Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Militer Myanmar Minta Bantuan Etnis Rohingya...

Kompas.com - 25/04/2024, 16:09 WIB
BBC News Indonesia,
Aditya Jaya Iswara

Tim Redaksi

RAKHINE, KOMPAS.com - Hampir tujuh tahun setelah militer Myanmar membunuh ribuan orang Rohingya dalam rentetan peristiwa yang diistilahkan PBB sebagai “pembersihan etnis”, kini militer Myanmar justru menginginkan bantuan etnis tersebut.

Dari wawancara dengan warga Rohingya yang tinggal di Negara Bagian Rakhine, BBC mengetahui bahwa setidaknya 100 orang sedang menjalani wajib militer selama beberapa pekan terakhir untuk membantu junta bertempur. Semua nama para individu ini telah diubah untuk melindungi mereka.

“Saya takut, namun saya harus pergi,” kata Mohammed, seorang pria Rohingya berusia 31 tahun yang memiliki tiga anak kecil. Dia tinggal di kamp Baw Du Pha, dekat ibu kota Rakhine, Sittwe. Setidaknya 150.000 pengungsi Rohingya terpaksa tinggal di kamp-kamp pengungsi selama satu dekade terakhir.

Baca juga: Junta Myanmar Dituding Pakai Warga Rohingya sebagai “Perisai Manusia”

Pada pertengahan Februari, pemimpin kamp mendatanginya pada larut malam, kata Mohammed. Saat itu Mohammed diminta menjalani pelatihan militer.

"Ini adalah perintah tentara", ujar Mohammed mengenang perkataan si pemimpin kamp. “Jika kamu menolak, mereka mengancam akan menyakiti keluargamu.”

BBC telah berbicara dengan beberapa warga Rohingya yang mengonfirmasi bahwa sejumlah perwira militer telah berkeliling di sekitar kamp dan memerintahkan para pemuda untuk melapor guna mengikuti pelatihan militer.

Ini adalah ironi yang mengerikan bagi orang-orang seperti Mohammed. Sebab, kewarganegaraan penduduk Rohingya di Myanmar masih ditolak dan mereka masih menjadi sasaran serangkaian pembatasan yang diskriminatif seperti larangan bepergian ke luar komunitas.

Banyak penduduk etnis Rohingya terpaksa hidup di kamp-kamp pengungsian selama satu dekade terakhir.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Banyak penduduk etnis Rohingya terpaksa hidup di kamp-kamp pengungsian selama satu dekade terakhir.
Dibunuh dan diperkosa, kini dijadikan wajib militer

Pada 2012, puluhan ribu warga Rohingya diusir dari permukiman di Negara Bagian Rakhine sehingga terpaksa tinggal di kamp-kamp kumuh.

Lima tahun kemudian, pada Agustus 2017, sebanyak 700.000 orang melarikan diri ke Bangladesh setelah tentara melancarkan operasi pembersihan brutal dengan membunuh, memperkosa ribuan orang, serta membakar desa mereka. Sekitar 600.000 di antara mereka masih bertahan di sana.

Myanmar kini menghadapi pengadilan genosida di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, atas perlakuan mereka terhadap etnis Rohingya.

Fakta bahwa militer Myanmar kini merekrut penduduk etnis Rohingya secara paksa adalah tanda keputusasaan setelah kehilangan sebagian besar wilayah di Rakhine baru-baru ini akibat perlawanan kelompok pemberontak Tentara Arakan. Imbasnya, puluhan warga Rohingya di Rakhine tewas oleh artileri dan gempuran udara militer Myanmar.

Selain di Rakhine, militer juga menderita kerugian besar terhadap kekuatan oposisi di wilayah lain. Sejumlah besar tentara Myanmar tewas, terluka, menyerah, atau membelot ke pihak oposisi sehingga sulit mencari penggantinya. Hanya sedikit orang yang mau mempertaruhkan hidup mereka untuk menopang rezim yang tidak populer.

Penduduk etnis Rohingya khawatir militer Myanmar ingin menjadikan mereka sebagai tameng dalam perang yang tampaknya berujung pada kekalahan junta.

Mohammed mengatakan, dia dibawa ke pangkalan Batalyon Infanteri Ringan ke-270 di Sittwe. Warga Rohingya dilarang tinggal di kota tersebut sejak mereka diusir saat terjadi kekerasan warga pada 2012.

“Kami diajari cara mengisi peluru dan menembak,” katanya. “Mereka juga menunjukkan kepada kami cara membongkar dan memasang kembali senjata.”

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com