Pejabat AS Sebut Iran dan Rusia Campur Tangan Pilpres AS 2020

Kompas.com - 22/10/2020, 09:00 WIB
Dalam foto file 22 Mei 2019 ini, Direktur Badan Keamanan Siber dan Keamanan Infrastruktur Departemen Keamanan Dalam Negeri Christopher Krebs bersaksi di Capitol Hill di Washington. AP/Carolyn KasterDalam foto file 22 Mei 2019 ini, Direktur Badan Keamanan Siber dan Keamanan Infrastruktur Departemen Keamanan Dalam Negeri Christopher Krebs bersaksi di Capitol Hill di Washington.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - " Iran bertanggung jawab atas surel yang dikirim untuk mengintimidasi pemilih Amerika dan menabur kerusuhan di banyak negara bagian," ujar pejabat Amerika Serikat (AS) pada Rabu malam (21/10/2020).

Selain itu, pejabat AS tersebut juga menyebut Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden mendatang.

Pengumuman itu disampaikan pada konferensi pers yang jarang terjadi, dilakukan 2 pekan sebelum pemilihan presiden karena adanya kekhawatiran campur tangan negara asing dalam pilpres AS.

Upaya-upaya campur tangan itu seperti menyebarkan kabar palsu yang membuat pemilih Amerika ragu.

Baca juga: Microsoft: Hacker Rusia Targetkan Kampanye Pilpres AS

“Tindakan ini adalah upaya menyedihkan oleh musuh yang menyedihkan,” kata John Ratcliffe, pejabat intelijen tinggi pemerintah AS, yang, bersama dengan Direktur FBI Chris Wray, bersikeras AS akan membebankan biaya pada negara asing mana pun yang ikut campur dalam pemilu AS 2020.

Iran dan Rusia juga telah memperoleh informasi pendaftaran pemilih, meski data tersebut dianggap mudah diakses.

Terlepas dari tindakan Iran dan Rusia, para pejabat mengatakan orang Amerika dapat yakin bahwa suara mereka akan dihitung.

Meski peretas Rusia yang didukung negaranya diketahui telah menyusup ke infrastruktur pemilu AS pada 2016, tidak ada bukti bahwa Iran pernah melakukannya. Pakar keamanan siber menganggapnya sebagai aktor kelas dua dalam spionase online.

Baca juga: Biden Perkasa di Survei, Bagaimana Peluang Trump 2 Minggu Jelang Pilpres AS?

Konferensi pers diadakan saat para pemilih Demokrat di setidaknya empat negara bagian medan pertempuran, termasuk Florida dan Pennsylvania, telah menerima surel yang mengancam, yang mengaku berasal dari kelompok sayap kanan Proud Boys.

Surel itu memperingatkan dengan bunyi, “kami akan mengejarmu” jika penerimanya tidak memilih Presiden Donald Trump.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X