Arab Saudi Masih Hukum Mati Pelaku Kejahatan Remaja, Lewat dari 9 Bulan Janji Menghapusnya

Kompas.com - 19/01/2021, 07:18 WIB
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (kiri) berbicara dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz di Istana Diriya di Riyadh selama KTT Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Minggu (9/12/2018). (AFP/SPA/Bandar Al-Jaloud) Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (kiri) berbicara dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz di Istana Diriya di Riyadh selama KTT Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Minggu (9/12/2018). (AFP/SPA/Bandar Al-Jaloud)

RIYADH, KOMPAS.com - Arab Saudi masih menahan 5 orang yang tercatat sebagai pelaku kejahatan remaja dengan hukuman mati, setelah lewat dari 9 bulan lalu Komisi Hak Asasi Manusia (HRC) kerajaan telah mengumumkan diakhirinya hukuman itu.

HRC yang didukung negara pada April mengutip keputusan kerajaan pada Maret oleh Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, yang menetapkan individu yang dihukum mati atas kejahatan yang dilakukan semasa remaja, tidak akan lagi menghadapi eksekusi.

Sebaliknya, diputuskan pelaku kejahatan di bawah umur itu akan menghadapi hukuman maksimal 10 tahun penjara di pusat tahanan remaja.

Baca juga: Semakin Moderat, Pohon dan Ornamen Natal Ramai Dijual di Toko Suvenir Arab Saudi

Pernyataan tersebut tidak menyebutkan masa berlakunya, tetapi pada Oktober, sebagai tanggapan atas laporan itu Human Rights Watch (HRW), menyebutkan bahwa keputusan tersebut mulai berlaku segera setelah diumumkan.

Keputusan tersebut tidak pernah diberitakan di media pemerintah atau dipublikasikan di surat kabar resmi seperti yang biasanya dilakukan, seperti yang dilansir dari Independent pada Senin (18/1/2021).

Pada Desember, kantor berita negara SPA menerbitkan daftar "peristiwa" penting 2020 yang menampilkan beberapa keputusan kerajaan, tetapi perintah hukuman mati tidak disertakan.

Organisasi termasuk kelompok anti-hukuman mati, Reprieve, HRW dan Organisasi Eropa-Saudi untuk Hak Asasi Manusia (ESOHR), serta sekelompok anggota parlemen AS, telah menyuarakan kekhawatiran bahwa celah dalam hukum Saudi masih memungkinkan hakim untuk menjatuhkan hukuman mati pada pelaku remaja.

Baca juga: Ditutup 2 Pekan karena Covid-19, Arab Saudi Buka Negaranya Lagi

Satu dari 5 pelaku remaja telah mengajukan banding dan 8 menghadapi dakwaan yang dapat mengakibatkan eksekusi, kata kelompok-kelompok itu, yang mengikuti kasus tersebut dengan cermat.

Pusat Komunikasi Internasional (CIC) pemerintah menepis kekhawatiran tersebut, mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan kerajaan akan diterapkan secara surut pada semua kasus, di mana seseorang dijatuhi hukuman mati karena pelanggaran yang dilakukan di bawah usia 18 tahun.

"Perintah Kerajaan yang dikeluarkan pada Maret 2020 diberlakukan segera setelah diterbitkan dan diedarkan ke otoritas terkait untuk implementasi instan," kata CIC dalam pernyataan melalui email.

Baca juga: Arab Saudi Akan Bangun The Line Kota Bebas Karbon di NEOM

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lagi, Uni Eropa Jatuhkan Sanksi ke 10 Petinggi Junta Myanmar dan 2 Perusahaan

Lagi, Uni Eropa Jatuhkan Sanksi ke 10 Petinggi Junta Myanmar dan 2 Perusahaan

Global
Penjara Rusia Akan Pindahkan Navalny ke Rumah Sakit Khusus Napi

Penjara Rusia Akan Pindahkan Navalny ke Rumah Sakit Khusus Napi

Global
Ayah Paksa Anak Diet dengan Kontrak 'Dilarang Gendut sampai Mati', Akhirnya Dipenjara

Ayah Paksa Anak Diet dengan Kontrak "Dilarang Gendut sampai Mati", Akhirnya Dipenjara

Global
Trump Nyatakan Dukungan atas Penarikan Pasukan AS di Afghanistan, Tapi Kritik Masalah Ini

Trump Nyatakan Dukungan atas Penarikan Pasukan AS di Afghanistan, Tapi Kritik Masalah Ini

Global
Kucing Ini Tertangkap Sedang Menyelundupkan Narkoba ke Dalam Penjara

Kucing Ini Tertangkap Sedang Menyelundupkan Narkoba ke Dalam Penjara

Global
Cerai, Suami Ini Harus Bayar Istri Rp 1 Miliar untuk Jasa Masak dan Bersih-bersih Rumah

Cerai, Suami Ini Harus Bayar Istri Rp 1 Miliar untuk Jasa Masak dan Bersih-bersih Rumah

Global
Kabur dari Polisi Hutan, Pemburu Gelap Ini Tewas Diinjak Gajah

Kabur dari Polisi Hutan, Pemburu Gelap Ini Tewas Diinjak Gajah

Global
Pangeran Charles dan William akan Pimpin Pertemuan untuk Memutuskan Masa Depan Monarki Inggris

Pangeran Charles dan William akan Pimpin Pertemuan untuk Memutuskan Masa Depan Monarki Inggris

Global
Di Ulang Tahun ke-95 Tanpa Suami, Ratu Elizabeth II Akan Dikelilingi Staf

Di Ulang Tahun ke-95 Tanpa Suami, Ratu Elizabeth II Akan Dikelilingi Staf

Global
Tanggapi Kisruh European Super League, Begini Komentar Uni Eropa

Tanggapi Kisruh European Super League, Begini Komentar Uni Eropa

Global
Nelayan Ini Tangkap Ikan Kerapu Raksasa, Harganya Diperkirakan Rp 42,2 Juta

Nelayan Ini Tangkap Ikan Kerapu Raksasa, Harganya Diperkirakan Rp 42,2 Juta

Global
NASA Siarkan Langsung Penerbangan Pertama di Mars, Berikut Link Live Streaming-nya

NASA Siarkan Langsung Penerbangan Pertama di Mars, Berikut Link Live Streaming-nya

Global
Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Paus Fransiskus Angkat Bicara

Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Paus Fransiskus Angkat Bicara

Global
Partai Radikal Pakistan Lepaskan 11 Polisi Setelah Demo Anti-Perancis

Partai Radikal Pakistan Lepaskan 11 Polisi Setelah Demo Anti-Perancis

Global
Ikut Kecam European Super League, PM Inggris: Sepak Bola Hancur

Ikut Kecam European Super League, PM Inggris: Sepak Bola Hancur

Global
komentar
Close Ads X