Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Calon Ketum IAI Tanggapi Maraknya Praktik Arsitek Asing di Indonesia

Kompas.com - 19/09/2021, 07:00 WIB
Muhdany Yusuf Laksono,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi


JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah arsitek Indonesia risau dengan kehadiran arsitek luar negeri yang memiliki proyek di tanah air.

Sementara, belum tentu para arsitek Indonesia bisa melakukan hal yang sama seperti mereka di mancanegara.

Hal tersebut tersuguhkan dalam kegiatan bertajuk 'Visioning Tiga Kandidat Ketua Umum IAI 2021-2024" pada Sabtu (18/09/2021), di Bandung dan berlangsung secara virtual.

Ketiga kandidat tersebut adalah Ahmad Saifudin Mutaqi, Gerogius Budi Yulianto, dan I Ketut Rana Wiarcha.

Baca juga: Inilah Tiga Kandidat Ketua Umum IAI 2021-2024

Lalu bagaimana tanggapan mereka terkait kejadian tersebut? Ahmad Saifudin Mutaqi menjadi orang pertama yang diberi kesempatan untuk menanggapi.

Dia mengatakan, praktik arsitek asing dan lintas provinsi sejatinya sudah diatur. 

"Jangan khawatir. Kalau orang akan masuk bahkan lintas provinsi sudah diatur sedemikian rupa oleh penyelenggara bangunan gedung. Disitu mengatur lisensi," katanya.

Menurut Ahmad, jika terdapat arsitek asing datang, yang bersangkutan harus terlibat dalam uji lisensi dan sebagainya.

"Saya rasa itu sudah ada aturannya di organisasi arsitek ASEAN dan sebagainya, lalu MRE juga sudah mengatur sedemikian rupa," ujar Ahmad.

Uud, sapaannya, menegaskan sudah ada kesetaraan antara arsitek luar negeri dengan arsitek Indonesia. Maka dari itu tidak perlu khawatir.

Baca juga: 7.000 Anggota Bersertifikat Ditargetkan Ikut Voting Ketum IAI

Sementara itu, Georgius Budi Yulianto mengatakan, fenomena tersebut juga terlindungi dalam aturan. Namun, dia menitikberatkan pada peran lisensi.

"Tapi dari segi lisensi saya rasa organisasi harus menerbitkan lisensi. Karena lisensi tidak hanya melindungi kita dari arsitek luar negeri, tapi juga lintas provinsi," tutur Budi.

Boegar, sapaannya, mencontohkan dirinya yang berasal dari Jakarta akan praktik di Bandung. Dalam hal ini, dia harus mengantongi lisensi dari Jawa Barat. Begitu juga sebaliknya.

Akan tetapi, dia merasa ada hal positif dari kehadiran arsitek luar negeri di Indonesia. Yakni bisa bertukar pikiran, konsep dan teknologi. Di sisi lain kesejawatan juga bisa terbangun.

"Tapi secara umum terkait praktik arsitek tluar negeri tidak perlu khawatir karena sudah diperjuangkan oleh kepengurusan saat ini," cetus Boegar.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com