Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 01/12/2022, 18:07 WIB

KOMPAS.com - Daging sapi Australia terkenal akan kualitas baiknya. Jumlah ternak sapinya pun banyak, cukup untuk memenuhi kebutuhan ekspor berbagai negara, termasuk Indonesia.

Indonesia juga demikian. Ada banyak sapi diternak di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sapi potong di Indonesia mencapai 18 juta ekor.

Sama-sama memiliki sapi dalam jumlah tinggi, hewan ternak dari Australia dan Indonesia ini mempunyai beberapa perbedaan.

Managing Diriector PT Subur Arta Utama Alexander Hansen membagikan tiga perbedaan sapi Australia dan Indonesia berikut ini.

1. Pakan

MenurutAlexander, mayoritas sapi Indonesia diberi pakan rumput. Paling mentok, ternak sapi akan diberi pelet.

Sementara itu, sapi Australia mengonsumsi berbagai pakan. Mulai dari rumput hingga gandum. Biasanya dikenal dengan sebutan grassfed dan grainfed.

Alexander mengatakan, pakan yang tidak sama akan menghasilkan daging sapi berbeda. Ini yang terjadi pada daging sapi Australia dan Indonesia.

"Gandum punya lemak. Sapi yang diberi makan lemak tentu akan punya cita rasa lebih enak, lebih lembut," kata Alexandersaat ditemui wartawan dalam acara "Taste and Create with Australia", Rabu (30/11/2022).

Alasannya, gandum akan membantu pembentukan daging secara natural. Pakan sapi ini membuat jaringan lemak atau marble yang akan meleleh saat terkena panas.

Sapi Indonesia tidak seperti itu karena pakan yang dikonsumsinya bukan gandum atau jelai.

"Grain atau gandum itu impor. Jadi tiap hari kita berebutan dengan sapi untuk pakannya. Susah, mahal," terang Alex.

Baca juga:

2. Keturunan

Australia dan Indonesia memiliki musim berbeda. Australia mempunyai empat musim, sementara Indonesia hanya dua musim. Hal ini juga memengaruhi kualitas daging sapi.

Menurut Alex, masing-masing sapi dari dua negara ini memang sudah "dibentuk" untuk hidup di negara asal dari keturunan sebelumnya.

Misalnya, Indonesia memiliki sapi brahma, Australia mempunyai sapi populer black angus yang mampu hidup di kawasannya.

Keturunan sapi ini masih dikawin campur atau cross breeding untuk menghasilkan hewan dengan kualitas lebih baik.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+