Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Bulan Jelang Pilpres AS, Siapa Bakal Cawapres Trump?

Kompas.com - 08/05/2024, 09:02 WIB
Irawan Sapto Adhi

Editor

Penulis: Scott Stearns/VOA Indonesia

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Joe Biden dan mantan Presiden Donald Trump hanya memiliki waktu enam bulan untuk membujuk warga Amerika memberi mereka kesempatan masa jabatan kedua.

Trump akan menghabiskan sebagian waktu menjelang pemungutan suara November nanti di pengadilan negara bagian atau federal untuk menjawab empat dakwaan terpisah atas tuduhan yang mencakup penyimpanan informasi pertahanan nasional yang melanggar hukum, dan pemalsuan catatan bisnis.

Dia mengatakan, jaksa penuntut umum telah mencampuri pemilu.

Baca juga: Hari Ke-12 Sidang Uang Tutup Mulut, Trump Diperingatkan Bisa Dijatuhi Hukuman Penjara

“Semuanya legal. Mereka melakukan hal ini karena politik. Mereka ingin agar Biden terpilih kembali. Itu satu-satunya alasan,” jelasnya.

Keharusannya menghadiri sidang pengadilan, mengurangi waktu untuk berkampanye.

Tetapi Trump mengatakan “political hoax” ini hanya menjadikannya tambah terkenal di kalangan pemilih.

“Hal yang menyedihkan terjadi di negara kita. Semoga saja pada tanggal 5 November nanti, yang menurut saya merupakan hari paling penting dalam sejarah negara kita… semoga saja akan ada perubahan karena orang-orang Demokrat ini menghancurkan negara kita,” imbuh Trump.

Partai Republik terakhir kali menominasikan Trump sebagai calon presiden mereka dalam konvensi semi-virtual tahun 2020 di North Carolina.

Perhelatan serupa tahun ini akan diselenggarakan di negara bagian Wisconsin. Namun sebelum acara itu, Trump sudah harus memilih tokoh yang akan mendampinginya sebagai calon wakil presiden (cawapres).

Baca juga: Tokoh-tokoh Kunci dalam Sidang Donald Trump

Di antara beberapa tokoh yang diyakini sedang dipertimbangkannya adalah Senator Marco Rubio dari negara bagian Florida, Senator JD Vance dari negara bagian Ohio, Senator Tim Scott dari negara bagian South Carolina, dan anggota DPR dari New York Elise Stefanik.

Sementara sebagai petahana, Biden memiliki keuntungan untuk senantiasa menarik perhatian pemilih karena acara-acara di Gedung Putih.

Saat berkampanye, Biden meningkatkan serangannya terhadap Trump sambil mengeklaim kondisi ekonomi yang lebih kuat saat ini.

"Pembangunan pabrik-pabrik baru telah meningkat lebih dari dua kali lipat di masa pemerintahan kami. Sementara Donald Trump masih menganggap kincir angin menyebabkan kanker. Itulah yang dia katakan. Ngomong-ngomong, ingatkah Anda ketika dia mencoba menangani Covid-19? Dia mengatakan hanya menyuntikkan sedikit pemutih ke dalam pembuluh darah, bisa sembuh! Sayang suntikannya meleset, semuanya merembet ke rambutnya,” jelas Biden.

Partai Demokrat terakhir kali mencalonkan Biden sebagai presiden pada konvensi semi-virtual tahun 2020 di Wisconsin. Konvensi tahun ini akan dilangsungkan pada bulan Agustus di negara bagian Illinois.

Baca juga: Sidang Kasus Suap Trump Dibuka, Jadi Mantan Presiden AS Pertama Hadapi Pengadilan Pidana

Halaman:
Baca tentang

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com