Dicurigai Komplotan Anti-Pemerintah China, 9 Orang Ditahan Setelah Bantu Aktivis Melarikan Diri ke Taiwan

Kompas.com - 10/10/2020, 16:06 WIB
Polisi memeriksa surat-surat yang dibawa seorang pria di Lapangan Tiananmen di Beijing, Kamis (1/11/2012). Penjagaan dan pengamanan ketat diberlakukan menjelang pelaksanaan Kongres Partai Komunis China pada 8 November mendatang. 
AFP PHOTO / Ed JonesPolisi memeriksa surat-surat yang dibawa seorang pria di Lapangan Tiananmen di Beijing, Kamis (1/11/2012). Penjagaan dan pengamanan ketat diberlakukan menjelang pelaksanaan Kongres Partai Komunis China pada 8 November mendatang.

HONG KONG, KOMPAS.com - Sembilan orang yang dicurigai membantu 12 aktivis Hong Kong untuk melarikan diri ke Taiwan dicegat otoritas China pada Agustus lalu, ditahan di pusat daratan China oleh polisi.

Melansir Reuters pada Sabtu (10/10/2020), tahanan itu mendapatkan ketidakadilan dengan muncul laporan dari pihak keluarga, bahwa mereka tidak diberi akses ke pengacara independen.

Penangkapan tersebut memicu kecurigaan otoritas Hong Kong bekerjasama dengan pemerintahan pusat China. Hal itu meningkatkan keprihatinan dari kelompok hak asasi manusia hingga skala internasional.

Baca juga: Terus Diserang China, Taiwan: Mana Janjimu?

Kelompok itu ditahan di kota Shenzhen di selatan China setelah pihak berwenang mencegat kapal mereka dan menuduh mereka melakukan penyeberangan perbatasan secara ilegal.

Mereka juga dikaitkan dengan aksi protes anti-pemerintah di Hong Kong pada tahun lalu, yang dilabeli sebagai tindak kejahatan.

Menurut keterangan polisi, 9 orang dari kelompok itu terdiri dari 4 pria dan 5 wanita. Mereka dicurigai mengatur transportasi bagi 12 aktivis yang menjadi buronan, kata pejabat polisi Hong Kong Ho Chun-tung.

Baca juga: AS Embargo Bank Iran, Teheran Minta Bantuan China

"Satu arah dengan penyelidikan kasus ini adalah apakah mereka membantu orang lain melarikan diri," kata Ho, pengawas Biro Kejahatan dan Triad Terorganisir (OCTB).

Kemudian, Ho menambahkan bahwa dia tidak mengesampingkan kemungkinan penangkapan lebih banyak. Pada kesempatan yang sama, ia juga menepis tuduhan kerabat bahwa polisi di Hong Kong berperan dalam penangkapan di China.

Baca juga: China Teken Perjanjian Distribusi Vaksin Corona ke Negara-negara Miskin

"Penangkapan di pusat daratan China tidak ada hubungannya dengan polisi Hong Kong," tambah Ho.

Polisi juga menyita uang tunai sebesar 64.500 dollar AS (Rp 947,5 juta), komputer, ponsel, dan dokumen yang terkait dengan pembelian sebuah kapal.

Orang-orang mulai meninggalkan Hong Kong menuju Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sejak bulan-bulan awal protes.

Baca juga: 5.000 Hewan Peliharaan Mati dalam Kardus di China, Seminggu Tidak Makan

Kebanyakan dari mereka pindah secara legal, melalui udara, tetapi beberapa dengan perahu nelayan, kata aktivis di Taipei yang membantu warga Hong Kong mendapatkan visa, kepada Reuters.

Pihak berwenang Hong Kong mengatakan mereka yang ditahan akan diwakili oleh pengacara China daratan pilihan mereka, meski pun dari daftar yang diberikan oleh otoritas China.

Keluarga para tahanan telah ditawarkan bantuan yang "dibutuhkan dan layak", yang akan terus berlanjut, kata pihak berwenang.

Baca juga: Trump soal Covid-19: Ini Salah China, Ini Bukan Salah Kalian


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Facebook dan Instagram akan Hapus Semua Klaim Palsu Soal Vaksin Covid-19

Facebook dan Instagram akan Hapus Semua Klaim Palsu Soal Vaksin Covid-19

Global
76 Masjid di Perancis yang Diduga Promosikan Separatisme Terancam Ditutup

76 Masjid di Perancis yang Diduga Promosikan Separatisme Terancam Ditutup

Global
Kepala Intelijen AS: China Ancaman Terbesar Bagi Kebebasan

Kepala Intelijen AS: China Ancaman Terbesar Bagi Kebebasan

Global
170 Gajah Hidup Dijual Namibia Setelah Dilanda Kekeringan dan Konflik dengan Manusia

170 Gajah Hidup Dijual Namibia Setelah Dilanda Kekeringan dan Konflik dengan Manusia

Global
China Berhasil Masuki Area Bulan yang Belum Terjamah Manusia

China Berhasil Masuki Area Bulan yang Belum Terjamah Manusia

Internasional
Pemimpin Oposisi Belarus Tikhanovskaya Umumkan Siap Memimpin di Masa Transisi

Pemimpin Oposisi Belarus Tikhanovskaya Umumkan Siap Memimpin di Masa Transisi

Global
Azerbaijan Umumkan 2.783 Tentaranya Tewas dalam Perang di Nagorno-Karabakh Lawan Armenia

Azerbaijan Umumkan 2.783 Tentaranya Tewas dalam Perang di Nagorno-Karabakh Lawan Armenia

Internasional
Perang Yaman: 11 Anak Terbunuh dalam 3 Hari, termasuk Bayi Umur 1 Bulan

Perang Yaman: 11 Anak Terbunuh dalam 3 Hari, termasuk Bayi Umur 1 Bulan

Global
AS Bikin Aturan Baru soal Visa, Bisa Cekal 270 Juta Warga China

AS Bikin Aturan Baru soal Visa, Bisa Cekal 270 Juta Warga China

Internasional
[POPULER GLOBAL] Selir Raja Thailand Terancam Digulingkan Lagi | Jenazah Pria Ditolak di Pemakamannya

[POPULER GLOBAL] Selir Raja Thailand Terancam Digulingkan Lagi | Jenazah Pria Ditolak di Pemakamannya

Global
Tak Boleh Ada Penjualan Mobil Baru Berbahan Bakar Bensin di Jepang Mulai 2035

Tak Boleh Ada Penjualan Mobil Baru Berbahan Bakar Bensin di Jepang Mulai 2035

Internasional
Video TikTok Sasha Obama Menari yang Viral Dihapus, Ada Apa?

Video TikTok Sasha Obama Menari yang Viral Dihapus, Ada Apa?

Global
Ditolak di 3 Rumah Sakit, Ibu Terjangkit Covid-19 Ini Meninggal Saat Melahirkan

Ditolak di 3 Rumah Sakit, Ibu Terjangkit Covid-19 Ini Meninggal Saat Melahirkan

Global
PBB Hapus Ganja dari Daftar Obat-obatan Paling Berbahaya di Dunia

PBB Hapus Ganja dari Daftar Obat-obatan Paling Berbahaya di Dunia

Global
UE Tekan ASEAN untuk Sikapi Konflik Laut China Selatan dengan Non-Militerisasi

UE Tekan ASEAN untuk Sikapi Konflik Laut China Selatan dengan Non-Militerisasi

Global
komentar
Close Ads X