapan konservasi yang lebih efektif serta mengarah pada pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, termasuk penghijauan kota sangat diperlukan."

Selain itu, penelitian multidisiplin, transdisipliner, interdisipliner dan kolaborasi penelitian global akan sangat menguntungkan jika dilakukan.

                 Sebab, keanekaragaman hayati Indonesia masih kurang dipelajari, dan nilainya belum dieksplorasi jika hanya berdasarkan penggunaan langsung tanpa nilai tambah.

Rocichon menambahkan, survei keanekaragaman hayati dan studi taksonomi memiliki peran penting, terutama di daerah dengan inventarisasi yang buruk. 

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait keanekaragaman hayati, juga perlu dipercepat untuk mendapatkan manfaat yang optimal. 

Baca juga: Ikan Asing Sumber Kerusakan Keanekaragaman Hayati Indonesia, Mengapa?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com