Cerita Pengungsi yang Kabur dari Myanmar, 2 Kali Gagal Kabur ke India

Kompas.com - 11/04/2021, 10:26 WIB
Dalam foto yang disediakan Free Burma Rangers ini menunjukkan warga desa berlindung di tempat terbuka akibat serangan udara, Sabtu, (27/3/2021) di Deh Bu Noh, di negara bagian Karen, Myanmar. Jet-jet militer Myanmar menghantam sebuah desa di Negara Bagian Karen pada Sabtu malam, menewaskan beberapa orang dan melukai lainnya, menurut organisasi bantuan. FREE BURMA RANGERS via AP PHOTODalam foto yang disediakan Free Burma Rangers ini menunjukkan warga desa berlindung di tempat terbuka akibat serangan udara, Sabtu, (27/3/2021) di Deh Bu Noh, di negara bagian Karen, Myanmar. Jet-jet militer Myanmar menghantam sebuah desa di Negara Bagian Karen pada Sabtu malam, menewaskan beberapa orang dan melukai lainnya, menurut organisasi bantuan.

NAYPYIDAW, KOMPAS.com – Ribuan rakyat Myanmar telah kabur dari negara tersebut setelah militer mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 1 Februari.

Di antara ribuan rakyat Myanmar yang kabur, banyak dari mereka memilih pergi dan mencari perlindungan di India, lapor wartawan BBC Hindi, Raghvendra Rao.

Seorang warga negara Myanmar, Makhai (bukan nama sebenarnya), bercerita bahwa dia berhasil sampai ke India setelah tiga kali mencoba.

Pada percobaan pertama, dia menempuh jalur darat melalui hutan untuk menyeberang dari Myanmar ke India. Namun, upayanya tersebut gagal.

Pada upaya kedua, dia mencoba menyeberang ke India melalui saluran pembuangan bawah tanah yang menghubungkan desa-desa di kedua sisi perbatasan. Percobaan itu gagal juga.

Baca juga: Duta Besar Myanmar Desak Larangan Terbang, Embargo Senjata hingga Sanksi Dikeluarkkan PBB

Setelah gagal dua kali, dia kembali mencoba untuk ketiga kalinya menyeberang ke Negara Bagian Manipur, timur laut India.

Beruntung, upanyanya yang ketiga itu berhasil dan tidak dihentikan pasukan keamanan India. Makhai tak sendiri kala itu, dia bersama dengan saudara perempuan dan putrinya.

"Saya punya kesempatan untuk melarikan diri sekarang. Jika saya menunggu lebih lama, kesempatan lain mungkin tidak akan datang," kata Makhai.

Myanmar kembali dicengkeram junta militer setelah angkatan bersenjatanya menggulingkan pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.

Sejak saat itu, aksi protes telah berkembang dan tejadi hampir setiap hari untuk menentang kudeta sebagaimana dilansir BBC, Sabtu (10/4/2021).

Baca juga: Menlu Retno: Inggris Dukung ASEAN Dorong Resolusi Krisis di Myanmar

Halaman:

Sumber BBC
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X