Krisis Migran, Belarus Kecam Sanksi Tambahan dari Barat dan Ancam Membalas Keras

Kompas.com - 03/12/2021, 07:34 WIB
Para migran menetap di pusat logistik pos pemeriksaan Bruzgi di perbatasan Belarus-Polandia dekat Grodno, Belarus, Rabu (1/12/2021). Barat menuduh Presiden Belarus Alexander Lukashenko menarik ribuan migran ke Belarus dengan janji bantuan untuk masuk ke Eropa Barat, dan menggunakannya sebagai umpan untuk mengacaukan 27 negara Uni Eropa sebagai pembalasan atas sanksinya terhadap pemerintahan otoriternya. Namun, Belarus membantah merekayasa krisis tersebut. BeITA/OSANA MANCHUK via APPara migran menetap di pusat logistik pos pemeriksaan Bruzgi di perbatasan Belarus-Polandia dekat Grodno, Belarus, Rabu (1/12/2021). Barat menuduh Presiden Belarus Alexander Lukashenko menarik ribuan migran ke Belarus dengan janji bantuan untuk masuk ke Eropa Barat, dan menggunakannya sebagai umpan untuk mengacaukan 27 negara Uni Eropa sebagai pembalasan atas sanksinya terhadap pemerintahan otoriternya. Namun, Belarus membantah merekayasa krisis tersebut.

MINSK, KOMPAS.com - Belarus pada Kamis (2/12/2021) mengecam perluasan sanksi Barat yang dikenakan pada mereka, atas krisis migran di perbatasannya dengan anggota Uni Eropa (UE), Polandia.

"Kedalaman absurditas keputusan UE tentang sanksi terbaru terhadap Belarus yang berdaulat dan isinya sekarang sulit untuk dipahami," kata Kementerian Luar Negeri Belarus dikutip dari AFP.

Kemlu Belarus menyebut, para pejabat Eropa membayangkan beberapa agresi dari pihak Belarus dan menjatuhkan sanksi yang mengada-ada.

Baca juga: Polandia: Krisis Migran Upaya Terbesar Mengacaukan Eropa sejak Perang Dingin

Kementerian itu juga menuduh Barat menyalahkan Belarus, dan bersumpah akan melakukan tindakan pembalasan yang keras.

"Beban tanggung jawab ditempatkan pada Belarus sambil secara terang-terangan mengabaikan penyebab sebenarnya dari krisis migrasi global," katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir, ribuan migran dari Timur Tengah melakukan perjalanan ke Belarus dengan harapan dapat memasuki Uni Eropa melalui Polandia.

Sekitar 2.000 orang bulan lalu berkemah di perbatasan dalam kondisi kedinginan, sebelum kamp darurat itu disterilkan oleh penjaga perbatasan dan para migran dipindahkan ke pusat logistik.

Amerika Serikat, Kanada, dan sekutu Eropa pada Kamis mengumumkan sanksi baru terhadap Belarus, menempatkan pembatasan pada tokoh-tokoh dan entitas pemerintah.

Sanksi tersebut menargetkan pejabat keamanan dan keadilan senior, tokoh media terkemuka, putra Presiden Belarus Alexander Lukashenko, perusahaan terkait pertahanan, dan pengekspor pupuk utama.

Rezim Lukashenko dihujani beberapa putaran sanksi Barat atas tindakan keras terhadap demo oposisi tahun lalu, dan larangan penerbangan penumpang Eropa di atas Minsk pada Mei.

Pemerintah Barat menuduh Lukashenko menarik para migran ke negaranya untuk memicu krisis perbatasan dengan UE sebagai pembalasan atas sanksi. Dia membantahnya.

Baca juga: Krisis Migran di Perbatasan Polandia-Belarus, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Warga Palestina Meninggal Tak Wajar Pasca-Ditahan Tentara Israel

Warga Palestina Meninggal Tak Wajar Pasca-Ditahan Tentara Israel

Global
China Akan “Murnikan” Internet Jelang Olimpiade Musim Dingin Beijing dan Tahun Baru Imlek

China Akan “Murnikan” Internet Jelang Olimpiade Musim Dingin Beijing dan Tahun Baru Imlek

Global
Khawatir Konflik Rusia-Ukraina Memuncak, AS Cari Bantuan ke Qatar Amankan Gas ke Eropa

Khawatir Konflik Rusia-Ukraina Memuncak, AS Cari Bantuan ke Qatar Amankan Gas ke Eropa

Global
India Pamerkan Kekuatan Militer dalam Parade Hari Republik

India Pamerkan Kekuatan Militer dalam Parade Hari Republik

Global
30 Tahun Bertikai Soal Permata Curian, Arab Saudi dan Thailand Akhirnya Rujuk

30 Tahun Bertikai Soal Permata Curian, Arab Saudi dan Thailand Akhirnya Rujuk

Global
Ketika Warga Afghanistan Jual Anak dan Ginjal karena Putus Asa dalam Kelaparan…

Ketika Warga Afghanistan Jual Anak dan Ginjal karena Putus Asa dalam Kelaparan…

Global
Roket Elon Musk SpaceX Akan Tabrak Bulan setelah 7 Tahun Jadi Sampah Luar Angkasa

Roket Elon Musk SpaceX Akan Tabrak Bulan setelah 7 Tahun Jadi Sampah Luar Angkasa

Global
POPULER GLOBAL: Kisah Liu Xuezhou Ditolak Orang Tuanya Dua Kali | Tanggapan Singapura Soal FIR Kepri

POPULER GLOBAL: Kisah Liu Xuezhou Ditolak Orang Tuanya Dua Kali | Tanggapan Singapura Soal FIR Kepri

Global
Pengisi Suara Charlie Brown, Peter Robbins, Meninggal karena Bunuh Diri

Pengisi Suara Charlie Brown, Peter Robbins, Meninggal karena Bunuh Diri

Global
Sejarah Pemakaian Tisu Toilet, Mengapa di Beberapa Negara Lebih Dipilih Dibanding Air?

Sejarah Pemakaian Tisu Toilet, Mengapa di Beberapa Negara Lebih Dipilih Dibanding Air?

Global
Ada Angsa Duduk di Rel, Belasan Perjalanan Kereta London Sempat Tertunda

Ada Angsa Duduk di Rel, Belasan Perjalanan Kereta London Sempat Tertunda

Global
Mengenang Dua Tahun Kepergian Kobe Bryant

Mengenang Dua Tahun Kepergian Kobe Bryant

Global
Kisah CEO Tunanetra: Dulu Diremehkan Orang, Kini Perusahaannya Bernilai Nyaris Rp 1 Triliun

Kisah CEO Tunanetra: Dulu Diremehkan Orang, Kini Perusahaannya Bernilai Nyaris Rp 1 Triliun

Global
Viral, Video Detik-detik Longsor di Selangor, Memakan Badan Jalan hingga “Menelan” Sejumlah Mobil

Viral, Video Detik-detik Longsor di Selangor, Memakan Badan Jalan hingga “Menelan” Sejumlah Mobil

Global
Israel Selidiki Dugaan Korupsi Pembelian Kapal Selam dari Jerman

Israel Selidiki Dugaan Korupsi Pembelian Kapal Selam dari Jerman

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.