Tragedi Samuel Paty Dorong Diskursus Islam di Perancis

Kompas.com - 22/10/2020, 10:58 WIB
Samuel Paty, seorang guru Sejarah dan Geografi di Perancis. Dia dipenggal pada Jumat (16/10/2020) oleh remaja Chechen berusia 18 tahun, setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam materi kebebasan berekspresi. AFP via BBCSamuel Paty, seorang guru Sejarah dan Geografi di Perancis. Dia dipenggal pada Jumat (16/10/2020) oleh remaja Chechen berusia 18 tahun, setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam materi kebebasan berekspresi.

PARIS, KOMPAS.com - Aksi pemenggalan kepala seorang guru di Paris menghidupkan kembali diskursus tentang Islam yang berpatutan dengan nilai-nilai Perancis, setelah ramai dikecam komunitas muslim, termasuk oleh al-Azhar.

“Sebagai seorang muslim dan Syeikh al-Azhar, saya mendeklarasikan bahwa Islam, ajaran dan Rosulnya tidak bersalah atas kejahatan keji teroris,” kata Syeikh al-Tayeb merujuk pada peristiwa pemenggalan Samuel Paty pada Jumat (16/10/2020).

Pernyataan kecaman itu dibacakan Syeikh al-Tayeb saat berpidato di hadapan pemuka agama Kristen, Yahudi dan Buddha, termasuk Paus Fransiskus dan Rabi Agung Perancis, Haim Korsia.

Melansir Deutsche Welle pada Rabu (21/10/2020) mereka bertatap muka secara virtual di Bukit Capitolino, Roma, Italia, untuk sebuah deklarasi damai.

Syeikh al-Tayeb juga mewanti-wanti terhadap ujaran yang merendahkan keyakinan orang lain.

“Pada saat yang sama saya menekankan bahwa penghinaan agama dan serangan terhadap simbol-simbol sucinya di bawah bendera kebebasan berekspresi adalah standar ganda intelektual dan sebuah undangan terbuka terhadap kebencian,” tegas Syeikh al-Azhar itu.

Baca juga: Pemenggal Kepala Guru di Perancis Sogok Murid hingga Rp 6 Juta Sebelum Beraksi

Samuel Paty yang berusia 47 tahun dibunuh oleh seorang pemuda 18 tahun asal Chechnya. Saat itu korban dalam perjalanan pulang usai mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Conflans-Sainte-Honorine, tidak jauh dari ibu kota Paris.

Paty dianggap melecehkan Islam saat menunjukkan gambar katun Nabi Muhammad milik Charlie Hebdo kepada murid-muridnya.

Tidak suka dengan tindakan itu, Abdullakh Anzorov, membunuhnya dengan memenggal kepalanya, lalu mengunggah foto jenazah korban di Twitter, sebelum kemudian ia sendiri tewas dalam baku tembak dengan polisi.

Menteri Dalam Negeri Perancis, Gerald Darmanin, mengumumkan telah menangkap 16 orang, termasuk seorang ustad radikal dan 4 anggota keluarga Anzorov.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Israel Ekstradisi Wanita 'Penjahat Seksual' terhadap Anak ke Australia

Israel Ekstradisi Wanita 'Penjahat Seksual' terhadap Anak ke Australia

Global
Remaja di Israel Sudah Bisa Divaksin Covid-19 asal Ada Izin Orangtua

Remaja di Israel Sudah Bisa Divaksin Covid-19 asal Ada Izin Orangtua

Global
Tak Pakai Masker dengan Benar, Peserta Ujian Masuk Universitas di Jepang Didiskualifikasi

Tak Pakai Masker dengan Benar, Peserta Ujian Masuk Universitas di Jepang Didiskualifikasi

Global
Seorang Anggota Parlemen Oklahoma Usulkan Musim Berburu 'Bigfoot'

Seorang Anggota Parlemen Oklahoma Usulkan Musim Berburu 'Bigfoot'

Global
Dijuluki Manusia Terkotor di Dunia, Amou Haji Tak Mandi Selama 67 Tahun

Dijuluki Manusia Terkotor di Dunia, Amou Haji Tak Mandi Selama 67 Tahun

Global
Siapakah Shurahbil bin Hasana, Sahabat Nabi yang Dirikan Masjid di Israel?

Siapakah Shurahbil bin Hasana, Sahabat Nabi yang Dirikan Masjid di Israel?

Global
Rebelo de Sousa Kembali Terpilih sebagai Presiden Portugal meski Kasus Covid-19 Melonjak

Rebelo de Sousa Kembali Terpilih sebagai Presiden Portugal meski Kasus Covid-19 Melonjak

Global
China Ganggu Taiwan Lagi, Kali Ini Beijing Kirim 12 Jet Tempur

China Ganggu Taiwan Lagi, Kali Ini Beijing Kirim 12 Jet Tempur

Global
Pemerintah Chile Minta Maaf Setelah Salah Umumkan Peringatan Tsunami

Pemerintah Chile Minta Maaf Setelah Salah Umumkan Peringatan Tsunami

Global
Dubes Korea Utara Membelot ke Korsel Sejak 2019, Baru Ketahuan Sekarang

Dubes Korea Utara Membelot ke Korsel Sejak 2019, Baru Ketahuan Sekarang

Global
Inspirasi Energi: Tahun Bersejarah, Listrik Energi Terbarukan di Uni Eropa Kalahkan Batubara

Inspirasi Energi: Tahun Bersejarah, Listrik Energi Terbarukan di Uni Eropa Kalahkan Batubara

Global
Selandia Baru Belum Aman dari Covid-19, Varian Baru Virus Corona Sudah Masuk

Selandia Baru Belum Aman dari Covid-19, Varian Baru Virus Corona Sudah Masuk

Global
China Ganggu Taiwan, AS Kerahkan Kapal Induknya ke Laut China Selatan

China Ganggu Taiwan, AS Kerahkan Kapal Induknya ke Laut China Selatan

Global
Hong Kong Cabut Lockdown Usai Menguji 7.000 Orang dalam 2 Hari

Hong Kong Cabut Lockdown Usai Menguji 7.000 Orang dalam 2 Hari

Global
Taiwan Karantina 5.000 Orang karena Klaster Covid-19 dari Rumah Sakit

Taiwan Karantina 5.000 Orang karena Klaster Covid-19 dari Rumah Sakit

Global
komentar
Close Ads X