Pandemi Covid-19 Buat Tingkat Kemiskinan Dunia Makin Ekstrem

Kompas.com - 01/12/2020, 16:21 WIB
Koordinator Kemanusiaan dan Residen untuk Sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa di Niger Khardiata Lo NDiaye (kedua dari kanan), Perwakilan dari Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Alexandra Morelli (tengah), dan Perwakilan Penduduk Persatuan Bangsa-Bangsa Fund (UNFPA) Ismaila Mbengue (R) mengunjungi unit khusus selama upacara peresmian pusat triase dan manajemen untuk pasien yang dites COVID 19 yang disumbangkan oleh Badan Pengungsi PBB (UNHCR), di stadion Seyni Kountche di Niamey, Niger, pada 17 April 2020, selama penguncian wabah virus corona baru COVID-19 NICOLAS REMENEKoordinator Kemanusiaan dan Residen untuk Sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa di Niger Khardiata Lo NDiaye (kedua dari kanan), Perwakilan dari Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Alexandra Morelli (tengah), dan Perwakilan Penduduk Persatuan Bangsa-Bangsa Fund (UNFPA) Ismaila Mbengue (R) mengunjungi unit khusus selama upacara peresmian pusat triase dan manajemen untuk pasien yang dites COVID 19 yang disumbangkan oleh Badan Pengungsi PBB (UNHCR), di stadion Seyni Kountche di Niamey, Niger, pada 17 April 2020, selama penguncian wabah virus corona baru COVID-19

NEW YORK, KOMPAS.comPBB mencatat, tingkat kemskinan di dunia mengalami lonjakan hanya dalam satu tahun, di mana salah satu faktor pendorongnya adalah virus corona.

Berdasarkan catatan PBB, karena wabah maka jumlah orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup mencapai 40 persen di seluruh dunia.

“Satu dari 33 orang akan membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, air dan sanitasi pada tahun 2021, meningkat 40 persen dari tahun ini,” demikian laporan PPB terkait Tinjauan Kemanusiaan Global 2021.

Jumlah itu setara 235 juta orang di seluruh dunia. Angka tertinggi dalam beberapa dekade. Jumlahnya konsentrasi di Suriah, Yaman, Afghanistan, Republik Demokratik Kongo, dan Ethiopia.

Sementara anggaran bantuan kemanusiaan juga berada dalam posisi kekurangan yang mengerikan karena dampak pandemi global terus memburuk.

"Krisis masih jauh dari selesai," kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters.

PBB telah menetapkan setidaknya 34 rencana tanggap kemanusiaan yang mencakup 56 negara untuk tahun 2021.

Rencana tanggap kemanusiaan itu bertujuan membantu 160 juta dari setidaknya 235 juta orang paling rentan di seluruh dunia, yang menghadapi kelaparan, konflik, dan dampak perubahan iklim serta pandemi virus corona.

Baca juga: PM Thailand Minta 20 Orang Terkaya Thailand Bantu Atasi Dampak Ekonomi Covid-19

"Kami selalu bertujuan untuk menjangkau sekitar dua pertiga dari mereka yang membutuhkan karena yang lain, misalnya Palang Merah, akan berusaha untuk memenuhi celah yang tersisa," kata Kepala Bantuan PBB, Mark Lowcock.

Ia mengatakan, tahun ini donor 17 miliar dollar AS (Rp 240 triliun) untuk mendanai operasi kemanusiaan dan data menunjukkan bahwa bantuan mencapai 70 persen dari orang yang ditargetkan.

Halaman:

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Begini Analisa Ahli Soal Pilihan Kata Dalam Pidato Pelantikan Biden

Begini Analisa Ahli Soal Pilihan Kata Dalam Pidato Pelantikan Biden

Global
Selama Jadi Presiden Trump 30.000 Kali Berbohong, Rata-rata 21 Kali Per Hari

Selama Jadi Presiden Trump 30.000 Kali Berbohong, Rata-rata 21 Kali Per Hari

Global
Misteri Tewasnya Nora Quoirin, Orangtua Akan Gugat Putusan Koroner Malaysia

Misteri Tewasnya Nora Quoirin, Orangtua Akan Gugat Putusan Koroner Malaysia

Global
Pipa Minyak Keystone XL Jadi Topik Telepon Pertama Biden dengan Pemimpin Asing

Pipa Minyak Keystone XL Jadi Topik Telepon Pertama Biden dengan Pemimpin Asing

Global
Piagam Ekstremis Besutan Presiden Perancis Ditolak 3 Kelompok Muslim

Piagam Ekstremis Besutan Presiden Perancis Ditolak 3 Kelompok Muslim

Global
Badan Intelijen AS untuk Pertama Kalinya Dipimpin Seorang Wanita, Ini Pilihan Biden

Badan Intelijen AS untuk Pertama Kalinya Dipimpin Seorang Wanita, Ini Pilihan Biden

Global
Baru Dilantik, Biden Langsung Bawa AS Kembali Ikuti Perjanjian Paris

Baru Dilantik, Biden Langsung Bawa AS Kembali Ikuti Perjanjian Paris

Global
Desa di India Gelar 'Nobar' dan Pesta Rayakan Pelantikan Kamila Harris

Desa di India Gelar "Nobar" dan Pesta Rayakan Pelantikan Kamila Harris

Global
Dikosongkan saat Lockdown, Gedung Perkantoran Disulap Jadi Ladang Ganja

Dikosongkan saat Lockdown, Gedung Perkantoran Disulap Jadi Ladang Ganja

Global
Kata-kata Trump Dipakai Greta Thunberg Menyindirnya Balik Saat Lengser

Kata-kata Trump Dipakai Greta Thunberg Menyindirnya Balik Saat Lengser

Global
Jumlah Kematian Akibat Covid-19 di AS Lampaui Perang Dunia II

Jumlah Kematian Akibat Covid-19 di AS Lampaui Perang Dunia II

Global
2 Bom Bunuh Diri Guncang Irak, 20 Orang Tewas

2 Bom Bunuh Diri Guncang Irak, 20 Orang Tewas

Global
Meski Telah Lengser, Donald Trump Dapat Uang Pensiun Rp 3 Miliar Setahun

Meski Telah Lengser, Donald Trump Dapat Uang Pensiun Rp 3 Miliar Setahun

Global
Bangunan Meledak akibat Gas Bocor di Madrid, 4 Orang Tewas

Bangunan Meledak akibat Gas Bocor di Madrid, 4 Orang Tewas

Global
Berusaha Kembalikan Martabat, Begini Ancaman Biden untuk Birokrat yang Tak Jaga Tata Krama

Berusaha Kembalikan Martabat, Begini Ancaman Biden untuk Birokrat yang Tak Jaga Tata Krama

Global
komentar
Close Ads X