Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rusia Bergeser ke Arah Ekonomi Perang, AS Mulai Siapkan Sanksi Khusus

Kompas.com - 29/05/2024, 19:15 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber Guardian

MOSKWA, KOMPAS.com - Pergeseran Rusia ke arah ekonomi perang mengharuskan negara-negara Barat untuk memperluas kebijakan sanksinya, termasuk dengan memberikan sanksi kepada entitas pihak ketiga yang berdagang dengan Moskwa, kata seorang pejabat senior Gedung Putih pada Selasa (28/5/2024).

Daleep Singh, wakil penasihat keamanan nasional untuk ekonomi internasional, mengatakan AS akan mempertimbangkan kontrol ekspor untuk mencegah perdagangan China-Rusia yang mengancam keamanan AS.

AS jug akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk meningkatkan kerugian Rusia dengan menggunakan armada bayangan untuk menghindari batas harga minyak negara-negara G7.

Pihak berwenang AS juga dapat memperluas sanksi yang ada saat ini mengenai fasilitasi keuangan, mengingat langkah Moskwa yang mengubah perekonomiannya ke arah perang, katanya.

Baca juga: Rangkuman Hari Ke-825 Serangan Rusia ke Ukraina: Zelensky Minta Dunia Tak Bosan | Putin Wanti-wanti Barat soal Senjata

Dilansir dari Guardian, berbicara di Brookings Institution di Washington, Singh mengatakan jika Rusia mengubah seluruh perekonomiannya ke kondisi perang, maka masuk akal untuk membatasi fasilitasi keuangan pada beberapa sektor atau sejumlah produk tertentu.

Pernyataannya dianggap sebagai tanda bahwa AS akan mendukung sanksi sekunder, sebuah praktik di mana AS dapat menargetkan entitas mana pun yang diketahui melakukan perdagangan dengan Rusia.

Sejak invasi Rusia hampir dua tahun lalu, AS telah menjatuhkan ratusan sanksi terhadap perusahaan dan individu, namun hingga saat ini AS belum memberikan sanksi kepada bank dan lembaga keuangan yang bekerja sama dengan entitas yang terkena sanksi.

Singh juga mengatakan para pemimpin G7 pada pertemuan puncak bulan depan juga akan membahas rencana yang merupakan peluang terbaik untuk menopang kesenjangan pembiayaan Ukraina dengan mendukung proposal untuk memonetisasi sekitar 300 miliar dollar AS aset Rusia yang dibekukan, sebuah langkah yang menurutnya berisiko namun perlu.

Belum ada konsensus di antara negara-negara G7 untuk menyita seluruh aset bank sentral Rusia senilai 350 miliar dollar AS, sebuah langkah yang dipandang sebagai garis merah bagi banyak mitra G7.

Baca juga: Bagaimana China Membantu Rusia Hadapi Dampak Sanksi Barat?

Dia juga mengatakan penggunaan aset Rusia untuk mendapatkan pinjaman senilai 50 miliar dollar AS bermanfaat dalam beberapa hal. 

Baca juga: Uni Eropa: Ukraina Berhak Pakai Senjata Barat untuk Serang Rusia

“Ini adalah dukungan finansial yang diberikan, dan sinyal yang dikirimkan kepada Putin bahwa kita tidak akan kelelahan dan dia tidak akan hidup lebih lama dari kita, apapun yang terjadi di sisa tahun ini,” katanya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Biden dan Trump Sepakati Aturan Debat Pertama Pilpres AS 2024, Termasuk Tak Boleh Bawa Catatan

Biden dan Trump Sepakati Aturan Debat Pertama Pilpres AS 2024, Termasuk Tak Boleh Bawa Catatan

Global
1,5 Juta Jemaah Haji Serbu Padang Arafah untuk Wukuf di Tengah Cuaca Ekstrem

1,5 Juta Jemaah Haji Serbu Padang Arafah untuk Wukuf di Tengah Cuaca Ekstrem

Global
Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia yang Langgar Wilayah Udara

Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia yang Langgar Wilayah Udara

Global
Kamal Ismail, Arsitek yang Tolak Dibayar Usai Perluas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Kamal Ismail, Arsitek yang Tolak Dibayar Usai Perluas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Global
Penampilan Publik Perdana Kate Middleton sejak Didiagnosis Kanker

Penampilan Publik Perdana Kate Middleton sejak Didiagnosis Kanker

Global
Pejabat Hamas: Tak Ada yang Tahu Berapa Banyak Sandera Israel yang Masih Hidup

Pejabat Hamas: Tak Ada yang Tahu Berapa Banyak Sandera Israel yang Masih Hidup

Internasional
Tzav 9, Kelompok Warga Israel yang Rutin Blokir, Jarah, dan Bakar Bantuan untuk Gaza

Tzav 9, Kelompok Warga Israel yang Rutin Blokir, Jarah, dan Bakar Bantuan untuk Gaza

Global
Ukraina Serang Perbatasan, 5 Warga Rusia Tewas

Ukraina Serang Perbatasan, 5 Warga Rusia Tewas

Global
Korut Bangun Jalan dan Tembok di Zona Demiliterisasi

Korut Bangun Jalan dan Tembok di Zona Demiliterisasi

Global
Di Gaza Utara Bawang Sekilo Rp 1,1 Juta, Warga Pilih Makan Roti

Di Gaza Utara Bawang Sekilo Rp 1,1 Juta, Warga Pilih Makan Roti

Global
WHO: Pasien Flu Burung di Meksiko Meninggal karena Kondisi Lain

WHO: Pasien Flu Burung di Meksiko Meninggal karena Kondisi Lain

Global
Tak Terima Diremehkan, Wanita Ini Resign Lalu Kuliah Lagi, Kini Kembali Bekerja dengan Gaji 2 Kali Lipat

Tak Terima Diremehkan, Wanita Ini Resign Lalu Kuliah Lagi, Kini Kembali Bekerja dengan Gaji 2 Kali Lipat

Global
Rangkuman Hari Ke-842 Serangan Rusia ke Ukraina: Kiriman Paket Bantuan Militer Jerman | Ultimatum Putin Dibalas Zelensky

Rangkuman Hari Ke-842 Serangan Rusia ke Ukraina: Kiriman Paket Bantuan Militer Jerman | Ultimatum Putin Dibalas Zelensky

Global
1,5 Juta Lebih Jemaah Menuju Arafah untuk Prosesi Wukuf

1,5 Juta Lebih Jemaah Menuju Arafah untuk Prosesi Wukuf

Global
Militer AS Hancurkan Radar dan Drone Kapal Houthi

Militer AS Hancurkan Radar dan Drone Kapal Houthi

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com