Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Tak Setuju Warga Gaza Mengungsi ke Mesir, Ini Alasannya

Kompas.com - 17/02/2024, 06:48 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber AFP

JALUR GAZA, KOMPAS.com - Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Filippo Grandi pada Jumat (16/2/2024) mengatakan, eksodus warga Gaza ke Mesir harus dihindari dengan cara apa pun.

Untuk saat ini, hampir 1,5 juta pengungsi Palestina –lebih dari separuh populasi Gaza– terjebak di Rafah, mencari perlindungan di perkemahan darurat yang luas di dekat perbatasan Mesir.

"Posisi Mesir sudah sangat jelas. Orang-orang tidak boleh melintasi perbatasan. Saya pikir Mesir memiliki alasan yang sangat sah," kata Filippo Grandi kepada televisi BBC dari Konferensi Keamanan Munich.

Baca juga: Israel Serbu RS Nasser di Gaza, 4 Pasien Tewas Kekurangan Oksigen, Penembak Jitu Mengintai

Alasan UNHCR

Menurutnya, akan menjadi bencana besar bagi warga Palestina untuk mengungsi lagi.

"Ini akan menjadi bencana besar bagi Mesir dari semua sudut pandang, dan yang lebih penting dari apa pun, krisis pengungsi lebih lanjut akan menjadi akhir dari proses perdamaian di masa depan," jelasnya, sebagaimana dikutip dari AFP.

Seperti banyak pengamat lainnya, komisaris tinggi PBB untuk urusan pengungsi meyakini bahwa begitu warga Palestina meninggalkan Gaza, mereka tidak akan bisa kembali lagi, seperti yang terjadi pada 1948.

Itu bisa menjadi sesuatu yang akan merusak kemungkinan solusi dua negara antara Israel dan Palestina.

Perang yang menyertai pembentukan Israel pada 1948 menyebabkan 760.000 orang Palestina mengungsi atau dipaksa meninggalkan rumah mereka. Jutaan keturunan mereka terus hidup sebagai pengungsi di negara-negara tetangga.

"Krisis pengungsi tahun 1948 adalah masalah yang belum terselesaikan. Jika Anda menambahkan dimensi baru pada hal tersebut, Anda bisa mengucapkan selamat tinggal pada proses perdamaian yang berarti. Hal ini harus dihindari dengan cara apa pun," ungkap Grandi.

Tekanan telah meningkat kepada Mesir untuk membuka perbatasannya bagi warga sipil Palestina, ketika Israel berencana untuk melanjutkan operasi militer di Rafah, mencari kemenangan penuh atas kelompok militan Hamas.

Baca juga: Kata Erdogan soal Penyebab Seruan Perdamaian di Gaza Tak Berhasil

Bantuan harus bisa masuk Gaza

Grandi menyampaikan, badan pengungsi PBB yang berbasis di Jenewa tidak terlibat dalam persiapan apa pun yang mungkin dilakukan Mesir jika warga menyeberangi perbatasan.

"Lonjakan pengungsi Gaza ke Mesir perlu dihindari dan hanya dapat dihindari jika bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza dalam jumlah yang signifikan. Tetapi yang lebih penting, jika permusuhan berhenti," katanya.

Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober terhadap Israel, yang mengakibatkan kematian sekitar 1.160 orang, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka-angka resmi Israel.

Setelah serangan tersebut, Israel melancarkan serangan militer tanpa henti yang telah menewaskan sedikitnya 28.775 orang di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan di wilayah Palestina yang dikuasai Hamas.

Sekitar 130 sandera diyakini masih berada di Gaza setelah serangan 7 Oktober terhadap Israel.

Grandi mengatakan penderitaan para pengungsi di Rafah benar-benar dramatis.

"Jadi saya berharap bahwa seruan dari seluruh komunitas internasional untuk gencatan senjata dan akses bantuan kemanusiaan serta pembebasan sandera diperhatikan oleh semua pihak; oleh Israel dan Hamas," ucapnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang

Terkini Lainnya

Sebelum Ebrahim Raisi, Ini Deretan Pemimpin Lain yang Tewas dalam Drama Penerbangan

Sebelum Ebrahim Raisi, Ini Deretan Pemimpin Lain yang Tewas dalam Drama Penerbangan

Global
Joe Biden Kecam ICC karena Berupaya Menangkap PM Israel

Joe Biden Kecam ICC karena Berupaya Menangkap PM Israel

Global
[POPULER GLOBAL] Presiden Iran Meninggal Kecelakaan | Kronologi Penemuan Helikopter Raisi

[POPULER GLOBAL] Presiden Iran Meninggal Kecelakaan | Kronologi Penemuan Helikopter Raisi

Global
China: Dinamika Politik Taiwan Tak Akan Ubah Kebijakan 'Satu China'

China: Dinamika Politik Taiwan Tak Akan Ubah Kebijakan "Satu China"

Global
Sejarah Orang Jawa di Kaledonia Baru, Negara yang Sedang Dilanda Kerusuhan

Sejarah Orang Jawa di Kaledonia Baru, Negara yang Sedang Dilanda Kerusuhan

Global
Ketika 706 Orang Bernama Kyle Berkumpul, tapi Gagal Pecahkan Rekor...

Ketika 706 Orang Bernama Kyle Berkumpul, tapi Gagal Pecahkan Rekor...

Global
Meski Alami Luka Bakar, Jenazah Presiden Iran Dapat Dikenali dan Tak Perlu Tes DNA

Meski Alami Luka Bakar, Jenazah Presiden Iran Dapat Dikenali dan Tak Perlu Tes DNA

Global
ICC Ancang-ancang Keluarkan Surat Perintah Penangkapan PM Israel dan Pemimpin Hamas

ICC Ancang-ancang Keluarkan Surat Perintah Penangkapan PM Israel dan Pemimpin Hamas

Global
Ukraina Jatuhkan 29 Drone Rusia dalam Semalam, Targetkan Barat, Tengah, dan Selatan

Ukraina Jatuhkan 29 Drone Rusia dalam Semalam, Targetkan Barat, Tengah, dan Selatan

Global
Hari Ini, Kondisi PM Slovakia Stabil dan Membaik

Hari Ini, Kondisi PM Slovakia Stabil dan Membaik

Global
Jasad Presiden Iran Ebrahim Raisi Ditemukan dan Dibawa ke Tabriz, Operasi Pencarian Diakhiri

Jasad Presiden Iran Ebrahim Raisi Ditemukan dan Dibawa ke Tabriz, Operasi Pencarian Diakhiri

Global
Penikaman di SD China, 2 Orang Tewas, 10 Lainnya Terluka

Penikaman di SD China, 2 Orang Tewas, 10 Lainnya Terluka

Global
Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Internasional
Hamas: Ebrahim Raisi, Sosok Terhormat Pendukung Palestina

Hamas: Ebrahim Raisi, Sosok Terhormat Pendukung Palestina

Global
ISIS Serang Wisatawan Asing di Afghanistan, Sektor Pariwisata Terguncang

ISIS Serang Wisatawan Asing di Afghanistan, Sektor Pariwisata Terguncang

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com