Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Usai Seminggu Tenang, Bentrokan di Perbatasan Thailand-Myanmar Terjadi Lagi

Kompas.com - 21/04/2024, 13:20 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

Sumber AFP

MYAWADDY, KOMPAS.com - Bentrokan antara junta Myanmar dan etnis bersenjata kembali terjadi di perbatasan Myanmar-Thailand setelah seminggu tanpa pertempuran, kata juru bicara kelompok bersenjata dan tentara Thailand pada Sabtu (20/4/2024),

Myanmar dilanda konflik sejak kudeta 2021 ketika militer merebut kekuasaan dari pemerintah yang dipilih secara demokratis.

Pertempuran sengit kemudian terjadi di sekitar pusat perdagangan Myanmar, Myawaddy, awal bulan ini dan militer terpaksa mundur dari posisinya di kota tersebut.

Baca juga: Junta Myanmar Dituding Pakai Warga Rohingya sebagai “Perisai Manusia”

Namun, dalam seminggu terakhir penduduk setempat melaporkan tidak mendengar pertempuran.

Dalam bentrokan sebelumnya, beberapa tentara berlindung di bawah jembatan yang menghubungkan Myadwaddy ke Kota Mae Sot di Thailand, menurut kelompok bersenjata Persatuan Nasional Karen (KNU) yang anti-junta.

Juru bicara KNU Padoh Saw Taw Nee membenarkan kepada AFP bahwa kelompoknya berperang melawan junta di Myawaddy, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Pada Sabtu pagi, unit tentara Thailand di perbatasan mengatakan, bentrokan sedang berlangsung dengan pasukan yang menargetkan tentara junta di bawah jembatan.

“Saat ini di tengah pertempuran, belum ada korban jiwa yang diketahui,” tulis Satuan Tugas Khusus Rajamnu di Facebook, dikutip dari kantor berita AFP.

Dikatakan bahwa pasukan mengerahkan drone untuk melawan tentara di bawah Jembatan Persahabatan ke-2, titik perdagangan utama bagi militer Myanmar yang kekurangan uang.

Baca juga:

Satgas Thailand juga mengonfirmasi bahwa jembatan itu ditutup tentaranya berjaga-jaga.

Pada Sabtu sore, kepala polisi Kota Mae Sot yaitu Pittayakorn Petcharat mengatakan kepada AFP bahwa pertempuran meningkat.

Dia mengatakan, sekitar 2.000 orang melintasi perbatasan Thailand dan pihak berwenang setempat menggeledah mereka untuk mencari senjata.

“Kami memberi mereka makan dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman,” tambahnya.

Keputusan militer untuk menarik pasukan dari pos-pos di kota perdagangan tersebut adalah pukulan besar bagi junta, yang menderita serangkaian kekalahan dalam beberapa bulan terakhir.

Adapun Myawaddy sangat penting bagi militer, dengan nilai perdagangan lebih dari 1,1 miliar dollar AS (Rp 17,81 triliun) dalam 12 bulan hingga April 2024.

Baca juga: Dampak Perang Saudara Myanmar Sampai ke Bangladesh

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com