Kualitas Udara Buruk, Apa Dampaknya pada Kesehatan? Ini Kata Dokter

Kompas.com - 25/06/2022, 12:02 WIB


KOMPAS.com - Kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya dilaporkan masuk dalam kategori sangat tidak sehat atau very unhealthy. Buruknya kualitas udara akibat polusi, dapat memberi dampak bagi kesehatan.

Data tersebut didapatkan dari catatan IQAir pada Senin (20/6/2022) pukul 06.00 WIB, dan kembali terjadi keesokan harinya, Selasa (21/6/2022) pukul 06.33 WIB.

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com edisi Kamis (23/6/2022) sejak 15 Juni hingga 21 Juni 2022 kualitas udara Kota Jakarta, berada di urutan teratas kota dengan polusi tertinggi di dunia pada pengukuran udara di pagi hari.

Data terkait tingginya polusi udara Jakarta juga dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut terjadi peningkatan PM2.5 di wilayah ini.

Meningkatnya polusi udara disebabkan oleh tingginya kelembapan udara, sehingga terjadi peningkatan proses adsorbsi -- perubahan wujud dari gas menjadi partikel atau dikenal dengan istilah secondary air pollutants.

Berkaitan dengan hal itu, Dokter Spesialis Paru dari Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI - Pusat Respirasi Nasional RS Persahabatan Jakarta, dr Efriadi Ismail, Sp.P (K), mengatakan polusi udara sangat berdampak pada kesehatan manusia.

Komponen polutan seperti PM2.5, ozon, sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), dan sebagainya dapat menimbulkan masalah kesehatan yang cukup beragam mulai dari akut hingga efek jangka panjang.

Baca juga: 4 Faktor Penyebab Buruknya Kualitas Udara Jakarta Menurut BMKG

Dampak buruknya kualitas udara bagi kesehatan

Adapun efek akut dari polusi udara, menurut Efriadi merupakan dampak yang terjadi secara langsung terutama pada kesehatan paru-paru, pernapasan, dan juga organ-organ lain.

"Ada iritasi di mata misalnya, mata merah. Kemudian hidungnya berair, bersin, terjadi juga ada iritasi di saluran pernapasan atas. Saluran pernapasan atas mulai dari hidung sampai kalau di laki-laki sampai ke jakun kira-kira," terang Efriadi kepada Kompas.com, Jumat (24/6/2022).

"Sampai bisa juga ada iritasi zat-zat polutan tadi ke saluran napas bagian bawah, sehingga terjadi peradangan kadang disertai nyeri tenggorokan, batuk, dan ada dahak biasanya," lanjutnya lagi.

Selain itu, polusi udara juga berisiko memperparah kondisi seseorang yang sebelumnya telah memiliki infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, atau mereka yang memiliki asma, penyakit jantung dan penyakit paru obstruksi kronik (PPOK).

PM2.5 sendiri merupakan kumpulan dari beberapa zat-zat yang ukurannya sangat kecil yakni sekitar 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut. Zat ini bisa masuk ke paru-paru, bahkan ke pembuluh darah.

"Sehingga bukan hanya paru, pada orang-orang dengan kerentanan penyakit jantung bisa saja mengalami serangan jantung. Kemudian ada yang namanya gas CO, gas CO bisa menimbulkan keracunan yang bersifat toksik dan mematikan," papar dr Efriadi menjelaskan dampak kualitas udara buruk terhadap kesehatan orang-orang rentan.

Baca juga: 14 Fakta Laporan Kualitas Udara Dunia 2021, Tak Ada Negara Penuhi Pedoman WHO

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.