Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banyak Orang Asia hingga Amerika Latin Diperkirakan Konsumsi Serangga

Kompas.com - 14/05/2024, 15:27 WIB
Albertus Adit

Penulis

Sumber Sky News

KOMPAS.com - Menurut sebuah penelitian, serangga memiliki kandungan protein yang tinggi. Serangga juga bermanfaat untuk mengurangi obesitas.

Bahkan para peneliti mengatakan gagasan beternak serangga mendapat lebih banyak perhatian, karena bisa mengurangi tingginya emisi gas rumah kaca.

Dikutip dari Sky News pada Selasa (14/5/2024), ratusan juta orang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin diperkirakan sudah mengonsumsi serangga hingga tingkat tertentu.

Baca juga: Studi Terbaru: Lampu Jalan LED Musnahkan Populasi Serangga Inggris

Ada harapan bahwa sikap masyarakat Barat akan berubah seiring berjalannya waktu, mungkin dengan cara yang sama seperti makanan sushi yang menjadi makanan utama.

"Serangga berpotensi kaya akan protein dan nutrisi mikro dan dapat membantu memberikan solusi terhadap beban ganda obesitas dan kekurangan gizi," kata pemimpin penelitian Dr. Lauren McGale, dari Edge Hill University di Lancashire.

Beberapa protein serangga, seperti jangkrik atau ulat bambu kering beku, lebih murah dan mudah dibudidayakan.

"Dari serangga ini seringkali lebih rendah lemaknya dan memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan ternak tradisional," imbuh dia.

Namun, sebagian besar orang masih enggan karena prasangka mengenai rasa dan penampilan.

Tetapi, penelitian ini juga menemukan cara lain untuk mengonsumsi serangga yakni dengan digiling menjadi bubuk.

"Hal ini telah berhasil dilakukan pada produk beras yang difortifikasi dengan tepung jangkrik atau belalang di belahan dunia lain," tutur rekan penulis Dr. Maxine Sharps dari De Montfort University.

Orang-orang yang lebih muda juga tampak lebih tidak menyukai makanan serangga dan menyatakan tidak pada gagasan tersebut.

Baca juga: Pedemo Israel Cegat Truk Bantuan ke Gaza, Banting Makanan sampai Berserakan

"Faktor rasa jijik adalah salah satu tantangan paling penting yang harus diatasi," tandas Dr. Sharps.

Temuan penelitian ini dipresentasikan pada Kongres Eropa tentang Obesitas (ECO) minggu ini di Venesia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com