Duta Besar Myanmar Desak Larangan Terbang, Embargo Senjata hingga Sanksi Dikeluarkkan PBB

Kompas.com - 10/04/2021, 14:11 WIB
Tangkapan layar dari video UNTV menunjukkan Duta Besar Myanmar di PBB, Kyaw Moe Tun, mengangkat salam tiga jari sebagai bentuk perlawanan kudeta Myanmar, saat mengakhiri pidatonya di Sidang Umum PBB pada Jumat (26/2/2021). UNTV via APTangkapan layar dari video UNTV menunjukkan Duta Besar Myanmar di PBB, Kyaw Moe Tun, mengangkat salam tiga jari sebagai bentuk perlawanan kudeta Myanmar, saat mengakhiri pidatonya di Sidang Umum PBB pada Jumat (26/2/2021).

KOMPAS.com - Duta besar Myanmar untuk PBB yang melawan junta militer, Kyaw Moe Tun, pada Jumat (9/4/2021) mendesak untuk diberlakukannya zona larangan terbang, embargo senjata, dan sanksi.

"Tindakan kolektif dan kuat Anda dibutuhkan segera," kata Duta Besar Myanmar, Kyaw Moe Tun dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, seperti yang dilansir dari The Straits Times.

"Waktu berharga bagi kami. Tolong ambil tindakan," Kyaw Moe Tun memohon penuh kepada Dewan Kemanan PBB. 

Baca juga: [Cerita Dunia] 8888, Demo Skala Besar di Myanmar Menentang Kekuasaan Miluter

Sejauh ini, ia menyuarakan kesedihannya atas "kurangnya tindakan yang memadai dan kuat oleh komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB".

Utusan itu yang membangkang terhadap junta setelah kudeta pecah, mengatakan bahwa junta sengaja menargetkan warga sipil dan dia menyuarakan kesedihan atas kematian anak-anak yang ikut jadi korban.

"Zona larangan terbang harus diserukan," ujarnya, "untuk menghindari pertumpahan darah lebih jauh karena serangan udara oleh militer di permukiman warga".

"Tidak diragukan lagi tindakan itu (serangan militer) tidak dapat diterima oleh kita semua di dunia modern ini," ucapnya meyakinkan.

"Saya sangat yakin bahwa komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, tidak akan mmebiarkan kekejaman ini terus terjadi di Myanmar," terangnya.

Baca juga: Inggris Beri Perlindungan Duta Besar Myanmar yang Diusir Junta Militer

Dia juga menyerukan dilakukannya embargo senjata internasional dan pembekuan rekening bank yang terkait dengan anggota militer dan keluarga mereka.

Semua investasi asing langsung juga harus ditangguhkan sampai pemulihan pemerintahan yang dipilih secara demokratis, kata duta besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Pembelot Korut Lolos dari Perbudakan dan Kelaparan, Kini Ikut Pemilu di Inggris

Cerita Pembelot Korut Lolos dari Perbudakan dan Kelaparan, Kini Ikut Pemilu di Inggris

Global
Temuan Langka Lampu Minyak Lengkap dengan Sumbu Berusia 2.000 Tahun di Israel

Temuan Langka Lampu Minyak Lengkap dengan Sumbu Berusia 2.000 Tahun di Israel

Global
AL AS Sita Ribuan Senjata Ilegal Buatan Rusia dan China di Laut Arab

AL AS Sita Ribuan Senjata Ilegal Buatan Rusia dan China di Laut Arab

Global
Pemerintahan Trump Ketahuan Intip Telepon 3 Jurnalis Washington Post

Pemerintahan Trump Ketahuan Intip Telepon 3 Jurnalis Washington Post

Global
Kastil Drakula Jadi Tempat Vaksinasi Covid-19 untuk Turis

Kastil Drakula Jadi Tempat Vaksinasi Covid-19 untuk Turis

Global
Covid-19 India Makin Ganas, Pensiunan Tenaga Kesehatan Militer Direkrut

Covid-19 India Makin Ganas, Pensiunan Tenaga Kesehatan Militer Direkrut

Global
KBRI Moskwa Gelar Final Permira Saat Hari Pendidikan Nasional

KBRI Moskwa Gelar Final Permira Saat Hari Pendidikan Nasional

Global
Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Internasional
Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam 'Russophobia' dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam "Russophobia" dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Global
Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Global
Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Global
Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Internasional
Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Global
China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

Global
Roket China Long March 5B Pernah Pecah lalu Jatuh di Afrika

Roket China Long March 5B Pernah Pecah lalu Jatuh di Afrika

Global
komentar
Close Ads X