Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hari Ke-12 Sidang Uang Tutup Mulut, Trump Diperingatkan Bisa Dijatuhi Hukuman Penjara

Kompas.com - 07/05/2024, 13:38 WIB
Irawan Sapto Adhi

Editor

 

Penulis: VOA Indonesia

NEW YORK, KOMPAS.com - Persidangan Donald Trump terkait kasus uang tutup mulut memasuki hari ke-12. Para juri untuk pertama kali mendengar bagaimana dan mengapa penggantian biaya Michael Cohen untuk pembayaran Stormy Daniels disebut sebagai biaya hukum.

Mantan pengendali Trump Organization, Jeffrey McConney, memberi kesaksian pada Senin (6/5/2024).

Ia mengungkapkan percakapannya dengan kepala keuangan perusahaan, Allen Weisselberg, pada Januari 2017 soal penggantian uang Cohen 130.000 dollar AS untuk membayar Keith Davidson, yang kala itu menjadi pengacara Daniels.

Baca juga: Trump Didenda Rp 146 Juta dan Diancam Dipenjara karena Langgar Perintah Pembungkaman dalam Kasus Uang Tutup Mulut

McConney mengatakan catatan tulisan tangan Weisselberg memerinci berapa uang yang harus diberikan kepada Cohen.

Semua pengeluaran harus dimasukkan dalam buku besar dengan kode kategori.

"Karena kami membayar pengacara,” kata McConney, maka pembayaran tersebut diberi kode seperti itu.

Sebelum kesaksian para saksi, Trump dikenai sanksi untuk kedua kalinya karena melanggar perintah bungkam.

Perintah itu melarang Trump berbicara terbuka tentang para saksi, juri, dan pihak lain yang terkait persidangan itu.

Hakim Juan M. Merchan mendenda Trump 1.000 dollar AS.

Ia memperingatkan, bila kembali melanggar, Trump bisa dijatuhi hukuman penjara.

Baca juga:

Cohen adalah saksi utama tuntutan hukum ini. Ia dipenjara karena skema uang tutup mulut tersebut.

Trump mengaku tidak bersalah atas 34 tuduhan kejahatan pemalsuan catatan bisnis. 

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Serangan Drone Sebabkan Kebakaran di Tangki Minyak Rusia, Ukraina Belum Klaim

Serangan Drone Sebabkan Kebakaran di Tangki Minyak Rusia, Ukraina Belum Klaim

Global
Nasib Para Ibu Tunggal Afghanistan di Bawah Pemerintahan Taliban

Nasib Para Ibu Tunggal Afghanistan di Bawah Pemerintahan Taliban

Internasional
Ketahuan Mencontek Pakai Alat AI Canggih, Mahasiswa Turkiye Ditangkap

Ketahuan Mencontek Pakai Alat AI Canggih, Mahasiswa Turkiye Ditangkap

Global
Netanyahu Bubarkan Kabinet Perang, Apa Dampaknya?

Netanyahu Bubarkan Kabinet Perang, Apa Dampaknya?

Internasional
Terapi Telan Ikan Mentah di Hyderabad India untuk Obati Asma

Terapi Telan Ikan Mentah di Hyderabad India untuk Obati Asma

Global
Argentina Bongkar Panel Surya yang Salah Dipasang di Sisi Perbatasan Chile

Argentina Bongkar Panel Surya yang Salah Dipasang di Sisi Perbatasan Chile

Global
Rusia Mulai Latihan Angkatan Laut di Pasifik, Dekat Korea Selatan dan Jepang

Rusia Mulai Latihan Angkatan Laut di Pasifik, Dekat Korea Selatan dan Jepang

Global
Eks PM Thailand Thaksin Shinawatra Didakwa Menghina Kerajaan

Eks PM Thailand Thaksin Shinawatra Didakwa Menghina Kerajaan

Global
Rangkuman Hari Ke-845 Serangan Rusia ke Ukraina: Jabatan di Kemenhan | Rusia Terus Maju dan Serang

Rangkuman Hari Ke-845 Serangan Rusia ke Ukraina: Jabatan di Kemenhan | Rusia Terus Maju dan Serang

Global
AS Disebut Tertinggal Jauh di Belakang China di Bidang Tenaga Nuklir

AS Disebut Tertinggal Jauh di Belakang China di Bidang Tenaga Nuklir

Global
Ahli Bedah AS Minta Platform Media Sosial Diberi Peringatan seperti Bungkus Rokok

Ahli Bedah AS Minta Platform Media Sosial Diberi Peringatan seperti Bungkus Rokok

Global
Seperti Ini Suasana Pemakaman 2 Warga Sipil Lebanon Korban Perang

Seperti Ini Suasana Pemakaman 2 Warga Sipil Lebanon Korban Perang

Global
Kritik Israel, Dua Lipa: Demi Kebaikan Lebih Besar, Saya Ambil Risiko

Kritik Israel, Dua Lipa: Demi Kebaikan Lebih Besar, Saya Ambil Risiko

Global
Negosiator Israel: Puluhan Sandera di Gaza Masih Hidup

Negosiator Israel: Puluhan Sandera di Gaza Masih Hidup

Global
Thailand Segera Jadi Negara Asia Tenggara Pertama Legalkan Pernikahan Sesama Jenis

Thailand Segera Jadi Negara Asia Tenggara Pertama Legalkan Pernikahan Sesama Jenis

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com